Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Puisi dan Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi dan Cerpen. Tampilkan semua postingan
23.38
Angin di ujung waktu
mencakar angan
dalam jubah waktu
Tak pasti
Langit menangis
mendesah meratap nasib anak negeri
kehilangan ozon
tempat berpijak
kehilangan perawan kepercayaan
tempat berpegang
Gumi paer sapu jagat pun bertanya:
"Kemana arah parahu didayungkan
tuk membawa keselamatan diri?"
Anak negeri menjawab tanpa beban:
"Biarlah parahu kami kayuh
ke sebuah negeri tak bertuan
sebab kami bosan diperbudak sebagai objekan
oleh sebuah sistem mati yang dibudayakan
dalam jubah korupsi, kolusi, dan nepotisme
kami pun tak bisa bilang Tak!
kami selalu dihujani intruksi dengan alasan basi
kami selalu dicekoki logika-logika kebohongan
kami selalu dicekoki rumus-rumus palsu
hamparan nilai-nilai palsu
yang melahirkan ijazah dan jabatan palsu yang dibisniskan dan
tanpa pernah tahu akan maknanya
meski di rumah sendiri."
Mentari menjawab:
"Keringkan keringat kotor dalam pikiran kotormu dengan Cahyaku
Anak-anak negeri tatap sembilu wajahku
dalam setiap jengkal laju perahumu
di balik rimbun cahyaku akan terjawab
negeri yang kalian cari
ada dalam pikiran dan denyut jantung kalian
dalam tasbih kebenaran
dalam jubah ayat-ayat perlindungan
dalam reformasi birokrasi yang dimandulkan
dalam lembaran surat-surat sakti perjuangan yang berdarah
bagimu anak-anak negeri."
(Halil Subagiono: HGN 2014)
Biodata:
Nama : Halil Subagiono
Pekerjaan : Pengasuh Anak Negeri antikorupsi
Alamat : BTN Puyung Indah Blok A/8 Puyung
Praya Lombok Tengah Hp 081805280912
Refleksi Perjuangan Anak Negeri
Written By MAN 1 PRAYA on Rabu, 14 Oktober 2015 | 23.38
Angin di ujung waktu
mencakar angan
dalam jubah waktu
Tak pasti
Langit menangis
mendesah meratap nasib anak negeri
kehilangan ozon
tempat berpijak
kehilangan perawan kepercayaan
tempat berpegang
Gumi paer sapu jagat pun bertanya:
"Kemana arah parahu didayungkan
tuk membawa keselamatan diri?"
Anak negeri menjawab tanpa beban:
"Biarlah parahu kami kayuh
ke sebuah negeri tak bertuan
sebab kami bosan diperbudak sebagai objekan
oleh sebuah sistem mati yang dibudayakan
dalam jubah korupsi, kolusi, dan nepotisme
kami pun tak bisa bilang Tak!
kami selalu dihujani intruksi dengan alasan basi
kami selalu dicekoki logika-logika kebohongan
kami selalu dicekoki rumus-rumus palsu
hamparan nilai-nilai palsu
yang melahirkan ijazah dan jabatan palsu yang dibisniskan dan
tanpa pernah tahu akan maknanya
meski di rumah sendiri."
Mentari menjawab:
"Keringkan keringat kotor dalam pikiran kotormu dengan Cahyaku
Anak-anak negeri tatap sembilu wajahku
dalam setiap jengkal laju perahumu
di balik rimbun cahyaku akan terjawab
negeri yang kalian cari
ada dalam pikiran dan denyut jantung kalian
dalam tasbih kebenaran
dalam jubah ayat-ayat perlindungan
dalam reformasi birokrasi yang dimandulkan
dalam lembaran surat-surat sakti perjuangan yang berdarah
bagimu anak-anak negeri."
(Halil Subagiono: HGN 2014)
Biodata:
Nama : Halil Subagiono
Pekerjaan : Pengasuh Anak Negeri antikorupsi
Alamat : BTN Puyung Indah Blok A/8 Puyung
Praya Lombok Tengah Hp 081805280912
Label:
Puisi dan Cerpen
16.14
Tuhan Bolehkah Aku Jujur
Written By MAN 1 PRAYA on Jumat, 26 Desember 2014 | 16.14
Oleh Desi Wahyuningsih (XII IPS 1)
Assalammualykum Wr.wb
Puisi ini aku persembahkan untuk
Teman2ku yang pernah Merasakan
Bagaimana Suasana Hati sang Anak kost tetutama teman2ku DI MAN 1 PRAYA yang ngekost, Baca yang Pelan Ok.
judul : TUHAN BOLEHKAH AKU JUJUR ??
By : Desy Wahyuningsih
Tuhan, Bolehkah Aku Berkata Jujur ?
Tuhan, Semua Orang Pasti Tidak Selalu Berdusta, Dan Pernah Menyentuh dan disentuh oleh Kejujuran.
Tuhan, Firmanmu akan Kejujuran pasti tak akan Berani Aku Ragukan.
Tuhan, terlalu Bawah Derajatku untuk Menentang Nilai-Nilai Kejujuran.
Tuhan, Benarkah jujur itu adalah kata
yang mudah diucap, namun sulit untuk didapat?.
Tuhan, Percayalah Saat ini aku sudah
Mendapatkan kejujuran.
Tuhan, Aku Bukan hanya
Mendapatkannya, Namun, Aku Telah
merasakan genggaman-Genggaman
kejujuran yang membuatku TerDiam. Dan Mereka Juga Mustahil Tak Pernah
Menggenggamnya.
Tuhan, Genggaman itu Semakin Erat,
Genggaman itu Semakin Membuatku
berani Angkat Bicara !
tuhan, Detik-Detik Rayuan Suara
Lembutpun tidak mau Diam, Mereka
saling Beriringan dan Membisikku.
Tuhan, kini aku Semakin Berani Angkat Bicara Dengan Dorongan Bisikan-Bisikan itu !
Tuhan, Bukan hanya Aku, Tapi juga
Mereka.
Tuhan, Bolehkah aku hanya Menyentuh kejujuran tanpa Di iringi dengan genggaman?.
Tuhan, Bolehkah aku Terus Memberanikan diri untuk angkat Bicara ?
Tuhan, Dengarkan
Tuhan, Dengarkan
Tuhan, Dengarkan
Tuhan, JUJURKU BERKATA SAAT INI AKU SEDANG LAPAR
Hahahahahahahahahaha
Semoga Bermanfaat Kawan ;-)
Assalammualykum wr.wb
Assalammualykum Wr.wb
Puisi ini aku persembahkan untuk
Teman2ku yang pernah Merasakan
Bagaimana Suasana Hati sang Anak kost tetutama teman2ku DI MAN 1 PRAYA yang ngekost, Baca yang Pelan Ok.
judul : TUHAN BOLEHKAH AKU JUJUR ??
By : Desy Wahyuningsih
Tuhan, Bolehkah Aku Berkata Jujur ?
Tuhan, Semua Orang Pasti Tidak Selalu Berdusta, Dan Pernah Menyentuh dan disentuh oleh Kejujuran.
Tuhan, Firmanmu akan Kejujuran pasti tak akan Berani Aku Ragukan.
Tuhan, terlalu Bawah Derajatku untuk Menentang Nilai-Nilai Kejujuran.
Tuhan, Benarkah jujur itu adalah kata
yang mudah diucap, namun sulit untuk didapat?.
Tuhan, Percayalah Saat ini aku sudah
Mendapatkan kejujuran.
Tuhan, Aku Bukan hanya
Mendapatkannya, Namun, Aku Telah
merasakan genggaman-Genggaman
kejujuran yang membuatku TerDiam. Dan Mereka Juga Mustahil Tak Pernah
Menggenggamnya.
Tuhan, Genggaman itu Semakin Erat,
Genggaman itu Semakin Membuatku
berani Angkat Bicara !
tuhan, Detik-Detik Rayuan Suara
Lembutpun tidak mau Diam, Mereka
saling Beriringan dan Membisikku.
Tuhan, kini aku Semakin Berani Angkat Bicara Dengan Dorongan Bisikan-Bisikan itu !
Tuhan, Bukan hanya Aku, Tapi juga
Mereka.
Tuhan, Bolehkah aku hanya Menyentuh kejujuran tanpa Di iringi dengan genggaman?.
Tuhan, Bolehkah aku Terus Memberanikan diri untuk angkat Bicara ?
Tuhan, Dengarkan
Tuhan, Dengarkan
Tuhan, Dengarkan
Tuhan, JUJURKU BERKATA SAAT INI AKU SEDANG LAPAR
Hahahahahahahahahaha
Semoga Bermanfaat Kawan ;-)
Assalammualykum wr.wb
Label:
Puisi dan Cerpen
16.12
Pilih Salah Satu
Oleh Desi Wahyuiningsih ( XII IPS 1)
Cerita ini Terinspirasi dari salah Satu Guru Di MAN 1 PRAYA, pengalaman saya sendiri dan Maraknya RAZIA MOTOR yang terjadi Di kalangan Antar pelajar,
Cerita ini hanya piktif Belaka, Jangan Di tiru !
Hanya Sebagai Hiburan !!!!
Vivin: Kak Desy Razia Tie kak
Desi : Mbe ? Mbe ? Aduhhh Kelolosan
wah.
Pak Polisi : Stooooppppp!!!.
Desi : Assalammualykum wr.wb Bapak ( Salaman ).
Pak polisi : Mau kemana ini ?
Desi : Sehatm pelinggihm pak ?
Sampunm Medaran Bapak ?
Pak Polisi : Pulang sekolah Gak pakai
Sepatu, Temenmu yang di belakang gak pakai Jilbab lagi.
Desi : Mau ke Peken Renteng niki pak, Kan ada temen saya di belakang yang pakai Sepatu, Tetus masalah temen saya yang gak pakai jilbab itu, kan saya yang mewakili pak
Pak Polisi : Kamu ini ! KTP'mu mana ?
Desi : Vin Buka tas ambilin Kartu pelajar Di Dompet
Vivin : Ya alloh kak kelegerkh ni kak
arann.
Desi : Niki pak, Niki Kartu pelajar Ndek Bedoe KTP, Baru kmarin saya ulang tahun pak, Jadi saya Baru kemarin Berumur 17 tahun, Hehehe Muda pak, Masih Muda :-D.
pak polisi : ya Sudah, STNK'mu Mana ?.
Desi : Vin pembaitkh Kartu Smester Tie arik.
Vivin : Kan jelo Sabtu terakhirth smester kak ( Berbisik ).
Desi : ya udah, pasti pak polisinya ngira kita slesai smester Hari Senin kayak anak SMK.
Vivin : Takutkh haram.
Desi : Niki pak, Surat Kartu Smester tiang.
Pak polisi : mana STNK ?.
Desi : Gak ada pak gak saya bawa,
makanya saya kasih itu pak kan tadi
ceritanya telat terus buru2 pak jadinya lupa Bawa pak, Maafin ya pak (Nyengir).
Pak polisi : Ooh ya, Mana SIM ?
Desi : Gak punya SIM PAk, saya cuma
punya SIMMM.
Pak polisi : Mana bapak lihat ?.
Desi : Vin ambilin SIMMM tie lek
dompetkh.
Vivin : Aruan kakak takutko.
Desi : Niki pak SIMMM (Surat izin Masuk Mini Market).
pak Polisi : Mana SIM'mu ?.
Desi : Gak punya SIM pak, Saya cuma
punya SIMMM.
Pak Polisi : Anak mana ?.
Desi : Insya alloh anak bain Cucu adam pak.
Vivin : Hahahahahahaa.
Pak polisi : Hahaha Dari mana ?
Desi : Dari Dunia Menuju akhirat
Berharap singgah di surga kemudian
melihat senyum manis Bapak Tercinta.
Vivin : Hahaahaha.
Pak polisi : Hahahaha Ya sudah Boleh
jalan, Besok Suruh bapaknya yang
Menemani Buat SIM ya.
Desi : Siap siap siap Siap.
Pak polisi : Ya sudah Hidupkn Mesin dan Hati- hati di jalan.
Motor pun hidup . . . . . .
Pak polisi : Sebelum pergi bapak mau tanya kamu dulu.
Desi : Eeeee masih ada lagi ? tanya apa lagi pak?.
pak polisi : Besok kan kamu mau bikin SIM, Biar tidak keliru nantinya Bapak Mau kasih tau kamu Apa sih arti dan kepanjangan Dari SIM tersebut.
Desi : Ooohhh tak udah khawatir akan hal itu pak, tau saya pak.
pak polisi : Ooo, Apa kepanjangan dari SIM itu?.
Desi : SIM itu ( Surat Izin
Membunuhmu )
kaaaaaabbbboorrrrrrr . . . . Taker teeeee SIM, polisi ndekm tau pendak Razia endahn.
Nanti Bilangnya Razia ujung-ujungnya uang Rp. 50.0000.00 yang main, Pasrahkh tiang, Razia-Razia Bae aneh Basen Pak Munawar Kholil lek kelas XII ips 1
Cerita ini Terinspirasi dari salah Satu Guru Di MAN 1 PRAYA, pengalaman saya sendiri dan Maraknya RAZIA MOTOR yang terjadi Di kalangan Antar pelajar,
Cerita ini hanya piktif Belaka, Jangan Di tiru !
Hanya Sebagai Hiburan !!!!
Vivin: Kak Desy Razia Tie kak
Desi : Mbe ? Mbe ? Aduhhh Kelolosan
wah.
Pak Polisi : Stooooppppp!!!.
Desi : Assalammualykum wr.wb Bapak ( Salaman ).
Pak polisi : Mau kemana ini ?
Desi : Sehatm pelinggihm pak ?
Sampunm Medaran Bapak ?
Pak Polisi : Pulang sekolah Gak pakai
Sepatu, Temenmu yang di belakang gak pakai Jilbab lagi.
Desi : Mau ke Peken Renteng niki pak, Kan ada temen saya di belakang yang pakai Sepatu, Tetus masalah temen saya yang gak pakai jilbab itu, kan saya yang mewakili pak
Pak Polisi : Kamu ini ! KTP'mu mana ?
Desi : Vin Buka tas ambilin Kartu pelajar Di Dompet
Vivin : Ya alloh kak kelegerkh ni kak
arann.
Desi : Niki pak, Niki Kartu pelajar Ndek Bedoe KTP, Baru kmarin saya ulang tahun pak, Jadi saya Baru kemarin Berumur 17 tahun, Hehehe Muda pak, Masih Muda :-D.
pak polisi : ya Sudah, STNK'mu Mana ?.
Desi : Vin pembaitkh Kartu Smester Tie arik.
Vivin : Kan jelo Sabtu terakhirth smester kak ( Berbisik ).
Desi : ya udah, pasti pak polisinya ngira kita slesai smester Hari Senin kayak anak SMK.
Vivin : Takutkh haram.
Desi : Niki pak, Surat Kartu Smester tiang.
Pak polisi : mana STNK ?.
Desi : Gak ada pak gak saya bawa,
makanya saya kasih itu pak kan tadi
ceritanya telat terus buru2 pak jadinya lupa Bawa pak, Maafin ya pak (Nyengir).
Pak polisi : Ooh ya, Mana SIM ?
Desi : Gak punya SIM PAk, saya cuma
punya SIMMM.
Pak polisi : Mana bapak lihat ?.
Desi : Vin ambilin SIMMM tie lek
dompetkh.
Vivin : Aruan kakak takutko.
Desi : Niki pak SIMMM (Surat izin Masuk Mini Market).
pak Polisi : Mana SIM'mu ?.
Desi : Gak punya SIM pak, Saya cuma
punya SIMMM.
Pak Polisi : Anak mana ?.
Desi : Insya alloh anak bain Cucu adam pak.
Vivin : Hahahahahahaa.
Pak polisi : Hahaha Dari mana ?
Desi : Dari Dunia Menuju akhirat
Berharap singgah di surga kemudian
melihat senyum manis Bapak Tercinta.
Vivin : Hahaahaha.
Pak polisi : Hahahaha Ya sudah Boleh
jalan, Besok Suruh bapaknya yang
Menemani Buat SIM ya.
Desi : Siap siap siap Siap.
Pak polisi : Ya sudah Hidupkn Mesin dan Hati- hati di jalan.
Motor pun hidup . . . . . .
Pak polisi : Sebelum pergi bapak mau tanya kamu dulu.
Desi : Eeeee masih ada lagi ? tanya apa lagi pak?.
pak polisi : Besok kan kamu mau bikin SIM, Biar tidak keliru nantinya Bapak Mau kasih tau kamu Apa sih arti dan kepanjangan Dari SIM tersebut.
Desi : Ooohhh tak udah khawatir akan hal itu pak, tau saya pak.
pak polisi : Ooo, Apa kepanjangan dari SIM itu?.
Desi : SIM itu ( Surat Izin
Membunuhmu )
kaaaaaabbbboorrrrrrr . . . . Taker teeeee SIM, polisi ndekm tau pendak Razia endahn.
Nanti Bilangnya Razia ujung-ujungnya uang Rp. 50.0000.00 yang main, Pasrahkh tiang, Razia-Razia Bae aneh Basen Pak Munawar Kholil lek kelas XII ips 1
Label:
Puisi dan Cerpen
16.11
Hidup adalah pilihan
Maka tentukanlah pilihanmu
Sebelum pilihan menentukan hidupmu
Jangan pernah katakana apa yang kamu ketahui
Tapi ketahuilah apa yang kamu katakan
Cinta datang bukan karena kemauan tetapi karena kecocokan
Uang bukan segalanya
Tetapi segalanya butuh uang
Hidup ini tidak mudah
Tapi tak ada yang tak mungkin dan tak ada yang sulit
Masalah adalah tanda
Bahwa kita seamakin dekat dengan kesuksesan
Jadi orang penting memang baik
Tapi menjadi orang baik jauh lebih penting
Hidup adalah Pilihan
Oleh Selamat Anwar Sadat
Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam IAIN Mataram & Alumni MAN 1 Praya Tahun 2011
Hidup adalah pilihan
Maka tentukanlah pilihanmu
Sebelum pilihan menentukan hidupmu
Jangan pernah katakana apa yang kamu ketahui
Tapi ketahuilah apa yang kamu katakan
Cinta datang bukan karena kemauan tetapi karena kecocokan
Uang bukan segalanya
Tetapi segalanya butuh uang
Hidup ini tidak mudah
Tapi tak ada yang tak mungkin dan tak ada yang sulit
Masalah adalah tanda
Bahwa kita seamakin dekat dengan kesuksesan
Jadi orang penting memang baik
Tapi menjadi orang baik jauh lebih penting
Label:
Puisi dan Cerpen
16.09
Pagi nan cerah menyinari pelupuk mata,,,tergores rasa bahagia menyelimuti hati gadis elok nan ayu.Di bawah kesejukan mentari pagi, ia tersembari duduk penuh hayalan, terdengar kicauan burung nan riang di atas semerbak kebahagiaan.Diantara cintanya dengan seorang pria yang hidup serba kekurangan,namun bagi gadis elok nan ayu itu, kekurangan seorang pria adalah suatu hal yang biasa yang harus ia terima.Pria itu bernama "ZAIDAN"
Di desanya gadis itu terkenal berwibawa," siapa yang tidak tau sosok wanita seperti dia" di desanya dia adalah seorang wanita yang lemah lembut seperti namanya yaitu "LATIFA"
Kehidupan gadis ini tidak jauh seperti kehidupan laki laki yang ia dambakan dalam hidupnya "penuh kesederhanaan"
Perjalanan cinta tanpa pertemuan yang selama ini dia jalani bersama pujaan hati.Namun ia tak pernah mengeluh dengan semua itu,karna di antara mereka memiliki misi cinta yang suci yaitu "Seindah indah cinta adalah tanpa pertemuan" dan kenikmatan cinta adalah cinta yang lahir atas restu dari sang maha pencipta"
Bagi mereka cinta dan mencintai itu tidak salah.Karna itu merupakan sebuah ekspresi yang lahir dan fitrah cinta di dalam diri mereka.Namun yang terpenting adalah bagaimana dirinya me- manage cinta sehingga tepat pada fungsinya.Oleh karena itu bagi mereka cinta itu butuh sebuah menejemen bukan pertemuan.
****
Kicauan burung terdengar merdu bersahutan,,,,ia melewati hari yang panjang penuh penantian,,membalut kerinduan yang teramat dalam pada sang kekasih tercinta. Latifa gadis elok itu termenung di balik serambi pinggir kamarnya,ia merenungi kerinduannya dan berpikir, "apakah yang harus aku lakukan tuk mengobati rasa rindu ini padamu wahai kekasihku" sambil meneteskan air mata, ia lalui kerinduaan itu dengan kesetiaan dan kesabaran.
Waktu terus berlalu,kerindukan semakin mendalam di rasakan latifa,tiba tiba getaran hp terdengar di bawah selimut yang tertata rapi di tempat tidurnya,dan ketika itupun tanpa berpikir panjang, latifa langsung beranjak dari tempat duduknya,diiringi perasaan hati yang bergemetar penuh rasa bahagia,karna keyakinanya sang kekasih menelponnya.
Ia langsung mengangkatnya dan sambil tersenyum, seraya mengucapkan
" assalamualaikum ya Zaidan"
Mendengar ucapan salam yang terucap dari bibir manis latifa, Zaidan pun tersenyum dan seraya menjawabnya.
"wa'alaikumussalam ya Latifa" dengan perasaan malu ia bertanya "
"gimanakah kabarmu wahai pujaan hatiku" Dengan bahagia yang tergores dalam Qolbunya iapun menjawab
" bi hoir walhamdulillah sang dambaan hatiku"?
" Iapun kembali bertanya pada Zaidan!"
" kalo" kamu gimana kabarmu ya Zaidan?"
" Zaidanpun menjawab "Alhamdulillah bi hoir ya latifa"
Waktu terus berlalu,, asyiknya ngobrol semakin lama semakin terasa,mengobati rasa rindu yang sekian lama tertata rapi di dalam hati latifa.Tak di sadari ngobrol berlangsung selama 1 jam di antara mereka,di iringi rasa bahagia,senyuman yang terkesan manais dalam hati.
Saat detik detik akhir telponnya,Zaidan dengan keyakinannya ia mengucapkan pada latifa "faa aku sangat mencintai mu,,tiada lain cintaku ini tertata rapi dalam hati semata karna Allah,meski di antara kita jarang bertemu,namun yakinlah faa,hati ini selalu merindukanmu,dalam doaku selalu hadir namamu,jagalah hati ini ya faa,yakinlah bahwa Allah akan mempertemukan kita besok ketika waktu telah tiba,,,jaga dirimu baik baik ya,,, aku mencintaimu,mendengar kata Zaidan yang penuh kasih sayang,,berlinang air mata jatuh di pipi mungil latifa,,sebelum ia membalas ucapan terakhir darinya,,,terus terbayang apa yang di bilang Zaidan itu,ia terus menangis,dimana tangisan itu adalah tangis bahagia.Dalam hatinya ia semakin merasa kagum terhadap sosok solehnya pria yang ia dambakan,
Air mata terus berlinang di mata nan sipit indahnya,,dalam keadaan menangis,,ia berkata yaa Zaidan,,kekasih yang aku dambakan,,mungkin dengan lisanku ini tak kan cukup untuk ku curahkan isi hati ku yang sebenarnya kepadamu,,namun satu hal yang harus kau tau,,aku mencintaimu juga,dimana rasa cinta ini aku curahkan kepadamu tiada lain karna Allah semata,dalam doaku juga selalu hadir namamu,,,aku selalu meminta,,agar cinta kita mendapat restu dari sang maha cinta,yang akan mempertemukan kita saat tiba waktunya.
Mendengar kata sang kekasih, Zaidan pun ikut meneteskan air mata,,padahal dalam hidupnya ia adalah sosok pria yang paling sulit meneteskan air mata,,namun ketika mendengarkan kata kekasih tercintanya,namun karna rasa syukur dan kekagumannya ia memiliki seorang kekasih seperti Latifa,tanpa di sadari iapun meneteskan air mata .
Waktu terus bergulir,, teriring suasana tangis di antara sepasang kekasih itu,,tiba tiba terdengar panggilan ibu di luar rumah,,dan ketika itupun Latifa meminta izin pada Zaidan untuk menutup telponnya,dengan suaranya yang lemah lembut, ia berkata!
"ya Zaidan,sampai disini dulu ya pembicaraan kita,,tiag di panggil sama ibu"
"nanti kita lanjutkan lagi gich??
"Gich Latifa"
"nanti saya telpon lagi"
"jaga dirimu baik baik,dan percayalah aku mencintaimu karna Allah faa"
"Assalamualaikum wr wb"
Dengan perasaan yang berbunga bunga iapun menutup telponnya,seraya menjawab!
"gich dannn, saya mencintaimu juga karna Allah"
"Wa'alaikumussalam wr wb"
Ketika salam telah terucap dari bibir merahnya,ketidak tenangan hatinya yang tiba tiba di rasakan Latifa.Ia berlari menemui ibunya dengan gugahan hati yang tidak tenang,seolah olah dalam hatinya ia merasa ada hal buruk yang mungkin terjadi pada dirinya.
Dengan sekejap waktu terlewati,dengan muka penuh takut ia pun datang menemui ibunya dan seraya berkata?
"ia ibu,,, ada apa!! koq manggilnya teriak teriak gitu?
Melihat ekspresi wajah ibu yang seolah olah tampak marah dan kecewa pada dirinya,,iapun semakin takut,jika ibunya benar benar marah kepadanya.
"maaf ya faa,,tadi ibu dak sengaja lewat di depan pintu kamarmu,mendengar pembicaraanmu dengan seorang yang mungkin ibu belum kenal"? apa bener faaa? kata sang ibu.
Owh iyaa buu,,,tadi memang ada seseorang yang telpon saya ,,yang memang ibu belum kenal?
Siapa itu nak?
Anukkkk buukk….?.
Siapa nakk? (seru ibu kembali ).
Jawablah ibu dengan jujur nak,apakah sekarang kamu punya temen deket?
Hemmmm….. Iyaa bukkk?
Siapa itu nak? Dan darimanakah dia?
Latifa dengan perasaan takut, mengatakan yang sebenarnya pada ibunya,karna selama ini ia tidak di perbolehkan pacaran sebelum wisuda,dengan tujuan agar ia lebih terfokus sekolah dulu.
Latifaa hanya bisa menunduk ke bawah,dan kembali melihat wajah ibu yang kelihatan khawatir kepadanya.
Kenapa diam nakk? Ayo jawab ibu,,,
Emmmmm,,,iya buuu,,tapi sebelumnya tiang minta maaf pada ibu,,karna selama ini tiang gak pernah cerita sama ibu,,yang telpon saya tadi itu namanya Zaidan buu? (jawab Latifa dengan perasaan takut)
Owhhhh jadinya begitu…?
Nakk selama ini kan kamu tau betapa besar sayang,cintanya ibu sama kamu ,dan berapa kali ibu berpesan sama kamu,janganlah terlalu dekat sama laki laki,apalagi sampai kamu berpacaran,ibu bilang begini karna ibu kawatir sama kamu nak,,kamu adalah tulang punggung bagi adekmu kelak ,kamu adalah anak perempuan satu satunya ibu,dan aku ingin kamu tumbuh jadi anak yang bisa membanggakan kedua orang tuamu.
Ibu tau, sekarang kamu udah besar,sudah bisa menentukan arah kehidupan mu.
"(kata sang ibu sambil mengeluskepala anak kesayangannya)"
Mendengar kata ibunya,Latifa semakin meneteskan air mata,dan iapun langsung memeluknya dengan penuh kasih sayang,seraya memohon maaf atas kesalahan yang pernah ia lakukan sebelumnya.
Ibuuu maafkan Latifa,aku memang salah selama ini buu,,tapi semua ku lakukan ini bukanlah untuk membuatmu kecewa buu,izinkan aku untuk membuktikan pada ibu kalo aku pasti bisa jadi anak yang kau banggakan.
Berlinang air mata diantara ibu dan anak.Mendengar perkataan anaknya yang di iringi isak tangis,ibupun seraya memeluk Latifa dan berkata "yaa nak tidak apa apa" ibu yakin kamu adalah anak yang bisa membanggakan ibu dan bapak,teruslah berjuang demi masa depanmu ya nak,,ibu mencintaimu.
****
Ke esokan harinya, seperti biasa ba'da solat asar Zaidan kembali menelpon latifa,,untuk sekedar menanyakan kabar sang pujaan hati.
"Assalamualaikum ya Latifa "
( kata Zaedan membuka percakapan)
"Wa'alaikumussalam ya Zaedan "
"Gimana kabarmu ya latifa?" (Tanyak Zaedan)
"Alhamdulillah baik ya Zaidan" kamu gimana?" (Tanya Latifa sambil tersenyum)
"Sekarang kamu lagi apa faa"?
"Tadi aku lagi belajar" (jawab Latifa)
"Ohh yea faaa,,,keadaan keluarga di rumah gimana"?
"Alhamdulillah keadaan keluarga baik baik saja"
"Kalo keluarga disana, kabarnya gimana dannnn?" (Tanya Latifa penuh kelembutan)
"Alhamdulillah baik baik juga faaa?"
Dann? ada yang perlu saya sampaikan sama kamu mengenai hubungan kita?
(Kata Latifa dengan suara yang lemah lembut)
Dengan perasaan yang agak penasaran,Zaedan menjawab,yaa ada apa faa,kelihatannya serius banget,,
Gini dann…..kemarin pas kita nelpon itu,,ternyata pembicaraan kita di dengar sama ibu.
Denga nada terkejut Zaidan berkata "Ohh yeaa,terus ibu bilang apa faa?"
Ibu bilang,untuk saat ini saya di suruh agar lebih focus untuk sekolah dulu dannn,
Saya tidak di izinkan untuk memikirkan hal yang lain selain sekolah,apalagi memikirkan laki laki,saya harap kamu mengerti itu dannnn?
Dengan suara yang terbata bata dan seolah olah memaksakan ucapannya,Zaedan menjawab!!
Apa kah maksudmu kita akan mengakhiri hubungan yang selama ini kita jalani faa.
Bukan maksud saya seperti itu dannn,tapi saya mau kita membagi waktu untuk nelpon dan belajar,supaya di samping ada waktu kita belajar dan ada waktu kita untuk nelpon. (jawab Latifa)
Latifa kemudian melanjutkan perkataannya,saya harap kamu tidak kecewa dengan keputusanku ini dann?
Ini saya lakukan,supaya nantinya kita tidak menyesal dikemudian hari,karena melanggar nasehat dari ibuu.Aku hanya ingin jadi anak yang berbakti untuk mereka,aku tak ingin membuat ibu dan bapak kecewa. (jelas Latifa dengan hati yang gelisah)
Kalo memang itu keputusanmu,,,baiklah faa aku akan berusaha seperti apa yang kamu inginkan,walau saya merasa berat untuk lakukan itu.
Tapii insyaallah aku akan berusaha menerimanya!!! (jawab Zaedan)
Hampir 2 tahun hubungan Zaedan dan Latifa di laluinya,hanya lewat telpon dan kata kata ,tanpa pernah bertemu,namun hubungan mereka bisa tetap bertahan,walau kerinduan yang selalu di rasakan mereka berdua begitu mendalam.Meskipun begitu banyak konflik yang mereka berdua lewati,namun mereka tetap bisa melaluinya,karna cinta mereka di dasari dengan kejujuran dan kepercayaan. Bagi mereka hanya kejujuran dan kepercayaan yang bisa membuat suatu hubungan bisa bertahan lama.
Meskipun sekarang mereka jarang berkomunikasi,namun hal itu tidak membuat rasa cinta mereka berkurang,tapi dengan hal itu cinta mereka semakin kuat, karna mereka yakin bahwa Allah punya rencana terbaik demi bertahannya hubungan mereka.
Seperti perkataan imam al Gazali:
" Bahwa ukhuwah itu bukan pada indahnya pertemuan,tetapi pada ingatan seseorang terhadap" saudaranya di dalam doanya.
Perkataan dari imam al Gazali tersebut,menjadi pegangan dan pedoman mereka dalam menjalani hubungan.Untuk melahirkan sebuah cinta yang sejati yang insyaallah di restui sang maha cinta yaitu "ALLAH SWT"
Cinta mereka,bisa bertahan karena mereka berdua saling mencintai dari hati,bukan karena suatu pandangan,maupun kelebihan, yang ada pada diri mereka,akan tetapi cukuplah agama sebagai pengikat kasih antara mereka.
Janji Allah selalu mereka pegang dalam membangun misi cinta yang abadi yaitu :
" wanita yang baik untuk lelaki yang baik,dan sebaliknya"
Cinta antara Latifa dan Zaedan,bertahan dengan hanya melalui kata kata yang di ucapkan,
karna :
"Keasyikan cinta tidak datang hanya dengan memandang,akan tetapi cinta di capai dengan kata" kata yang mengasyikan
***TAMAT***
Cinta Lewat Bahasa
Oleh Nurmila Jumiati (XII Keagamaan)
Pagi nan cerah menyinari pelupuk mata,,,tergores rasa bahagia menyelimuti hati gadis elok nan ayu.Di bawah kesejukan mentari pagi, ia tersembari duduk penuh hayalan, terdengar kicauan burung nan riang di atas semerbak kebahagiaan.Diantara cintanya dengan seorang pria yang hidup serba kekurangan,namun bagi gadis elok nan ayu itu, kekurangan seorang pria adalah suatu hal yang biasa yang harus ia terima.Pria itu bernama "ZAIDAN"
Di desanya gadis itu terkenal berwibawa," siapa yang tidak tau sosok wanita seperti dia" di desanya dia adalah seorang wanita yang lemah lembut seperti namanya yaitu "LATIFA"
Kehidupan gadis ini tidak jauh seperti kehidupan laki laki yang ia dambakan dalam hidupnya "penuh kesederhanaan"
Perjalanan cinta tanpa pertemuan yang selama ini dia jalani bersama pujaan hati.Namun ia tak pernah mengeluh dengan semua itu,karna di antara mereka memiliki misi cinta yang suci yaitu "Seindah indah cinta adalah tanpa pertemuan" dan kenikmatan cinta adalah cinta yang lahir atas restu dari sang maha pencipta"
Bagi mereka cinta dan mencintai itu tidak salah.Karna itu merupakan sebuah ekspresi yang lahir dan fitrah cinta di dalam diri mereka.Namun yang terpenting adalah bagaimana dirinya me- manage cinta sehingga tepat pada fungsinya.Oleh karena itu bagi mereka cinta itu butuh sebuah menejemen bukan pertemuan.
****
Kicauan burung terdengar merdu bersahutan,,,,ia melewati hari yang panjang penuh penantian,,membalut kerinduan yang teramat dalam pada sang kekasih tercinta. Latifa gadis elok itu termenung di balik serambi pinggir kamarnya,ia merenungi kerinduannya dan berpikir, "apakah yang harus aku lakukan tuk mengobati rasa rindu ini padamu wahai kekasihku" sambil meneteskan air mata, ia lalui kerinduaan itu dengan kesetiaan dan kesabaran.
Waktu terus berlalu,kerindukan semakin mendalam di rasakan latifa,tiba tiba getaran hp terdengar di bawah selimut yang tertata rapi di tempat tidurnya,dan ketika itupun tanpa berpikir panjang, latifa langsung beranjak dari tempat duduknya,diiringi perasaan hati yang bergemetar penuh rasa bahagia,karna keyakinanya sang kekasih menelponnya.
Ia langsung mengangkatnya dan sambil tersenyum, seraya mengucapkan
" assalamualaikum ya Zaidan"
Mendengar ucapan salam yang terucap dari bibir manis latifa, Zaidan pun tersenyum dan seraya menjawabnya.
"wa'alaikumussalam ya Latifa" dengan perasaan malu ia bertanya "
"gimanakah kabarmu wahai pujaan hatiku" Dengan bahagia yang tergores dalam Qolbunya iapun menjawab
" bi hoir walhamdulillah sang dambaan hatiku"?
" Iapun kembali bertanya pada Zaidan!"
" kalo" kamu gimana kabarmu ya Zaidan?"
" Zaidanpun menjawab "Alhamdulillah bi hoir ya latifa"
Waktu terus berlalu,, asyiknya ngobrol semakin lama semakin terasa,mengobati rasa rindu yang sekian lama tertata rapi di dalam hati latifa.Tak di sadari ngobrol berlangsung selama 1 jam di antara mereka,di iringi rasa bahagia,senyuman yang terkesan manais dalam hati.
Saat detik detik akhir telponnya,Zaidan dengan keyakinannya ia mengucapkan pada latifa "faa aku sangat mencintai mu,,tiada lain cintaku ini tertata rapi dalam hati semata karna Allah,meski di antara kita jarang bertemu,namun yakinlah faa,hati ini selalu merindukanmu,dalam doaku selalu hadir namamu,jagalah hati ini ya faa,yakinlah bahwa Allah akan mempertemukan kita besok ketika waktu telah tiba,,,jaga dirimu baik baik ya,,, aku mencintaimu,mendengar kata Zaidan yang penuh kasih sayang,,berlinang air mata jatuh di pipi mungil latifa,,sebelum ia membalas ucapan terakhir darinya,,,terus terbayang apa yang di bilang Zaidan itu,ia terus menangis,dimana tangisan itu adalah tangis bahagia.Dalam hatinya ia semakin merasa kagum terhadap sosok solehnya pria yang ia dambakan,
Air mata terus berlinang di mata nan sipit indahnya,,dalam keadaan menangis,,ia berkata yaa Zaidan,,kekasih yang aku dambakan,,mungkin dengan lisanku ini tak kan cukup untuk ku curahkan isi hati ku yang sebenarnya kepadamu,,namun satu hal yang harus kau tau,,aku mencintaimu juga,dimana rasa cinta ini aku curahkan kepadamu tiada lain karna Allah semata,dalam doaku juga selalu hadir namamu,,,aku selalu meminta,,agar cinta kita mendapat restu dari sang maha cinta,yang akan mempertemukan kita saat tiba waktunya.
Mendengar kata sang kekasih, Zaidan pun ikut meneteskan air mata,,padahal dalam hidupnya ia adalah sosok pria yang paling sulit meneteskan air mata,,namun ketika mendengarkan kata kekasih tercintanya,namun karna rasa syukur dan kekagumannya ia memiliki seorang kekasih seperti Latifa,tanpa di sadari iapun meneteskan air mata .
Waktu terus bergulir,, teriring suasana tangis di antara sepasang kekasih itu,,tiba tiba terdengar panggilan ibu di luar rumah,,dan ketika itupun Latifa meminta izin pada Zaidan untuk menutup telponnya,dengan suaranya yang lemah lembut, ia berkata!
"ya Zaidan,sampai disini dulu ya pembicaraan kita,,tiag di panggil sama ibu"
"nanti kita lanjutkan lagi gich??
"Gich Latifa"
"nanti saya telpon lagi"
"jaga dirimu baik baik,dan percayalah aku mencintaimu karna Allah faa"
"Assalamualaikum wr wb"
Dengan perasaan yang berbunga bunga iapun menutup telponnya,seraya menjawab!
"gich dannn, saya mencintaimu juga karna Allah"
"Wa'alaikumussalam wr wb"
Ketika salam telah terucap dari bibir merahnya,ketidak tenangan hatinya yang tiba tiba di rasakan Latifa.Ia berlari menemui ibunya dengan gugahan hati yang tidak tenang,seolah olah dalam hatinya ia merasa ada hal buruk yang mungkin terjadi pada dirinya.
Dengan sekejap waktu terlewati,dengan muka penuh takut ia pun datang menemui ibunya dan seraya berkata?
"ia ibu,,, ada apa!! koq manggilnya teriak teriak gitu?
Melihat ekspresi wajah ibu yang seolah olah tampak marah dan kecewa pada dirinya,,iapun semakin takut,jika ibunya benar benar marah kepadanya.
"maaf ya faa,,tadi ibu dak sengaja lewat di depan pintu kamarmu,mendengar pembicaraanmu dengan seorang yang mungkin ibu belum kenal"? apa bener faaa? kata sang ibu.
Owh iyaa buu,,,tadi memang ada seseorang yang telpon saya ,,yang memang ibu belum kenal?
Siapa itu nak?
Anukkkk buukk….?.
Siapa nakk? (seru ibu kembali ).
Jawablah ibu dengan jujur nak,apakah sekarang kamu punya temen deket?
Hemmmm….. Iyaa bukkk?
Siapa itu nak? Dan darimanakah dia?
Latifa dengan perasaan takut, mengatakan yang sebenarnya pada ibunya,karna selama ini ia tidak di perbolehkan pacaran sebelum wisuda,dengan tujuan agar ia lebih terfokus sekolah dulu.
Latifaa hanya bisa menunduk ke bawah,dan kembali melihat wajah ibu yang kelihatan khawatir kepadanya.
Kenapa diam nakk? Ayo jawab ibu,,,
Emmmmm,,,iya buuu,,tapi sebelumnya tiang minta maaf pada ibu,,karna selama ini tiang gak pernah cerita sama ibu,,yang telpon saya tadi itu namanya Zaidan buu? (jawab Latifa dengan perasaan takut)
Owhhhh jadinya begitu…?
Nakk selama ini kan kamu tau betapa besar sayang,cintanya ibu sama kamu ,dan berapa kali ibu berpesan sama kamu,janganlah terlalu dekat sama laki laki,apalagi sampai kamu berpacaran,ibu bilang begini karna ibu kawatir sama kamu nak,,kamu adalah tulang punggung bagi adekmu kelak ,kamu adalah anak perempuan satu satunya ibu,dan aku ingin kamu tumbuh jadi anak yang bisa membanggakan kedua orang tuamu.
Ibu tau, sekarang kamu udah besar,sudah bisa menentukan arah kehidupan mu.
"(kata sang ibu sambil mengeluskepala anak kesayangannya)"
Mendengar kata ibunya,Latifa semakin meneteskan air mata,dan iapun langsung memeluknya dengan penuh kasih sayang,seraya memohon maaf atas kesalahan yang pernah ia lakukan sebelumnya.
Ibuuu maafkan Latifa,aku memang salah selama ini buu,,tapi semua ku lakukan ini bukanlah untuk membuatmu kecewa buu,izinkan aku untuk membuktikan pada ibu kalo aku pasti bisa jadi anak yang kau banggakan.
Berlinang air mata diantara ibu dan anak.Mendengar perkataan anaknya yang di iringi isak tangis,ibupun seraya memeluk Latifa dan berkata "yaa nak tidak apa apa" ibu yakin kamu adalah anak yang bisa membanggakan ibu dan bapak,teruslah berjuang demi masa depanmu ya nak,,ibu mencintaimu.
****
Ke esokan harinya, seperti biasa ba'da solat asar Zaidan kembali menelpon latifa,,untuk sekedar menanyakan kabar sang pujaan hati.
"Assalamualaikum ya Latifa "
( kata Zaedan membuka percakapan)
"Wa'alaikumussalam ya Zaedan "
"Gimana kabarmu ya latifa?" (Tanyak Zaedan)
"Alhamdulillah baik ya Zaidan" kamu gimana?" (Tanya Latifa sambil tersenyum)
"Sekarang kamu lagi apa faa"?
"Tadi aku lagi belajar" (jawab Latifa)
"Ohh yea faaa,,,keadaan keluarga di rumah gimana"?
"Alhamdulillah keadaan keluarga baik baik saja"
"Kalo keluarga disana, kabarnya gimana dannnn?" (Tanya Latifa penuh kelembutan)
"Alhamdulillah baik baik juga faaa?"
Dann? ada yang perlu saya sampaikan sama kamu mengenai hubungan kita?
(Kata Latifa dengan suara yang lemah lembut)
Dengan perasaan yang agak penasaran,Zaedan menjawab,yaa ada apa faa,kelihatannya serius banget,,
Gini dann…..kemarin pas kita nelpon itu,,ternyata pembicaraan kita di dengar sama ibu.
Denga nada terkejut Zaidan berkata "Ohh yeaa,terus ibu bilang apa faa?"
Ibu bilang,untuk saat ini saya di suruh agar lebih focus untuk sekolah dulu dannn,
Saya tidak di izinkan untuk memikirkan hal yang lain selain sekolah,apalagi memikirkan laki laki,saya harap kamu mengerti itu dannnn?
Dengan suara yang terbata bata dan seolah olah memaksakan ucapannya,Zaedan menjawab!!
Apa kah maksudmu kita akan mengakhiri hubungan yang selama ini kita jalani faa.
Bukan maksud saya seperti itu dannn,tapi saya mau kita membagi waktu untuk nelpon dan belajar,supaya di samping ada waktu kita belajar dan ada waktu kita untuk nelpon. (jawab Latifa)
Latifa kemudian melanjutkan perkataannya,saya harap kamu tidak kecewa dengan keputusanku ini dann?
Ini saya lakukan,supaya nantinya kita tidak menyesal dikemudian hari,karena melanggar nasehat dari ibuu.Aku hanya ingin jadi anak yang berbakti untuk mereka,aku tak ingin membuat ibu dan bapak kecewa. (jelas Latifa dengan hati yang gelisah)
Kalo memang itu keputusanmu,,,baiklah faa aku akan berusaha seperti apa yang kamu inginkan,walau saya merasa berat untuk lakukan itu.
Tapii insyaallah aku akan berusaha menerimanya!!! (jawab Zaedan)
Hampir 2 tahun hubungan Zaedan dan Latifa di laluinya,hanya lewat telpon dan kata kata ,tanpa pernah bertemu,namun hubungan mereka bisa tetap bertahan,walau kerinduan yang selalu di rasakan mereka berdua begitu mendalam.Meskipun begitu banyak konflik yang mereka berdua lewati,namun mereka tetap bisa melaluinya,karna cinta mereka di dasari dengan kejujuran dan kepercayaan. Bagi mereka hanya kejujuran dan kepercayaan yang bisa membuat suatu hubungan bisa bertahan lama.
Meskipun sekarang mereka jarang berkomunikasi,namun hal itu tidak membuat rasa cinta mereka berkurang,tapi dengan hal itu cinta mereka semakin kuat, karna mereka yakin bahwa Allah punya rencana terbaik demi bertahannya hubungan mereka.
Seperti perkataan imam al Gazali:
" Bahwa ukhuwah itu bukan pada indahnya pertemuan,tetapi pada ingatan seseorang terhadap" saudaranya di dalam doanya.
Perkataan dari imam al Gazali tersebut,menjadi pegangan dan pedoman mereka dalam menjalani hubungan.Untuk melahirkan sebuah cinta yang sejati yang insyaallah di restui sang maha cinta yaitu "ALLAH SWT"
Cinta mereka,bisa bertahan karena mereka berdua saling mencintai dari hati,bukan karena suatu pandangan,maupun kelebihan, yang ada pada diri mereka,akan tetapi cukuplah agama sebagai pengikat kasih antara mereka.
Janji Allah selalu mereka pegang dalam membangun misi cinta yang abadi yaitu :
" wanita yang baik untuk lelaki yang baik,dan sebaliknya"
Cinta antara Latifa dan Zaedan,bertahan dengan hanya melalui kata kata yang di ucapkan,
karna :
"Keasyikan cinta tidak datang hanya dengan memandang,akan tetapi cinta di capai dengan kata" kata yang mengasyikan
***TAMAT***
Label:
Puisi dan Cerpen
02.06
Gumi Paer Rambitan
Written By MAN 1 PRAYA on Rabu, 08 Oktober 2014 | 02.06
Oleh Halil Subagiono
Guru Bahasa Indonesia MAN 1 Praya
Sepi mencekam, kala kelam semakin angkuhnya menelan
kepekatan malam. Sepintas lalu terdengar suara rumpun bambu riuh memuji alam.
Angin berenang-renang di atas hamparan gora yang menguning. Gonggong pun ikut
menyumbangkan suaranya yang merdu. Namun cekikan bocah bermain petak umpat tak
pernah terdengar. Musnah tertelan gelombang kepekatan sunyi.
Aku duduk di sudut sepi. Di bawah langit, di kaki bukit, di sebuah desa kecil terpencil. Malam tidur lelap mendengkur diselimuti rasa damai bahkan suasana mati. Orang-orang telah kehilangan separuh napasnya dalam kehangatan karena kerja dalam keseharian tak pernah selesai. Malam kian mendengkur. Sepi kian ganas mencekam pekat dalam kesendirian. Tinggal kerdipan lampu-lampu minyak rumah penduduk di atas bukit nun jauh di sana terlihat bagai kerdipan bintang-bintang yang bertaburan di langit.
Aku masih duduk bertahan pada separuh malam di sudut sunyi. Di bawah langit, di kaki bukit, di sebuah desa kecil terpenpencil. Di desa inilah aku sandarkan segenap harap, letih, penat, dan gundah-gulana dari suasana hiruk pikuk kehidupan kota. Aku sengaja datang ke desa ini untuk menghabiskan masa liburan di rumah tua, milik perempuan tua yang aku panggil ninik. Suasana kehidupan di sini udaranya segar, jauh dari debu, polusi, dan erosi moral anak-anak negeri. Ditambah lagi dengan keindahan hamparan sawah ladang dengan padi gora yang menguning keemasan. Sungguh menakjubkan! Menambah rasa syukur dan kecintaanku kepada tanah air dan sang pencipta.
”Lale, sudah larut malam. Tidurlah! Tidak baik untuk kesehatanmu”.
Terdengar suara ninik lembut memecah suasana sunyi dan membangunkan lamunanku.
”Sebentar nik!”, sahutku pendek.
”Di luar dingin. Masuklah nanti kamu masuk angin!,” suara ninik terasa menekan dan terasa menyentuh hati. Aku pandang kelap-kelip bintang di kejauhan sana. Di antara gumpalan awan kelabu terlihat bulan sabit yang pucat pasi seolah enggan melangkah menyinari bukit-bukit bebatuan dan alam kehidupan desa. Terbetik seutas rindu pada mamiq dan inaq tercinta di alam sana. Aku makin meranggas dalam sunyi. Tubuhku kaku dan beku dibelenggu rasa. Enggan rasanya kakiku melangkah memasuki bilik kamar yang remang diterpa sinar lampu teplok. Enggan rasanya mataku terpejam melewati malam pertama. Namun, puji syukur tiba-tiba aku dengar sayup-sayup tembang asmaradhana yang menggoda jiwa dan rasa dari balik-bilik kamar yang terbuat dari anyaman bambu. Jiwaku kalah dan terkapar dengan larik-larik tembang asmaradhana yang begitu magis dan romantis berbau mitos. Akhirnya jiwaku terbang mengarungi samudera mimpi yang indah.
Pagi yang cerah. Tersembul di balik bukit sang cahaya raksasa dengan senyum manja dan memamerkan keangkuhannya. Air ke luar dari sela-sela bebatuan cadas terasa sejuk dan segar membasahi kulit. Percikan-percikan air memental di antara bebatuan cadas bagai irama musik gendang beleq. Nyanyian burung koak-kaok dan kecial kuning pun turut serta menambah indahnya suasana pagi.
Cahaya raksasa semakin angkuh dan bernafsu menapaki langkahnya menyibak kelabunya awan tanpa kejenuhan. Aku lemparkan pandangan ke atas bukit tidak jauh dari rumah ninik. Terlihat orang-orang berbondong-bondong mendaki bukit dengan membawa bekal sesajian yang dijunjung di atas kepala. Aku merasa heran, ada apa gerangan di atas bukit itu?, batinku.
”Ninik, terlihat olehku orang banyak berbondong-bondong mendaki bukit itu. Arak napi dengan bukit nike Nik?”, tanyaku tidak sabaran.
”Mereka itu akan berziarah ke makam di atas bukit sana? Hari ini hari Rabu tentu makam itu tidak akan pernah sepi dikunjungi kecuali selain Rabu, Lale?
”Araq napi dengan selain Rabu Nik?”
”Pamalik. Tidak boleh. Dilarang oleh mangku, Lale. Pernah suatu hari ada orang mencoba melanggar larangan itu seketika tiba-tiba tubuhnya terguling ke kaki bukit sampai ia meninggal. Kalau Lale penasaran, pergilah ikut berziarah dengan mereka. Hitung-hitung olahraga pagi,” ucap ninik disela-sela kesibukannya menyiapkan sarapan. Aku pun makin tidak sabaran, kuriositasku kian tak terbendung.
Bukit itu dapat aku daki, namun napasku terengah-engah turun naik elepator. Sesaat kemudian aku segera menyeruduk menerobos kerumunan para peziarah yang nampak sedang khusuk berdoa memohon ridho Allah atau sekedar untuk menebus nazarnya di hadapan makam itu. Adapula di antara mereka sedang mengikat suatu benda di antara untaian akar-akar pohon beringin sebagai simbol bahwa mereka pernah datang berziarah dan membuat nazar di makam itu. Apabila kelak telah terkabulkan nazarnya, maka wajib baginya datang untuk membuka simbol tersebut dengan membawa sesajian. Apabila tidak, konon akan mengalami kegagalan dalam menapaki kehidupan. Demikian cerita di antara mereka dengan penuh keyakinan.
Menurut cerita mereka juga, bahwa makam itu sangat keramat dan sakral. Konon ceritanya makam itu merupakan makam seorang wali dari tanah Jawa pembawa ajaran Agama Islam pertama di gumi paer Sasak. Wali tersebut bernama Wali Nyato, sehingga makam itu dikenal dengan sebutan Makam Nyato.
Tertebus sudah rasa penasaranku. Tidak lama kemudian aku meninggalkan makam itu. Namun entah mengapa tiba-tiba pandanganku tersandung pada sesosok tubuh pemuda tampan bersahaja sedang duduk termenung memandangi luasnya langit yang tiada ujung. Aku mencoba mendekatinya.
”Ampure, tiang menggangu. Ada apa gerangan dengan Sanak? Mengapa termenung seorang diri? Mengapa tidak bergabung dengan mereka? Lihatlah sejenak, mereka sedang bersuka ria menikmati sesajiannya.” Aku setengah merayu untuk mengusik kebisuannya. Aku heran dibuatnya. Dia tidak bergeming sedikit pun. Apakah dia bisu, tuli atau dia seorang pujangga yang sedang mencari inspirasi? Atau tabu baginya berbicara dengan seorang perempuan yang bukan muhrimnya? Akankah hal itu?
’’Ampure sekali lagi Sanak. Sudikah kiranya temani aku berbicara? Dan sudikah kiranya Sanak menemani aku turun sambil menikmati indahnya warna pagi ini? Ataukah aku terlalu lancang mengusik ketenangan Sanak?,” seruku tak mau kalah. Tidak lama kemudian dia menoleh dengan tatapan mata kosong dengan sedikit senyum. Dia mengulurkan tangannya. Aku pun mengerti nampaknya dia pun ingin berkenalan denganku.
*
Roda-roda waktu kian jauh menggelinding dan meluncur dengan dahsyatnya. Hari-hari berlalu dengan membawa sejuta cerita. Seiring dengan itu, aku dan dia kian akrab, tiada bersekat di hati, di seluruh tubuh, dan di setiap sel-sel dan denyut nadi.
Bahkan karekter dan gaya berbicaranya aku hafal dengan logat Sasak meriaq-meriqu yang kental.
Kini di desa ini, di gumi paer ini aku merasa terlindungi, merdeka dari sunyi. Sebab aku telah menemukan pijakan dalam sebuah pendakian. Sebuah pijakan yang sangat berharga dan tak dapat dinilai secara material. Pijakan itu adalah dia. Dia adalah sebuah bongkahan emas yang tak satu pun orang yang mampu melihatnya apalagi menatahnya menjadi sebuah benda berharga. Dia sesosok pemuda yang lugu, polos, dan amanah. Dia menghargai setiap orang berbicara dan menghargai pendapat sekali pun pendapat itu berbeda bahkan menyakitkan.
Di luar terdengar benturan-benturan kayu dengan irama teratur. Suara itu tidak asing lagi terdengar di desa ini. Suara itu adalah bagian dari kreativitas tradisi leluhur secara turun temurun yaitu keterampilan menyengsek. Di balik suara-suara itu, samar-samar aku dengar ninik memanggil. Aku intip lewat gorden jendela dan aku melihat dia. Dia sahabat baruku. Dia nampak sedang duduk bercakap-cakap dengan ninik di berugaq.
Tidak ragu aku bergegas ke luar dan sedikit senyum seraya melepas salam.
”Assalamu ’alaikum.”
”Waalaikum salam,” jawabnya singkat.
”Apa khabar Kak, kok tumben laloq? Araq napi?”
”Wah, merasa tersanjung aku dipanggil kak? Terima kasih ya? Begini, maksud kedatanganku untuk menyampaikan salam inaq
bahwa side tepesilaq datang ke rumah sekarang juga.”
”Araq napi Kak?,” jawabku dengan nada agak bergemuruh.
”Nenten araq napi-napi. Yah, sekedar silaturrahmi biasa. Tidak keberatan ’kan?”
”Keberatan sih tidak. Tapi mintakan aku izin dahulu pada ninik. Sebab ninikku agak galak meskipun dia demokratis dalam keluarga,” gertakku seraya melirik ninik.
”Pergilah! Tapi ingat jangan lama-lama,” jawab ninik penuh pengertian.
”Baiklah kalau begitu. Maaf ya Kak, tunggu aku sebentar. Aku mau padamkan api tungku, habis baru saja aku selesai belajar memasak dan tentu juga aku mau ganti pakaian. Sekali lagi tunggu nggeh?,” celotehku sambil berlalu.
Kami menelusuri jalan setapak bebatuan di antara bekas tapakan kaki kerbau yang becek. Di sisi kiri kanan sesak dengan semak belukar dan pohon saeng simbur berduri. Kami terus berjalan mengitari pinggang bukit, mendaki, turun lagi begitu seterusnya. Kadang-kadang timbul kecurigaanku. ”Jangan-jangan...? Astagfirullah! Bahwa berburuk sangka itu sesungguhnya dilaknat Allah,” batinku sambil berusaha menetralkan perasaan bahwa dia adalah laki-laki yang baik.
”Berapa jauhkah lagi rumahnya Kak?,” tanyaku sambil menyeka keringat yang
membanjiri pipiku.
”Di balik bukit itu. Kira-kira lagi 2 km,” sambil menunjuk ke arah bukit.
”Aku sudah tidak tahan lagi berjalan Kak. Capek!”
”Bersabarlah sedikit! Inaq pasti sudah tidak sabaran menunggu kita,” dia berusaha menghiburku.
Setengah jam kemudian tibalah kami di pekarangan rumahnya. Aku melihat seorang perempuan tua hampir sebaya dengan ninikku sedang duduk di depan pintu. Ada rasa ngeri dibenakku. Bola matanya nyalang membakar rasa. Mulutnya komat-kamit sambil mengunyah sirih dengan gigi hitamnya. Di tangan kirinya menggenggam secuil tembakau hitam. Rambutnya berantakan berwarna putih. Kainnya kumal. Lambung yang melekat pada tubuh keriputnya sudah pudar warnanya. Kurang lebih karekternya seperti lakon antagonis Dayu Sanur dalam drama Lautan Bernyanyi karya Putu Wijaya yang pernah aku tonton.
Aku amati sekeliling rumah itu. Lantainya dari tanah yang dilulurkan dengan kotoran kerbau dicampur dengan tumbukan halus daun ubi jalar. Sungguh menjijikkan menurut ukuran orang kota. Dinding rumah terbuat dari anyaman bambu tanpa ventilasi dan beratapkan ilalang. Ukuran tinggi rumah kurang dari dua meter dengan luas 4x8 m. Bagian samping rumah terdapat kandang kerbau dengan kubangan lumpur yang berbau kurang bersahabat. ”Subhanallah. Sesungguhnya Allah masih menjamin kesehatan mereka dan memberkahi umur panjang,” batinku penuh kekaguman.
Tanpa aku sadari segelas kopi dan sepiring gadung rebus sudah ada di hadapanku. Aku sebenarnya tidak ada selera menikmatinya. Bukan karena pemandangan dan bau kubangan yang menyengat. Namun selama ini tenggorokanku belum pernah disentuh oleh kopi dan gadung. Apa lagi kopi pahit dengan ampas yang mengapung tebal bagai genangan lumpur Lapindo. Demi menghargai dan menghormati tuan rumah, aku mencoba menikmatinya meski pun ada rasa terpaksa.
”Ooo, inikah dedare inges yang kamu maksudkan itu Karde?,” tanya perempuan tua itu dengan logat bahasa Indonesia yang agak kacau kedengarannya. Karde hanya tersenyum bangga. Perempuan tua itu mencoba menyelidikiku dari ujung kaki sampai ujung kepala yang dibalut jilbab. Aku berusaha menguasai keadaan dan rasa dengan mengembangkan sedikit senyum.
”Kelihatan kamu ini, bukan orang kami. Dari mana gerangan dedare inges?,” tanya penuh selidik.
”Mataram Inaq!,” sahutku spontan.
”Ooo, Mentaram? Berarti kamu dengan kote?”
”Nggeh Inaq!”
”Karde eni terune paling solah lek dese eni, bakti eleq dengan toaq, dait taat beribadah,” kata inaq Karde sedikit menyanjung.
Aku mulai timbul rasa heran dalam pikiranku. Apa maksud di balik perkataan perempuan tua itu? Karde bakti, taat? Di manakah letak taatnya itu? Kapan? Sejak aku mengenali dia tidak pernah aku lihat sholat? Lantas pengikut kepercayaan macam apa yang sangat dibanggakan oleh perempuan tua itu, sehingga anaknya dikatakan taat beribadah? Ataukah perempuan tua itu membohongiku? Kalau tidak, bisa jadi perempua tua itu, Karde, dan sebagian penduduk desa ini penganut ajaran Islam Wetu Telu? Sebab aku pernah membaca sebuah artikel tentang ajaran Islam Wetu Telu. Kurang lebih begini isi artikel tersebut:
Agama Islam Wetu Telu merupakan agama warisan leluhur. Inti ajarannya adalah pengenalan terhadap tiga di antara lima rukun Islam. Ajaran ini tetap berpedoman pada kitab suci Al-Quran dan Hadits serta ditambah dengan ajaran yang tertulis di dalam lontar yang berisi Ushul, Fiqh, dan Tasawuf. Namun banyak di antara tulisan dalam lontar itu sulit dipahami oleh masyarakat awam, maka pemahaman mereka pun tersesat atau salah tafsir sehingga bermuara pada penyimpangan dari hakikat ajaran Islam yang sebenarnya.
Rukun Islam yang diakui dan dijalaninya hanya syahadat, sholat, dan puasa. Sementara yang mengerjakan sholat dan puasa hanyalah kyai. Bagi mereka yang bukan berstatus sebagai kyai tidak wajib mengerjakan sholat dan belajar membaca al-Quran. Sebab segala urusan ibadah kepada Nenek atau Allah diserahkan sepenuhnya kepada kyai. Kyailah yang menanggung segala dosa pengikutnya dan yang menjamin mereka masuk Surga.
Berdasarkan uraian dari artikel itulah aku memperoleh gambaran tentang ajaran yang dianut perempuan tua itu. Sehingga aku berani memberikan kesimpulan dan menanyakan langsung perihal itu.
”Ampure inaq, napi maksud taat beribadah nike.”
”Yah, taat menjalankan syariat agama Islam,” jawab perempuan tua itu dengan raut wajah berubah seketika penuh amarah dan tersinggung. ”Ampure Inaq! Maksud tiang.... Maksud tiang.... .” Sebenarnya aku ingin meluruskan pembicaraan itu, tetapi perempuan tua itu secepat kilat memotongnya.
”Ooo, maksud kamu mau menghina ajaran warisan leluhur kami? Kalau itu tujuan kamu datang ke gumi paer Rambitan dan itu juga tujuan kamu mendekati Karde maka petaka akan menjemput kamu,” ancam perempuan tua itu dengan bahasa Indonesia yang lancar tanpa aku sangka-sangka.
”Nenten maraq nike Inaq. Bagiku, apa pun agama mereka, apa pun bentuk dan keyakinan mereka pada dasarnya sama. Akan tetapi, yang paling mendasar bagaimana setiap pengikutnya mampu mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari ajaran yang diikutinya itu untuk kemaslahatan umat manusia di jagat raya ini. Bukan untuk mencari dan membesar-besarkan perbedaan di antara kita.”
Nampaknya emosional perempuan tua itu sudah menurun. Rupanya dia menerima apa yang telah aku utarakan dan memahami jalan pikiranku. Namun di balik itu, dia berharap aku mau menerima keinginannya sebagai menantu. Tentu aku harus menikah dengan Karde putranya itu. Aku terkejut seketika. Akankah ada sebuah pernikahan pada usiaku yang masih dini? Apalagi aku baru saja duduk di bangku kelas XI Madrasah Aliyah? Tidak! Aku sudah tak mampu lagi membangun kata yang tepat dan logis untuk menjawab kecuali kata pulang.
Dalam perjalanan pulang ke rumah ninik, aku tak mau berbicara sepatah kata pun. Meskipun Karde berkali-kali meminta maaf atas kejadian itu. Memang secara jujur dan mengikuti naluri kewanitaan, aku simpati kepada pemuda desa itu. Aku pun tak dapat membohongi hatiku selama ini karena dialah tempat aku berpijak. Namun, mendengar pengakuan perempuan tua itu rasa simpati itu sirna bersama keringat dingin yang mengguyur sekujur tubuhku.
*
Senja bergayut di balik bukit. Merah lembayung hampir memudar di telan kelam. Segerombolan burung kenculit berterbangan ke luar dari gua bukit pergi mencari makan. Remang-remang pucuk pepohonan terlihat pucat. Dari kejauhan sayup-sayup terdengar suara adzan. Aku segera bergegas mengambil air wudlu. Aku sholat Maghrib dengan khusuk. Aku berdoa semoga Allah memberikan ketenangan. Setelah itu, aku mengaji. Tanpa sadar aku meneteskan air mata membasahi lembaran surat An-Nisa’ yang sedang aku baca. Tiba-tiba aku tersentak oleh suara daun pintu diketuk berkali-kali. Aku pun mendengar suara ninik memanggil bahwa di luar ada Karde. Aku tidak menghiraukan panggilan itu. Aku terus mengaji sembari menunggu waktu sholat Isya tiba. Akan tetapi, tiba-tiba muncul ideku. Aku segera ke luar mengenakan mukenah yang tak sempat aku buka.
”Kak, sebentar lagi waktu sholat Isya tiba. Apakah Kakak mau menemani aku mengaji dan setelah itu kita sholat Isya berjamaah?,” tanyaku penuh selidik.
”Aaa.... Anu..... nanti di rumah saja,” jawab Karde terbata-bata dengan raut wajah memerah.
”Kak, bagaimana aku akan menikah denganmu? Sholat tidak, mengaji tidak bisa. Apakah ini bentuk agama warisan leluhur yang Kakak banggakan, Islam Wetu telu itu?,” dakwaku untuk berusaha membongkar misteri di balik kata ’taat’ seperti yang telah dikatakan oleh perempuan tua itu. Tapi sayang, tiba-tiba Karde menangis.
”Bagaimana mulai besok ajarkan Kakak mengaji dan sholat.”
”Apa dan untuk apa?,” aku pura-pura tidak mengerti.
”Kakak ingin menyempurnakan agama Islam yang sesungguhnya,” katanya tulus. Aku terharu mendengarnya. Aku jabat erat tangannya, seraya mengucapkan alhamdulillah.
”Tapi, bagaimana dengan inaq?”
”Tidak usah dipikirkan. Kakak sekarang benar-benar sudah menemukan jati diri dan menemukan kedamaian hati yang selama ini terasa gersang dan gelisah. Semua itu karena kamu, seorang gadis tegar dan pemberani.”
”Alhamdulillah. Semua itu semata-mata atas kehendak Allah.”
Esok harinya sesuai dengan niat Karde, aku mengajarinya mengaji dan sholat di rumah ninik. Semua berjalan lancar sesuai rencana. Karde memiliki tingkat kecerdasan luar biasa sehingga dalam waktu tiga hari semua materi yang aku berikan mampu dipraktikkannya.
”Bagaimana kalau kita ke bukit itu untuk bersaksi di depan makam Nyato bahwa Kakak telah menjalankan syariat Islam dengan sempurna,” ajak Karde penuh kesungguhan.
”Ampure Kak! Sekarang kan hari Minggu, pamalik.”
”Mulai sekarang jangan kita percaya. Sepanjang niat kita untuk mengabdikan diri kepada Allah bukan kepada syaitan atau makhluk lain.” Aku pun menyetujuinya dan kami pun bergegas menuju kaki bukit.
”Alam dunia, gumi paer. Lihatlah aku, Karde kini telah menyempurnakan keimanan kepada nenek sak kuase. Aku ingin bersaksi. Terimalah tobatku dan terimalah aku di gumi paer ini dan di alam keabadian-Mu. Ya Allah de panjak de kaji! Selamatkan dan berkahi sisa-sisa hidup de kaji!,” kata Karde lantang menantang keridoan Ilahi.
Setelah menumpahkan segala rasa di hadapan makam Nyato, kami menuruni bukit dengan hati berbunga dan penuh nur Ilahi. Beberapa langkah Karde menapaki badan bukit tiba-tiba pijakannya terpeleset dan terguling-guling jatuh ke kaki bukit. Aku berlari mengejar tubuh yang terguling-guling penuh darah dan luka itu. Namun usahaku sia-sia.
”Kak, bangun! Bangun Kak! Ayo bangun! Jangan tinggalkan aku sendiri,” jeritku histeris penuh rasa bersalah.
”Maafkan aku, nggeh! Maafkan Karde! Aku sekarang sudah siap pergi. Aku... ak... uu....ber... berterima ka.... sih ke... pa... da...mu. Allahu akbar! Lailahaillallah!,” Karde dengan fasih mengucapkan asma Allah dan seketika itu pun dia terbang menuju alam keabadian.
”Innalillahi wainna ilaihi rojiun. Sesungguhnya kita milik Allah dan sesungguhnya pula kita akan kembali kepada-Nya. Inilah suratan takdirmu Kak. Semoga arwahmu mendapat tempat terbaik disisi-Nya,” rintihku pilu.
Setengah jam setelah peristiwa itu, entah siapa yang menghembuskan kejadian itu, masyarakat penuh sesak bagai burung gagak menggerogoti bangkai mengerumuni tubuh Karde yang sedang terkapar kaku. Perempuan tua itu nampak berdiri persis di sisi kiri tubuh Karde dengan sumpah serapah menghujani ulu hatiku.
”Kamu pembunuh! Pembunuh! Nine nyentet ndek taon diriq. Dedare sial. Awas akan aku balas kamu! Akan kamu terima ganjarannya.”
Perempuan tua itu meludahiku. Jilbabku dicampakkan dan diinjak-injak. Mencabik-cabik rambut, wajah, dan sekujur tubuhku. Aku tak mampu melawan. Walaupun aku melawan tak ada maknanya sebuah perlawanan dalam situasi seperti itu.
”Dedare sial dait ngontiq eni sengaja datang di gumi paer Rambitan untuk menghina kepercayaan leluhur kita. Sungguh terkutuk kamu dedare sial. Teganya membunuh anakku. Kita bunuh nine sial ini. Kita bunuh! Ayo! Mengapa kalian diam? Mari kita geret ke atas bukit. Kita penggal lehernya untuk menebus dosa-dosanya dan kita jadikan tumbal persembahan kepada arwah leluhur kita,” serunya lantang penuh amarah.
Aku gemetar ketakutan. Sekujur tubuhku terasa panas. Keringat dingin bercucuran mengalir deras di sela-sela luka tubuhku. Aku merintih tersiksa. Berduyun-duyun masyarakat membawa parang, tombak, keris, kelewang, dan potongan kayu. Aku tidak diberikan kesempatan berkata sekedar untuk membela diri. Aku benar-benar digeret seperti bangkai anjing ke atas bukit itu. Aku pasrah apapun yang akan menderaku. Caci maki, hinaan, dipukul, ditendang, didorong, digeret dengan kasarnya hingga aku jatuh terkapar mencium gundukan makam Nyato.
Di atas bukit, pada sebuah pohon beringin besar tangan, kaki, dan badanku diikat. Sekujur tubuh disiram air garam. Betapa perih menyayat. Setelah itu, mereka meninggalkan aku seorang diri dengan penghormatan terakhir aku diberi minum setengah gelas air makam Nyato agar arwah leluhur mereka mau menerima aku sebagai tumbal persembahannya.
Dalam kesunyian itu, antara sadar atau tidak, aku seolah-olah melihat Karde melambaikan tangannya sambil tersenyum berpesan, ”Jangan putus asa, tegakkan kebenaran. Dalam cinta ada kepercayaan dan dalam kepercayaan ada kekuatan. Allahu akbar.” Aku pun membalas senyuman itu. Seketika butir-butir darah merah di setiap lukaku berubah menjadi warna putih meloncat-loncat dan menari-nari penuh napsu dan gairah. ***
Praya, Bulan Kemerdekaan 2009
Halil Subagiono, S.Pd.
Guru MAN 1 Praya
Glosarium bahasa Sasak :
Ampure : maaf
Arak napi : ada apa
Berugaq : balai-balai
Dedare inges : gadis cantik
Dedare sial dait ngontiq eni : gadis sial dan jalang ini
Dengan kote : orang kota
Gendang beleq : jenis musik daerah Lombok/Sasak (Genderang besar)
Gumi paer : tanah kelahiran leluhur
Gonggong : sejenis jengkerik
Inaq : ibu
Karde eni terune paling solah lek dese eni, bakti eleq dengan toaq dait taat beribadah:
Karde ini terune paling baik di desa ini, bakti di orang tua, dan taat beribadah.
Kecial kuning : burung kecial warna kuning
Kenculit : kelelawar kecil
Koak-kaok : burung satwa hanya ada di Lombok
Kok tumben laloq : Kok sekarang kelihatan
Lale : gelar bangsawan perempuan suku Sasak Lombok
Lambung : sejenis baju adat suku Sasak
Mangku : pemimpin upacara adat suku Sasak
Mamiq : ayah
Meriaq meriqu : salah satu diantara 5 dialek dalam bahasa Sasak
Menyengsek : menenun
Nenek sak kuase : Allah Yang Maha Kuasa
Nenten maraq nike : Tidak seperti itu
Nenten arak napi-napi : tidak ada apa-apa
Nggeh : ya
Ninik : nenek
Nine nyentet ndek taon diriq : perempuan nakal tidak tau diri
Nyato : nyata
Sanak : panggilan akrab
Saeng simbur : desmodium Sp. atau sejenis pohon berduri dapat dijadikan bonsai
Side : kamu
Tiang : saya
Tepesilaq : diundang
Wetu telu : waktu tiga
Ya Allah de panjak de kaji : Ya Allah pesuruh hamba
GUMI PAER RAMBITAN
SINOPSIS
Aku merupakan gadis kota yang sengaja datang berlibur ke rumah neneknya di desa Rambitan. Dalam mengisi perjalanan hari-hari liburnya, Aku menemukan berbagai persoalan baru dan asing yang tak pernah dijumpai di kota. Memang realitanya warna kehidupan di kota dan di desa sangat jauh berbeda. Di satu sisi desa memiliki keindahan alam yang alami dan kental. Akan tetapi dari sisi lain tidak mau terlepas dari sebuah peradaban warisan leluhur dalam ikatan emosional baik dari aspek keyakinan, mitos, maupun persoalan kekuatan magis. Persoalan ini yang mengemuka lewat tokoh perempuan tua (red Inaq Karde) dan masyarakat peziarah makam Nyato.
Penomena tersebut menjadi sebuah tanda tanya besar dari tokoh Aku yang bermuara menjadi sebuah konflik. Aku bertemu dengan Karde seorang pemuda yang lugu, polos, dan bersahaja. Lewat kepolosan Karde lah sebuah jawaban terkuak tentang keyakinan religius sebagian masyarakat Gumi Paer Rambitan, yakni Islam Wetu Telu (Islam Waktu Tiga).
Islam waktu tiga menurut tokoh Aku dianggap sebuah penyimpangan dari syariat Islam yang sesungguhnya. Pendapat tokoh Aku ditentang keras oleh Inaq Karde karena hal ini sama halnya dengan penghinaan terhadap warisan leluhur. Namun Karde pun ikut berontak terhadap persoalan itu karena Karde sudah terlanjur menjalin rasa cinta kepada Aku. Karde sudah menemukan jati dirinya yang selama ini gersang. Terlahir menjadi manusia sempurna lewat kerja keras dan perjuangan Aku.
Wujud syukur Karde atas keimanan yang sudah mampu ditatah dengan sempurna berakhir pada sebuah kematian. Kematianya bukan karena pelanggaran sebuah mitos tetapi karena semata-mata ridho Ilahi. Namun Inaq Karde tetap bersikukuh bahwa semua petaka yang melanda Gumi Paer Rambitan termasuk kematian putranya karena kehadiran tokoh Aku. Akhirnya tokoh Aku harus menjalani hukuman dan dijadikan tumbal arwah leluhur mereka. Namun dengan kekuatan cinta dan keimanan tokoh Aku dapat bertahan hidup dan memiliki kekuatan baru. ”Dalam cinta ada kepercayaan dan dalam kepercayaan ada kekuatan.”
Halil Subagiono, S.Pd.
Aku duduk di sudut sepi. Di bawah langit, di kaki bukit, di sebuah desa kecil terpencil. Malam tidur lelap mendengkur diselimuti rasa damai bahkan suasana mati. Orang-orang telah kehilangan separuh napasnya dalam kehangatan karena kerja dalam keseharian tak pernah selesai. Malam kian mendengkur. Sepi kian ganas mencekam pekat dalam kesendirian. Tinggal kerdipan lampu-lampu minyak rumah penduduk di atas bukit nun jauh di sana terlihat bagai kerdipan bintang-bintang yang bertaburan di langit.
Aku masih duduk bertahan pada separuh malam di sudut sunyi. Di bawah langit, di kaki bukit, di sebuah desa kecil terpenpencil. Di desa inilah aku sandarkan segenap harap, letih, penat, dan gundah-gulana dari suasana hiruk pikuk kehidupan kota. Aku sengaja datang ke desa ini untuk menghabiskan masa liburan di rumah tua, milik perempuan tua yang aku panggil ninik. Suasana kehidupan di sini udaranya segar, jauh dari debu, polusi, dan erosi moral anak-anak negeri. Ditambah lagi dengan keindahan hamparan sawah ladang dengan padi gora yang menguning keemasan. Sungguh menakjubkan! Menambah rasa syukur dan kecintaanku kepada tanah air dan sang pencipta.
”Lale, sudah larut malam. Tidurlah! Tidak baik untuk kesehatanmu”.
Terdengar suara ninik lembut memecah suasana sunyi dan membangunkan lamunanku.
”Sebentar nik!”, sahutku pendek.
”Di luar dingin. Masuklah nanti kamu masuk angin!,” suara ninik terasa menekan dan terasa menyentuh hati. Aku pandang kelap-kelip bintang di kejauhan sana. Di antara gumpalan awan kelabu terlihat bulan sabit yang pucat pasi seolah enggan melangkah menyinari bukit-bukit bebatuan dan alam kehidupan desa. Terbetik seutas rindu pada mamiq dan inaq tercinta di alam sana. Aku makin meranggas dalam sunyi. Tubuhku kaku dan beku dibelenggu rasa. Enggan rasanya kakiku melangkah memasuki bilik kamar yang remang diterpa sinar lampu teplok. Enggan rasanya mataku terpejam melewati malam pertama. Namun, puji syukur tiba-tiba aku dengar sayup-sayup tembang asmaradhana yang menggoda jiwa dan rasa dari balik-bilik kamar yang terbuat dari anyaman bambu. Jiwaku kalah dan terkapar dengan larik-larik tembang asmaradhana yang begitu magis dan romantis berbau mitos. Akhirnya jiwaku terbang mengarungi samudera mimpi yang indah.
Pagi yang cerah. Tersembul di balik bukit sang cahaya raksasa dengan senyum manja dan memamerkan keangkuhannya. Air ke luar dari sela-sela bebatuan cadas terasa sejuk dan segar membasahi kulit. Percikan-percikan air memental di antara bebatuan cadas bagai irama musik gendang beleq. Nyanyian burung koak-kaok dan kecial kuning pun turut serta menambah indahnya suasana pagi.
Cahaya raksasa semakin angkuh dan bernafsu menapaki langkahnya menyibak kelabunya awan tanpa kejenuhan. Aku lemparkan pandangan ke atas bukit tidak jauh dari rumah ninik. Terlihat orang-orang berbondong-bondong mendaki bukit dengan membawa bekal sesajian yang dijunjung di atas kepala. Aku merasa heran, ada apa gerangan di atas bukit itu?, batinku.
”Ninik, terlihat olehku orang banyak berbondong-bondong mendaki bukit itu. Arak napi dengan bukit nike Nik?”, tanyaku tidak sabaran.
”Mereka itu akan berziarah ke makam di atas bukit sana? Hari ini hari Rabu tentu makam itu tidak akan pernah sepi dikunjungi kecuali selain Rabu, Lale?
”Araq napi dengan selain Rabu Nik?”
”Pamalik. Tidak boleh. Dilarang oleh mangku, Lale. Pernah suatu hari ada orang mencoba melanggar larangan itu seketika tiba-tiba tubuhnya terguling ke kaki bukit sampai ia meninggal. Kalau Lale penasaran, pergilah ikut berziarah dengan mereka. Hitung-hitung olahraga pagi,” ucap ninik disela-sela kesibukannya menyiapkan sarapan. Aku pun makin tidak sabaran, kuriositasku kian tak terbendung.
Bukit itu dapat aku daki, namun napasku terengah-engah turun naik elepator. Sesaat kemudian aku segera menyeruduk menerobos kerumunan para peziarah yang nampak sedang khusuk berdoa memohon ridho Allah atau sekedar untuk menebus nazarnya di hadapan makam itu. Adapula di antara mereka sedang mengikat suatu benda di antara untaian akar-akar pohon beringin sebagai simbol bahwa mereka pernah datang berziarah dan membuat nazar di makam itu. Apabila kelak telah terkabulkan nazarnya, maka wajib baginya datang untuk membuka simbol tersebut dengan membawa sesajian. Apabila tidak, konon akan mengalami kegagalan dalam menapaki kehidupan. Demikian cerita di antara mereka dengan penuh keyakinan.
Menurut cerita mereka juga, bahwa makam itu sangat keramat dan sakral. Konon ceritanya makam itu merupakan makam seorang wali dari tanah Jawa pembawa ajaran Agama Islam pertama di gumi paer Sasak. Wali tersebut bernama Wali Nyato, sehingga makam itu dikenal dengan sebutan Makam Nyato.
Tertebus sudah rasa penasaranku. Tidak lama kemudian aku meninggalkan makam itu. Namun entah mengapa tiba-tiba pandanganku tersandung pada sesosok tubuh pemuda tampan bersahaja sedang duduk termenung memandangi luasnya langit yang tiada ujung. Aku mencoba mendekatinya.
”Ampure, tiang menggangu. Ada apa gerangan dengan Sanak? Mengapa termenung seorang diri? Mengapa tidak bergabung dengan mereka? Lihatlah sejenak, mereka sedang bersuka ria menikmati sesajiannya.” Aku setengah merayu untuk mengusik kebisuannya. Aku heran dibuatnya. Dia tidak bergeming sedikit pun. Apakah dia bisu, tuli atau dia seorang pujangga yang sedang mencari inspirasi? Atau tabu baginya berbicara dengan seorang perempuan yang bukan muhrimnya? Akankah hal itu?
’’Ampure sekali lagi Sanak. Sudikah kiranya temani aku berbicara? Dan sudikah kiranya Sanak menemani aku turun sambil menikmati indahnya warna pagi ini? Ataukah aku terlalu lancang mengusik ketenangan Sanak?,” seruku tak mau kalah. Tidak lama kemudian dia menoleh dengan tatapan mata kosong dengan sedikit senyum. Dia mengulurkan tangannya. Aku pun mengerti nampaknya dia pun ingin berkenalan denganku.
*
Roda-roda waktu kian jauh menggelinding dan meluncur dengan dahsyatnya. Hari-hari berlalu dengan membawa sejuta cerita. Seiring dengan itu, aku dan dia kian akrab, tiada bersekat di hati, di seluruh tubuh, dan di setiap sel-sel dan denyut nadi.
Bahkan karekter dan gaya berbicaranya aku hafal dengan logat Sasak meriaq-meriqu yang kental.
Kini di desa ini, di gumi paer ini aku merasa terlindungi, merdeka dari sunyi. Sebab aku telah menemukan pijakan dalam sebuah pendakian. Sebuah pijakan yang sangat berharga dan tak dapat dinilai secara material. Pijakan itu adalah dia. Dia adalah sebuah bongkahan emas yang tak satu pun orang yang mampu melihatnya apalagi menatahnya menjadi sebuah benda berharga. Dia sesosok pemuda yang lugu, polos, dan amanah. Dia menghargai setiap orang berbicara dan menghargai pendapat sekali pun pendapat itu berbeda bahkan menyakitkan.
Di luar terdengar benturan-benturan kayu dengan irama teratur. Suara itu tidak asing lagi terdengar di desa ini. Suara itu adalah bagian dari kreativitas tradisi leluhur secara turun temurun yaitu keterampilan menyengsek. Di balik suara-suara itu, samar-samar aku dengar ninik memanggil. Aku intip lewat gorden jendela dan aku melihat dia. Dia sahabat baruku. Dia nampak sedang duduk bercakap-cakap dengan ninik di berugaq.
Tidak ragu aku bergegas ke luar dan sedikit senyum seraya melepas salam.
”Assalamu ’alaikum.”
”Waalaikum salam,” jawabnya singkat.
”Apa khabar Kak, kok tumben laloq? Araq napi?”
”Wah, merasa tersanjung aku dipanggil kak? Terima kasih ya? Begini, maksud kedatanganku untuk menyampaikan salam inaq
bahwa side tepesilaq datang ke rumah sekarang juga.”
”Araq napi Kak?,” jawabku dengan nada agak bergemuruh.
”Nenten araq napi-napi. Yah, sekedar silaturrahmi biasa. Tidak keberatan ’kan?”
”Keberatan sih tidak. Tapi mintakan aku izin dahulu pada ninik. Sebab ninikku agak galak meskipun dia demokratis dalam keluarga,” gertakku seraya melirik ninik.
”Pergilah! Tapi ingat jangan lama-lama,” jawab ninik penuh pengertian.
”Baiklah kalau begitu. Maaf ya Kak, tunggu aku sebentar. Aku mau padamkan api tungku, habis baru saja aku selesai belajar memasak dan tentu juga aku mau ganti pakaian. Sekali lagi tunggu nggeh?,” celotehku sambil berlalu.
Kami menelusuri jalan setapak bebatuan di antara bekas tapakan kaki kerbau yang becek. Di sisi kiri kanan sesak dengan semak belukar dan pohon saeng simbur berduri. Kami terus berjalan mengitari pinggang bukit, mendaki, turun lagi begitu seterusnya. Kadang-kadang timbul kecurigaanku. ”Jangan-jangan...? Astagfirullah! Bahwa berburuk sangka itu sesungguhnya dilaknat Allah,” batinku sambil berusaha menetralkan perasaan bahwa dia adalah laki-laki yang baik.
”Berapa jauhkah lagi rumahnya Kak?,” tanyaku sambil menyeka keringat yang
membanjiri pipiku.
”Di balik bukit itu. Kira-kira lagi 2 km,” sambil menunjuk ke arah bukit.
”Aku sudah tidak tahan lagi berjalan Kak. Capek!”
”Bersabarlah sedikit! Inaq pasti sudah tidak sabaran menunggu kita,” dia berusaha menghiburku.
Setengah jam kemudian tibalah kami di pekarangan rumahnya. Aku melihat seorang perempuan tua hampir sebaya dengan ninikku sedang duduk di depan pintu. Ada rasa ngeri dibenakku. Bola matanya nyalang membakar rasa. Mulutnya komat-kamit sambil mengunyah sirih dengan gigi hitamnya. Di tangan kirinya menggenggam secuil tembakau hitam. Rambutnya berantakan berwarna putih. Kainnya kumal. Lambung yang melekat pada tubuh keriputnya sudah pudar warnanya. Kurang lebih karekternya seperti lakon antagonis Dayu Sanur dalam drama Lautan Bernyanyi karya Putu Wijaya yang pernah aku tonton.
Aku amati sekeliling rumah itu. Lantainya dari tanah yang dilulurkan dengan kotoran kerbau dicampur dengan tumbukan halus daun ubi jalar. Sungguh menjijikkan menurut ukuran orang kota. Dinding rumah terbuat dari anyaman bambu tanpa ventilasi dan beratapkan ilalang. Ukuran tinggi rumah kurang dari dua meter dengan luas 4x8 m. Bagian samping rumah terdapat kandang kerbau dengan kubangan lumpur yang berbau kurang bersahabat. ”Subhanallah. Sesungguhnya Allah masih menjamin kesehatan mereka dan memberkahi umur panjang,” batinku penuh kekaguman.
Tanpa aku sadari segelas kopi dan sepiring gadung rebus sudah ada di hadapanku. Aku sebenarnya tidak ada selera menikmatinya. Bukan karena pemandangan dan bau kubangan yang menyengat. Namun selama ini tenggorokanku belum pernah disentuh oleh kopi dan gadung. Apa lagi kopi pahit dengan ampas yang mengapung tebal bagai genangan lumpur Lapindo. Demi menghargai dan menghormati tuan rumah, aku mencoba menikmatinya meski pun ada rasa terpaksa.
”Ooo, inikah dedare inges yang kamu maksudkan itu Karde?,” tanya perempuan tua itu dengan logat bahasa Indonesia yang agak kacau kedengarannya. Karde hanya tersenyum bangga. Perempuan tua itu mencoba menyelidikiku dari ujung kaki sampai ujung kepala yang dibalut jilbab. Aku berusaha menguasai keadaan dan rasa dengan mengembangkan sedikit senyum.
”Kelihatan kamu ini, bukan orang kami. Dari mana gerangan dedare inges?,” tanya penuh selidik.
”Mataram Inaq!,” sahutku spontan.
”Ooo, Mentaram? Berarti kamu dengan kote?”
”Nggeh Inaq!”
”Karde eni terune paling solah lek dese eni, bakti eleq dengan toaq, dait taat beribadah,” kata inaq Karde sedikit menyanjung.
Aku mulai timbul rasa heran dalam pikiranku. Apa maksud di balik perkataan perempuan tua itu? Karde bakti, taat? Di manakah letak taatnya itu? Kapan? Sejak aku mengenali dia tidak pernah aku lihat sholat? Lantas pengikut kepercayaan macam apa yang sangat dibanggakan oleh perempuan tua itu, sehingga anaknya dikatakan taat beribadah? Ataukah perempuan tua itu membohongiku? Kalau tidak, bisa jadi perempua tua itu, Karde, dan sebagian penduduk desa ini penganut ajaran Islam Wetu Telu? Sebab aku pernah membaca sebuah artikel tentang ajaran Islam Wetu Telu. Kurang lebih begini isi artikel tersebut:
Agama Islam Wetu Telu merupakan agama warisan leluhur. Inti ajarannya adalah pengenalan terhadap tiga di antara lima rukun Islam. Ajaran ini tetap berpedoman pada kitab suci Al-Quran dan Hadits serta ditambah dengan ajaran yang tertulis di dalam lontar yang berisi Ushul, Fiqh, dan Tasawuf. Namun banyak di antara tulisan dalam lontar itu sulit dipahami oleh masyarakat awam, maka pemahaman mereka pun tersesat atau salah tafsir sehingga bermuara pada penyimpangan dari hakikat ajaran Islam yang sebenarnya.
Rukun Islam yang diakui dan dijalaninya hanya syahadat, sholat, dan puasa. Sementara yang mengerjakan sholat dan puasa hanyalah kyai. Bagi mereka yang bukan berstatus sebagai kyai tidak wajib mengerjakan sholat dan belajar membaca al-Quran. Sebab segala urusan ibadah kepada Nenek atau Allah diserahkan sepenuhnya kepada kyai. Kyailah yang menanggung segala dosa pengikutnya dan yang menjamin mereka masuk Surga.
Berdasarkan uraian dari artikel itulah aku memperoleh gambaran tentang ajaran yang dianut perempuan tua itu. Sehingga aku berani memberikan kesimpulan dan menanyakan langsung perihal itu.
”Ampure inaq, napi maksud taat beribadah nike.”
”Yah, taat menjalankan syariat agama Islam,” jawab perempuan tua itu dengan raut wajah berubah seketika penuh amarah dan tersinggung. ”Ampure Inaq! Maksud tiang.... Maksud tiang.... .” Sebenarnya aku ingin meluruskan pembicaraan itu, tetapi perempuan tua itu secepat kilat memotongnya.
”Ooo, maksud kamu mau menghina ajaran warisan leluhur kami? Kalau itu tujuan kamu datang ke gumi paer Rambitan dan itu juga tujuan kamu mendekati Karde maka petaka akan menjemput kamu,” ancam perempuan tua itu dengan bahasa Indonesia yang lancar tanpa aku sangka-sangka.
”Nenten maraq nike Inaq. Bagiku, apa pun agama mereka, apa pun bentuk dan keyakinan mereka pada dasarnya sama. Akan tetapi, yang paling mendasar bagaimana setiap pengikutnya mampu mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari ajaran yang diikutinya itu untuk kemaslahatan umat manusia di jagat raya ini. Bukan untuk mencari dan membesar-besarkan perbedaan di antara kita.”
Nampaknya emosional perempuan tua itu sudah menurun. Rupanya dia menerima apa yang telah aku utarakan dan memahami jalan pikiranku. Namun di balik itu, dia berharap aku mau menerima keinginannya sebagai menantu. Tentu aku harus menikah dengan Karde putranya itu. Aku terkejut seketika. Akankah ada sebuah pernikahan pada usiaku yang masih dini? Apalagi aku baru saja duduk di bangku kelas XI Madrasah Aliyah? Tidak! Aku sudah tak mampu lagi membangun kata yang tepat dan logis untuk menjawab kecuali kata pulang.
Dalam perjalanan pulang ke rumah ninik, aku tak mau berbicara sepatah kata pun. Meskipun Karde berkali-kali meminta maaf atas kejadian itu. Memang secara jujur dan mengikuti naluri kewanitaan, aku simpati kepada pemuda desa itu. Aku pun tak dapat membohongi hatiku selama ini karena dialah tempat aku berpijak. Namun, mendengar pengakuan perempuan tua itu rasa simpati itu sirna bersama keringat dingin yang mengguyur sekujur tubuhku.
*
Senja bergayut di balik bukit. Merah lembayung hampir memudar di telan kelam. Segerombolan burung kenculit berterbangan ke luar dari gua bukit pergi mencari makan. Remang-remang pucuk pepohonan terlihat pucat. Dari kejauhan sayup-sayup terdengar suara adzan. Aku segera bergegas mengambil air wudlu. Aku sholat Maghrib dengan khusuk. Aku berdoa semoga Allah memberikan ketenangan. Setelah itu, aku mengaji. Tanpa sadar aku meneteskan air mata membasahi lembaran surat An-Nisa’ yang sedang aku baca. Tiba-tiba aku tersentak oleh suara daun pintu diketuk berkali-kali. Aku pun mendengar suara ninik memanggil bahwa di luar ada Karde. Aku tidak menghiraukan panggilan itu. Aku terus mengaji sembari menunggu waktu sholat Isya tiba. Akan tetapi, tiba-tiba muncul ideku. Aku segera ke luar mengenakan mukenah yang tak sempat aku buka.
”Kak, sebentar lagi waktu sholat Isya tiba. Apakah Kakak mau menemani aku mengaji dan setelah itu kita sholat Isya berjamaah?,” tanyaku penuh selidik.
”Aaa.... Anu..... nanti di rumah saja,” jawab Karde terbata-bata dengan raut wajah memerah.
”Kak, bagaimana aku akan menikah denganmu? Sholat tidak, mengaji tidak bisa. Apakah ini bentuk agama warisan leluhur yang Kakak banggakan, Islam Wetu telu itu?,” dakwaku untuk berusaha membongkar misteri di balik kata ’taat’ seperti yang telah dikatakan oleh perempuan tua itu. Tapi sayang, tiba-tiba Karde menangis.
”Bagaimana mulai besok ajarkan Kakak mengaji dan sholat.”
”Apa dan untuk apa?,” aku pura-pura tidak mengerti.
”Kakak ingin menyempurnakan agama Islam yang sesungguhnya,” katanya tulus. Aku terharu mendengarnya. Aku jabat erat tangannya, seraya mengucapkan alhamdulillah.
”Tapi, bagaimana dengan inaq?”
”Tidak usah dipikirkan. Kakak sekarang benar-benar sudah menemukan jati diri dan menemukan kedamaian hati yang selama ini terasa gersang dan gelisah. Semua itu karena kamu, seorang gadis tegar dan pemberani.”
”Alhamdulillah. Semua itu semata-mata atas kehendak Allah.”
Esok harinya sesuai dengan niat Karde, aku mengajarinya mengaji dan sholat di rumah ninik. Semua berjalan lancar sesuai rencana. Karde memiliki tingkat kecerdasan luar biasa sehingga dalam waktu tiga hari semua materi yang aku berikan mampu dipraktikkannya.
”Bagaimana kalau kita ke bukit itu untuk bersaksi di depan makam Nyato bahwa Kakak telah menjalankan syariat Islam dengan sempurna,” ajak Karde penuh kesungguhan.
”Ampure Kak! Sekarang kan hari Minggu, pamalik.”
”Mulai sekarang jangan kita percaya. Sepanjang niat kita untuk mengabdikan diri kepada Allah bukan kepada syaitan atau makhluk lain.” Aku pun menyetujuinya dan kami pun bergegas menuju kaki bukit.
”Alam dunia, gumi paer. Lihatlah aku, Karde kini telah menyempurnakan keimanan kepada nenek sak kuase. Aku ingin bersaksi. Terimalah tobatku dan terimalah aku di gumi paer ini dan di alam keabadian-Mu. Ya Allah de panjak de kaji! Selamatkan dan berkahi sisa-sisa hidup de kaji!,” kata Karde lantang menantang keridoan Ilahi.
Setelah menumpahkan segala rasa di hadapan makam Nyato, kami menuruni bukit dengan hati berbunga dan penuh nur Ilahi. Beberapa langkah Karde menapaki badan bukit tiba-tiba pijakannya terpeleset dan terguling-guling jatuh ke kaki bukit. Aku berlari mengejar tubuh yang terguling-guling penuh darah dan luka itu. Namun usahaku sia-sia.
”Kak, bangun! Bangun Kak! Ayo bangun! Jangan tinggalkan aku sendiri,” jeritku histeris penuh rasa bersalah.
”Maafkan aku, nggeh! Maafkan Karde! Aku sekarang sudah siap pergi. Aku... ak... uu....ber... berterima ka.... sih ke... pa... da...mu. Allahu akbar! Lailahaillallah!,” Karde dengan fasih mengucapkan asma Allah dan seketika itu pun dia terbang menuju alam keabadian.
”Innalillahi wainna ilaihi rojiun. Sesungguhnya kita milik Allah dan sesungguhnya pula kita akan kembali kepada-Nya. Inilah suratan takdirmu Kak. Semoga arwahmu mendapat tempat terbaik disisi-Nya,” rintihku pilu.
Setengah jam setelah peristiwa itu, entah siapa yang menghembuskan kejadian itu, masyarakat penuh sesak bagai burung gagak menggerogoti bangkai mengerumuni tubuh Karde yang sedang terkapar kaku. Perempuan tua itu nampak berdiri persis di sisi kiri tubuh Karde dengan sumpah serapah menghujani ulu hatiku.
”Kamu pembunuh! Pembunuh! Nine nyentet ndek taon diriq. Dedare sial. Awas akan aku balas kamu! Akan kamu terima ganjarannya.”
Perempuan tua itu meludahiku. Jilbabku dicampakkan dan diinjak-injak. Mencabik-cabik rambut, wajah, dan sekujur tubuhku. Aku tak mampu melawan. Walaupun aku melawan tak ada maknanya sebuah perlawanan dalam situasi seperti itu.
”Dedare sial dait ngontiq eni sengaja datang di gumi paer Rambitan untuk menghina kepercayaan leluhur kita. Sungguh terkutuk kamu dedare sial. Teganya membunuh anakku. Kita bunuh nine sial ini. Kita bunuh! Ayo! Mengapa kalian diam? Mari kita geret ke atas bukit. Kita penggal lehernya untuk menebus dosa-dosanya dan kita jadikan tumbal persembahan kepada arwah leluhur kita,” serunya lantang penuh amarah.
Aku gemetar ketakutan. Sekujur tubuhku terasa panas. Keringat dingin bercucuran mengalir deras di sela-sela luka tubuhku. Aku merintih tersiksa. Berduyun-duyun masyarakat membawa parang, tombak, keris, kelewang, dan potongan kayu. Aku tidak diberikan kesempatan berkata sekedar untuk membela diri. Aku benar-benar digeret seperti bangkai anjing ke atas bukit itu. Aku pasrah apapun yang akan menderaku. Caci maki, hinaan, dipukul, ditendang, didorong, digeret dengan kasarnya hingga aku jatuh terkapar mencium gundukan makam Nyato.
Di atas bukit, pada sebuah pohon beringin besar tangan, kaki, dan badanku diikat. Sekujur tubuh disiram air garam. Betapa perih menyayat. Setelah itu, mereka meninggalkan aku seorang diri dengan penghormatan terakhir aku diberi minum setengah gelas air makam Nyato agar arwah leluhur mereka mau menerima aku sebagai tumbal persembahannya.
Dalam kesunyian itu, antara sadar atau tidak, aku seolah-olah melihat Karde melambaikan tangannya sambil tersenyum berpesan, ”Jangan putus asa, tegakkan kebenaran. Dalam cinta ada kepercayaan dan dalam kepercayaan ada kekuatan. Allahu akbar.” Aku pun membalas senyuman itu. Seketika butir-butir darah merah di setiap lukaku berubah menjadi warna putih meloncat-loncat dan menari-nari penuh napsu dan gairah. ***
Praya, Bulan Kemerdekaan 2009
Halil Subagiono, S.Pd.
Guru MAN 1 Praya
Glosarium bahasa Sasak :
Ampure : maaf
Arak napi : ada apa
Berugaq : balai-balai
Dedare inges : gadis cantik
Dedare sial dait ngontiq eni : gadis sial dan jalang ini
Dengan kote : orang kota
Gendang beleq : jenis musik daerah Lombok/Sasak (Genderang besar)
Gumi paer : tanah kelahiran leluhur
Gonggong : sejenis jengkerik
Inaq : ibu
Karde eni terune paling solah lek dese eni, bakti eleq dengan toaq dait taat beribadah:
Karde ini terune paling baik di desa ini, bakti di orang tua, dan taat beribadah.
Kecial kuning : burung kecial warna kuning
Kenculit : kelelawar kecil
Koak-kaok : burung satwa hanya ada di Lombok
Kok tumben laloq : Kok sekarang kelihatan
Lale : gelar bangsawan perempuan suku Sasak Lombok
Lambung : sejenis baju adat suku Sasak
Mangku : pemimpin upacara adat suku Sasak
Mamiq : ayah
Meriaq meriqu : salah satu diantara 5 dialek dalam bahasa Sasak
Menyengsek : menenun
Nenek sak kuase : Allah Yang Maha Kuasa
Nenten maraq nike : Tidak seperti itu
Nenten arak napi-napi : tidak ada apa-apa
Nggeh : ya
Ninik : nenek
Nine nyentet ndek taon diriq : perempuan nakal tidak tau diri
Nyato : nyata
Sanak : panggilan akrab
Saeng simbur : desmodium Sp. atau sejenis pohon berduri dapat dijadikan bonsai
Side : kamu
Tiang : saya
Tepesilaq : diundang
Wetu telu : waktu tiga
Ya Allah de panjak de kaji : Ya Allah pesuruh hamba
GUMI PAER RAMBITAN
SINOPSIS
Aku merupakan gadis kota yang sengaja datang berlibur ke rumah neneknya di desa Rambitan. Dalam mengisi perjalanan hari-hari liburnya, Aku menemukan berbagai persoalan baru dan asing yang tak pernah dijumpai di kota. Memang realitanya warna kehidupan di kota dan di desa sangat jauh berbeda. Di satu sisi desa memiliki keindahan alam yang alami dan kental. Akan tetapi dari sisi lain tidak mau terlepas dari sebuah peradaban warisan leluhur dalam ikatan emosional baik dari aspek keyakinan, mitos, maupun persoalan kekuatan magis. Persoalan ini yang mengemuka lewat tokoh perempuan tua (red Inaq Karde) dan masyarakat peziarah makam Nyato.
Penomena tersebut menjadi sebuah tanda tanya besar dari tokoh Aku yang bermuara menjadi sebuah konflik. Aku bertemu dengan Karde seorang pemuda yang lugu, polos, dan bersahaja. Lewat kepolosan Karde lah sebuah jawaban terkuak tentang keyakinan religius sebagian masyarakat Gumi Paer Rambitan, yakni Islam Wetu Telu (Islam Waktu Tiga).
Islam waktu tiga menurut tokoh Aku dianggap sebuah penyimpangan dari syariat Islam yang sesungguhnya. Pendapat tokoh Aku ditentang keras oleh Inaq Karde karena hal ini sama halnya dengan penghinaan terhadap warisan leluhur. Namun Karde pun ikut berontak terhadap persoalan itu karena Karde sudah terlanjur menjalin rasa cinta kepada Aku. Karde sudah menemukan jati dirinya yang selama ini gersang. Terlahir menjadi manusia sempurna lewat kerja keras dan perjuangan Aku.
Wujud syukur Karde atas keimanan yang sudah mampu ditatah dengan sempurna berakhir pada sebuah kematian. Kematianya bukan karena pelanggaran sebuah mitos tetapi karena semata-mata ridho Ilahi. Namun Inaq Karde tetap bersikukuh bahwa semua petaka yang melanda Gumi Paer Rambitan termasuk kematian putranya karena kehadiran tokoh Aku. Akhirnya tokoh Aku harus menjalani hukuman dan dijadikan tumbal arwah leluhur mereka. Namun dengan kekuatan cinta dan keimanan tokoh Aku dapat bertahan hidup dan memiliki kekuatan baru. ”Dalam cinta ada kepercayaan dan dalam kepercayaan ada kekuatan.”
Halil Subagiono, S.Pd.
Label:
Puisi dan Cerpen
17.41
Ibu, aku sangat merindukanmu
yang selalu ada disaat aku suka maupun duka
yang selalu ada disaat aku bertengkar dengan teman sebayaku waktu kecil
dan di dalam kemarahanmu itu terdapan nasihat untukku
engkau tidak pernah mengecewakanku ibu
tapi kini engkau tak bersamaku lagi
mengapa kita harus berpisah
mengapa tidak selamanya kita bersama
mengapa tidak maut yang memisahkan kita
aku ingin merasakan kebahagiaan
kebahagiaan hidup bersama kedua orang tua kandungku setiap harinya
perlu engkau ketahui ibu
aku merindukanmu
aku rindu saat negkau mamanjakanku
aku rindu saat engkau memarahiku ketika aku salah
aku rindu nasihat baikmu ibu
aku rindu, aku rindu padamu ibu
tapi kini aku sadari
ini semua memang sudah menjadi jalan hidupku
bahwa ini memang suratan dari yang kuasa
ALLAH maha tau yang terbaik untuk hambanya
aku akan bersabar, bersabar, dan bersabar
do'aku akan selalu ada untukmu ibu
Rinduku Pada Ibu
Written By MAN 1 PRAYA on Senin, 06 Oktober 2014 | 17.41
Oleh Dedi Hujjatul Islam
![]() |
| Sumber Gambar : http://rohissmansasy.wordpress.com |
yang selalu ada disaat aku suka maupun duka
yang selalu ada disaat aku bertengkar dengan teman sebayaku waktu kecil
dan di dalam kemarahanmu itu terdapan nasihat untukku
engkau tidak pernah mengecewakanku ibu
tapi kini engkau tak bersamaku lagi
mengapa kita harus berpisah
mengapa tidak selamanya kita bersama
mengapa tidak maut yang memisahkan kita
aku ingin merasakan kebahagiaan
kebahagiaan hidup bersama kedua orang tua kandungku setiap harinya
perlu engkau ketahui ibu
aku merindukanmu
aku rindu saat negkau mamanjakanku
aku rindu saat engkau memarahiku ketika aku salah
aku rindu nasihat baikmu ibu
aku rindu, aku rindu padamu ibu
tapi kini aku sadari
ini semua memang sudah menjadi jalan hidupku
bahwa ini memang suratan dari yang kuasa
ALLAH maha tau yang terbaik untuk hambanya
aku akan bersabar, bersabar, dan bersabar
do'aku akan selalu ada untukmu ibu
Label:
Puisi dan Cerpen
01.08
Cinta Terhalang Organisasi
Written By MAN 1 PRAYA on Jumat, 14 Februari 2014 | 01.08
Karya
: Lu’ Luul Jannatunnaim
Siswi kelas XII program bahasa MAN 1
Praya
Mentari pagi
mulai keluar dari peraduannya, menyapa para insan yang siap menjalani aktivitas
seperti biasanya, begitu juga dengan Raihan. Cewek imut, baik hati tidak
sombong, cantik, murah senyum dan pintar ini. Raihan adalah salah satu dari
sekian banyak siswa yang beruntung bersekolah di sekolah yang terbilang cukup
populer di Praya ini.
Seperti
biasanya, sebelum berangkat sekolah Raihan selalu membantu ibunya bersih-bersih
dan memanaskan mesin motor tua yang selalu menemaninya kemana saja dia pergi.
Tidak seperti kebanyakan cewek zaman sekarang yang gengsinya minta ampun jika
harus membawa motor tua kemana saja.
Raihan tetap
bersyukur karena dia masih diberikan kesempatan untuk mengeyam bangku sekolah
meski dengan fasilitas yang sederhana. Raihan juga adalah salah satu anggota
OSIS. OSIS yang memang selalu identik dengan yang namanya aktivitas yang super
banyaknya, sehingga jarang dari mereka harus menginap disekolah untuk
menyelesaikan tugas-tugas mereka.
Namun Raihan
tidak pernah mengeluh, meski jadwal kegiatannya selalu full setiap hari.
Seperti hari ini, Raihan harus pagi-pagi sekali berangkat sekolah karena ada
kegiatan OSIS nanti siang yang segala sesuatunya harus dipersiapkan dengan
matang.
Raihan
memijakkan kakinya di halaman depan sekolah yang belum terlalu banyak siswa
yang datang, baru hanya beberapa saja yang datang. Raihan mengedarkan
pandangannya kesekeliling penjuru sekolah, mungkin saja sosok yang dia harapkan
menjadi pendampingnya sejak beberapa minggu terakhir ini muncul secara
tiba-tiba di depan matanya.
Namun, sudah
beberapa menit ia mengedarkan pandangannya, sosok itu belum juga ia temukan.
Raihan melirik jam tangan yang menempel manis di tangan kirinya. “Pantes baru
jam 6.15, mana mungkin dia datang sepagi ini” desah Raihan dalam hati.
Dengan
langkah yang pasti, Raihan mengayunkan langkah kakinya menuju kelas XI-IPA di mana
dia berkelas. Sesaat mata Raihan terfokus pada sepasang kupu-kupu yang terbang
kian kemari dan hinggap pada salah satu bunga sepatu yang mulai mekar.
“Andai saja
aku bisa selalu pergi bersama Angga kemanapun aku ingin seperti kupu-kupu ini,
mungkin aku akan menjadi cewek yang paling bahagia di dunia ini” batin Raihan tanpa mengalihkan
pandangannya.
“Hayo lagi apa?”
terdengar suara cewek mengagetkan Raihan
Raihan
tersentak kaget “Ah kamu Rin,,, bikin aku kaget aja!”
“Lagian kamu
sih, masih pagi udah bengong sambil jongkok… Ntar kalau kamu kesambet setan
gimana?” ucap Ririn panjang lebar
“Siapa yang
bengong,, aku lagi ngamatin sepasang kupu-kupu itu!” ucap Raihan membela
dirinya
“Ohhhh…. Ya
udah kelas yuk!”
“Ya….”
Raihan dan
Ririn berjalan beriringan menuju kelas mereka yang tepat bersebelahan dengan
kantin, jadi tidak akan repot untuk mereka jika mereka lapar. Ketika mereka
baru ingin membuka pintu kelas, seorang cowok bertubuh tinggi tegap berlari
kearah mereka.
“Raihan….”
Teriak cowok itu yang jaraknya tinggal beberapa langkah lagi dari mereka.
Raihan
sontak menoleh kearah suara. “Angga” ucap Raihan lirih. Entah kenapa hatinya
langsung merasakan sesuatu yang aneh, suatu yang tidak seperti biasanya. Degup
jantungnya pun berdegup lebih cepat dari biasanya…
Untuk
sejenak ia terpaku melihat sosok Angga yang berjalan menuju arahnya. Diam-diam
Ririn memperhatikan sikap sahabatnya yang tidak seperti biasanya itu, Ririn akhirnya
mengerti mengapa akhir-akhir ini Raihan selalu tersenyum sendiri jika melihat
sosok Angga.
“Rai!” ucap
Ririn menyenggol tubuh Raihan untuk menyadarkannya
“Eh ya!”
ucap Raihan kaku
“Kamu
ngelamun ya?” bisiknya
Raihan hanya
diam dan menggelengkan kepalanya pelan.
“Eh Rai,,
nanti sebelum bel masuk tolong kumpul diruang OSIS ya!” ucap Angga setelah
jaraknya hanya beberapa senti saja dengan Raihan
“Kok pagi
banget sih kumpulnya? Bukannya nanti setelah bel istirahat ya?”
“Dimajuin!
Soalnya masih banyak persiapan yang belum rampung!”
“Oh!!”
“Kayak kamu
nggak suka aja ngumpul-ngumpul bareng dia!” celetuk Ririn yang sedari tadi
hanya diam
“Maksud kamu?”
ucap Angga mengerutkan alisnya
“Ah nggak
apa-apa kok lupain aja!”
“Kamu
apa-apain sih Rin!” ucap Raihan sinis
Ririn hanya
tersenyum jahil, ia tidak berani berkata apa-apa lagi kalau Raihan sudah marah
seperti itu.
“Ya udah
Rai, aku masuk kelas dulu ya!” ucap
Angga pamit
“Ya, sampai
ketemu di sana“
Angga tidak
menjawab, ia hanya mengangguk dan tersenyum manis. Senyuman yang mampu membuat
Raihan tersihir, yang juga mampu membuat degup jantungnya berdegup tak menentu
akhir-akhir ini.
“Aku tau kok
kalau kamu itu suka kan sama si Angga!”
“Hust… Ngaco
kamu! Angga kan udah punya pacar!”
“Meski Angga
udah punya pacar, tapi status pacaran itu nggak berarti kalau Angga itu nggak
bisa cari cewek lain! Bapak-bapak yang udah punya anak 3 juga masih suka goda
cewek lain!”
“Walaupun
begitu, aku nggak suka jadi perusak hubungan orang!” ucap Raihan meninggalkan
Ririn
“Kamu ngomong
begitu karena kamu takut kan!”
Ucapan Ririn
sontak menghentikan langkah kaki Raihan, ia memalingkan mukanya kearah Raihan.
Raut wajahnya menggambarkan tak mengerti akan apa yang diucapkan Ririn barusan.
“Maksud
kamu?” mengerutkan sebelah alisnya
Ririn
tersenyum simpul “Masa lalu sayang” ucapnya menepuk pundak Raihan.
Raihan
menundukkan kepalanya, entah apa yang dipikirkannya saat itu. Keheningan
mendekap mereka, Ririn merasa bersalah telah berkata seperti itu.
“Are you ok?”
tanya Ririn khawatir
Raihan tak
menjawab, ia masih menunduk dan terdengar dengan jelas suara desahan nafasnya.
Ririn hanya terdiam, ia tidak tahu harus melakukan apa. Hingga akhirnya Raihan
mengangkat wajahnya dan tersenyum simpul memandang Ririn.
“Aku
baik-baik saja kok! Dan sekarang aku harus kumpul nih! Ntar kalau kumpulin pr
kimia tolong kumpulin aku juga ya, buku aku ada di tas!” ucap Raihan sambil
berlalu
“Kamu
baik-baik saja kan?” teriak Ririn
Raihan
berbalik dan hanya tersenyum manis tanpa mengeluarkan sedikitpun kata-kata.
Ririn merasa sangat bersalah dan menyalahkan dirinya, tapi ia yakin kalau
Raihan pasti akan kembali ceria seperti biasanya.
***
Semua murid
dan guru berkumpul menjadi satu di lapangan fuutsall, sebentar lagi tim
fuutsall kebanggaan sekolah akan bertanding melawan tim fuutsall SMK 1. Seperti
biasanya jika ada acara yang menyangkut sekolah, OSIS selalu sigap dan siap
dalam segala hal.
Raihan
terlihat sibuk mondar-mandir dari lapangan keruang OSIS, entah apa yang dia
lakukan. Sedangkan Ririn hanya memperhatikannya dari kejauhan, kadangkala ia
merasa kasihan melihat Raihan yang selalu sibuk dan seakan tidak ada waktu untuknya
istiharat. Tapi bukan namanya Raihan jika cepat lelah dan menyerah.
Sebentar
lagi pertandingan akan dimulai, semua murid yang jadi tim supporter siap dengan
yel-yel masing-masing. Pertandingan berjalan dengan lancar, hingga tim lawan
berhasil menjebolkan gawang tim kebanggaan sekolah. Dan sontak saja semua
supporter berteriak kecewa.
Pertandingan
terus berjalan dengan alot, hingga tim kebanggaan sekolah menderita kekalahan
4-6. Semua murid dan juga guru kecewa dengan kekalahan itu.
“Ahh apa
nggak seru! Kalah di kandang sendiri apalagi besok di kandang lawan!” celetuk
salah satu murid yang kecewa dengan kekalahan tim sekolah
Raihan hanya
diam mendengar semua pendapat masing-masing temannya yang berbeda-beda itu.
***
Seperti
biasanya jika tidak ada guru, Raihan selalu menyempatkan dirinya untuk membaca
novel yang dipinjamnya dari Ririn. Raihan memilih untuk menyendiri di pojok
kelas biar nggak ada yang mengganggunya membaca novel. Ririn yang baru kembali
dari kantin bingung sendiri mencari-cari Raihan, diedarkannya pandangannya,
tapi tetap saja ia tidak menemukan sosok Raihan.
“Eh Nan,
liat Raihan nggak?” tanyanya ke Nanda yang lagi khusuk ngotak-atik laptopnya
Mengangkat
wajahnya yang sedari tadi menunduk “Nggak tau, mungkin dibelakang atau perpus!”
jawabnya singkat
Ririn
menarik nafas berat mendengar jawaban Nanda yang sedikit acuh. Hingga ia
akhirnya memutuskan untuk mencari Raihan disetiap pojok kelas yang sebenarnya
tidak terlalu luas itu.
“Tuh dia ni
anak!” melihat Raihan duduk dipojok belakang kelas
Ririn
menghampiri Raihan yang sedang khusuk membaca novel.
“Disini
ternyata kamu!” ucap Ririn setelah disamping Raihan
“Emang
kenapa?” tanya Raihan tanpa menoleh
“Nggak ada
sih, aku cari kamu aja!”
“Oh”
Ririn
membuka snack yang tadi dibawanya “Mau nggak?” menawarkan Raihan
“Nggak
makasih Rin”
Mereka
kembali pada kesibukan mereka masing-masing, hingga Ririn kembali membuka
pembicaraan.
“Eh ya kamu
udah tau belum tentang Angga” setengah berbisik
“Angga?”
menatap Ririn dan mengerutkan keningnya
“Ya Angga”
jawab Ririn mantap
“Ada apa
dengan dia?” menutup novel yang dibacanya dan membenarkan cara duduknya
“Dia udah
putus sama Anya!”
“Kok bisa?”
“Nggak tau
juga, tapi kata temen-temen itu sih mereka udah nggak ada kecocokan lagi. Terus
kalau katanya Lala sih…..”
“Lala? Lala
yang mana?” memotong ucapan Ririn
“Nggak usah
motong pembicaraan orang dulu napa! Lala temennya Anya itu loh..”
“Oh terus?”
“Katanya sih
Angga mau sendiri dulu, tapi kalau feelingnya Lala sendiri Angga itu lagi suka
sama cewek lain”
“Oh gitu!
Terus hubungannya ama aku apa?”
“Ya ini kesempatan
kamu deketin Angga lah!”
“Nggak ah,
aku nggak mau dicap sebagai cewek perusak hubungan orang. Lagian aku juga udah
seneng bisa deket kayak gini sama Angga!”
“Deket?
Deket gimana maksud kamu?” tanya Ririn tak mengerti
“Emang aku
nggak pernah cerita ya?” ucap Raihan balik nanyak
Ririn
menggelengkan kepalanya.
“Ya udah aku
certain sekarang!”
Raihan
menarik nafas panjang dan mulai menceritakan semua yang dialaminya beberapa
minggu terakhir ini tentang kedekatannya dengan Angga, yang mulai membuatnya
merasakan sesuatu yang berbeda dengan Angga.
“Jadi kamu
udah deket sama dia?”
Raihan
mengangguk pelan dengan senyuman manis menghiasi bibir mungilnya. Rasa yang
berbeda itu kembali memeluknya dengan hangat, entah kenapa setiap kali ia
mendengar nama Angga, cerita tentang Angga, ngomong bareng Angga, ia selalu
merasa bahagia.
***
Hari-hari
berlalu seperti biasa, namun sesuatu yang baru mulai menghampiri diri Raihan.
Kedekatannya dengan Angga akhir-akhir ini membuat dirinya semakin memiliki rasa
sayang untuk Angga. Hingga hari ini ia benar-benar tidak menyangka akan apa
yang barusan dikatakan Angga. Angga menyatakan cintanya setelah cukup lama
kedekatan ini ia jalani.
“Aku
sebenarnya suka sama kamu Rai, mau nggak kamu jadi pacar aku?”
Begitulah
kata yang diucapkan Angga tadi sore, ditaman depan sekolah dengan suasana yang
cukup romantis. Hujan gerimis yang turun sedang dengan rona awan yang merah
keorange yang membuat suasana sore itu menjadi romantis menurut Raihan.
“Aku… Aku
nggak tau Ngga, kasih aku waktu untuk berpikir dulu!”
“Tenang aja
Rai, aku juga nggak mau kamu nerima aku karena terpaksa, aku siap kok nunggu kamu
sampai kamu mau nerima aku!”
Semua yang
mereka bicarakan tadi sore masih saja terngiang di telinga Raihan. Kini Raihan
bingung harus menjawab apa. Jika ia menerima Angga, berarti ia telah melanggar
sumpah OSIS dan sudah menghancurkan hati Anya, tapi perasaannya tidak bisa
disembunyikan lagi.
Tapi, kalau
dia tidak menerima Angga, ia takut untuk mengecewakan Angga dan juga tentunya
hatinya sendiri. Di tengah kebingungan hati dan pikirannya untuk menentukan
keputusan apa yang akan diambilnya, hpny berdering yang menandakan ada telpon
masuk.
Diraihnya hp
yang ada diatas meja belajarnya, dilihatnnya nama yang tertera dilayar monitor hpnya. “Ririn, kebetulan dia nelpon”
batin Raihan.
“Halo… Ada
apa Rin?” ucap Raihan menyapa duluan
“Halo juga,
nggak ada apa-apa. Cuma mau nanyak kamu lagi dimana?”
“Dirumah,
ada apa?”
“Aku kesana
ya, ada yang mau aku omongin!”
“Ya udah aku
tunggu!”
Raihan
menutup telponnya, belum saja Raihan menaruh kembali hpnya, Ririn sudah saja
nongol didepannya.
“Loh kok
kamu udah di sini? Bukannya tadi baru mau jalan ya?”
“Hehehehe….
Aku udah ada didepan rumah kamu dari tadi tau, terus mau jalan kekamar kamu!”
“Oh, tapi
lain kali jangan kayak gini lagi, bikin kaget aja! Eh ya, katanya mau ngomong,
mau ngomongin apa?”
“Mau nanyak,
kata temen-temen itu tadi sore kamu ditembak Angga ya?”
“Ditembak?
Ya matilah aku kalau ditembak!” jawabnya sedikit bercanda
“Nggak usah
becanda deh! Serius nih!”
“Ya ya, udah!”
“Terus?”
“Terus apa?”
“Kamu terima
dia apa nggak?”
“Belum aku
jawab!”
“Kenapa?”
“Ya
begitulah!”
Pembicaraan
mereka terus berlarut tentang Angga hingga larut malam. Mereka bertukar pendapat
tentang pandangan mereka terhadap Angga, Anya dan teman-teman yang lainnya jika
mereka tahu kalau Raihan dan Angga pacaran.
“Jangan
dengerin kata orang ok! Yang jalanin itu semua kamu, bukan mereka! Jangan
dijawab aku mau pulang, sampai ketemu besok pagi!” ucap Ririn akhirnya setelah
perdebatan panjang mereka tentang Angga.
“Ya udah
hati-hati!”
Ririn
akhirnya pulang dan Raihan kembali larut dalam kebingungan hati dan pikirannya.
Pilih Angga atau Organisasi. Raihan masih bingung ! Ia mencoba untuk tidak memikirkan
hal itu, hingga ia terlelap dalam tidur indahnya.
***
Hari yang
sudah dijanjikan Raihan untuk menjawab pertanyaan Angga tempo hari sudah tiba,
sebenarnya ia masih bingung untuk manjawab apa, tapi Ririn selalu mencoba untuk
meyakinkannya untuk menerima Angga.
“Aku tunggu
kamu nanti pulang sekolah ya!” ucap Angga saat mereka berpapasan
Raihan tidak
konsen mengikuti pelajaran dari jam ketiga sampai terakhir, ia terlalu gelisah
dengan apa yang akan terjadi nanti.
“Udahlah
tenang aja, semua akan baik-baik aja kok!” ujar Ririn menenangkannya.
Raihan
mencoba untuk mengikuti saran Ririn agar tidak terlalu khawatir dan grogi, tapi
tidak bisa. Hingga akhirnya bel pulang berdering, Raihan semakin tidak bisa
tenang, jantungnya berdegup tak menentu, tangannya dingin sedingin es. Ririn
hanya tersenyum simpul melihat kelakuan sahabatnya itu.
“Kamu itu
kayak orang yang mau pergi olimpiade aja!”
“Udah ah
diem aja!”
“Ya ya”
Raihan
melangkahkan kakinya menuju taman belakang dimana Angga telah menunggunya
didampingi Ririn, namun Ririn hanya sampai gerbang saja.
“Udah sana
jalan! Ganbatte!”
Raihan
mengangguk, ia berjalan mendekati Angga dan menyentuh pundak Angga dengan pelan
hingga mampu membuat Angga sedikit terkejut.
“Eh Rai..
Ayo duduk!”
Raihan mengikuti
kata Angga. Mereka berdua terdiam cukup lama hingga Raihan memberanikan dirinya
untuk bicara duluan.
“Masalah
yang tempo hari…..”
“Ya….”
Penasaran menunggu ucapan Raihan selanjutnya
“Aku mau…”
“Yes!”
Raihan
tersenyum melihat ekspresi Angga yang seperti anak kecil yang menang
pertandingan bola.
“Tapi, kamu
harus janji buat nggak kasih tahu siapa-siapa!”
“Janji!”
Hari ini
menjadi hari yang paling membahagiakan bagi Raihan dan Angga, namun diam-diam
Raihan masih menyimpan rasa takut, takut karena telah melanggar sumpah OSIS,
takut dicap sebagai cewek penghancur hubungan orang dan takut jika suatu saat
nanti ia harus dikeluarkan dari OSIS.
***
Hari terus
berganti tanpa jeda, hubungan Raihan dengan Angga semakin harmonis, namun
kedekatan mereka membuat teman-teman sekolah maupun Raka siketua OSIS menyimpan
seribu pertanyaan dan kecurigaan.
Kecurigaan
teman-temannya dirasakan oleh Raihan, namun apa yang harus dilakukannya, nasi
sudah menjadi bubur. Kini Raihan tinggal menunggu apa yang akan terjadi
selanjutnya pada dirinya.
Benar saja,
hari ini semua anggota OSIS diharuskan kumpul diruang secretariat OSIS tanpa
terkecuali. Raihan merasa akan ada sesuatu yang buruk terjadi padanya, ia
mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri dan selalu berpikir positif, namun
tidak bisa. Raihan terus gelisah, hingga waktu yang telah ditentukan untuk
berkumpul diruang sekretariat tiba.
“Sebelumnya
saya ucapkan terima kasih kepada kalian semua karena sudah menyempatkan diri
hadir dalam rapat hari!.... Langsung saja, hari ini kita akan membahas tentang masalah
pelanggaran sumpah OSIS!” ujar Raka siketua OSIS membuka rapat.
Deg… Jantung
Raihan berhenti berdetak satu detik dan berdetak tak menentu, fillingnya
tentang hal ini akan terjadi benar-benar terjadi. Raut wajah Raihan yang
tadinya seperti biasa langsung berubah pucat pasi, telapak tangannya dingin
sedingin es dan jantungnya berdetak tak karuan.
“Kamu nggak
apa-apa kan Rai?” tanya Ita yang duduk di sebelahnya
“Nggak apa-apa
kok, cuma pusing sedikit aja!” bohongnya
Rapat terus
berlanjut sampai tiba pada titik permasalahannya yang membuat Raihan semakin
tidak tenang, sedangkan Angga yang sesekali dilirik Raihan terlihat tetap
tenang seperti tidak akan terjadi apa-apa.
“Mungkin
teman-teman sesama anggota OSIS juga merasakan apa yang seperti saya rasakan!”
ucap Raka
“Kalau boleh
saya tau itu apa ya pak ketua?” tanya Bagas pura-pura tidak tahu.
“Anda jangan
pura-pura tidak tau seperti itu! Kita semua disini itu sudah tau yang sebenarnya!”
ucap Raka melihat Angga dan Raihan bergantian.
Raihan
menatap Angga yang sedari tadi diam dengan sekilas dan buru-buru menundukkan
kepalanya.
“To the poin
aja Raka!” ucap Sisil
Raka
mengangguk mantap “Ok, to the poin aja yah! Kita semua disini sudah tau apa
yang sebenarnya terjadi diantara kalian…” menggantungkan ucapannya dan milihat
Angga dan Raihan bergantian.
“Saya rasa
kalian berdua tau apa yang saya maksudkan, dan sekarang kalian akan memilih,
apakah kalian akan tetap jadi anggota OSIS dan kalian hanya berteman atau
diantara kalian ada yang ingin mengundurkan diri?” tanya Raka tegas
Raihan kaget
mendengar perkataan Raka, kini ia harus memilih salah satunya, sedangkan ia
masih ingin menjadi anggota OSIS dan tidak mungkin juga harus putus dengan
Angga. Sedangkan Angga tetap saja diam, seakan ia tidak mau tahu dengan apa
yang terjadi sekarang.
Tanpa terasa
air mata mengalir membasahi pipi Raihan, ia tidak tahu harus melakukan apa.
Semua anggota OSIS yang hadir hanya diam, diantara mereka belum ada yang berani
angkat bicara, mereka masih menunggu keputusan Angga dan Raihan. Cukup lama
kebisuan mencekam mereka, hingga akhirnya Raihan angkat bicara.
“Jujur, aku
bingung harus memilih yang mana, ini adalah pilihan yang berat. Menjadi anggota
OSIS, aku masih mau. Sedangkan harus menjadi teman biasa…” menarik nafas
panjang “aku belum bisa!”
Raka melihat
Angga “Terus bagaimana dengan anda?”
“Aku tidak
tau, aku juga bingung!” jawab Angga singkat
“Anda itu
laki-laki, jadi anda harus bisa memilihnya !” jawab Raka tegas
Baik Angga
maupun Raihan tidak ada yang berbicara, mereka hanya diam. Raihan masih
menangis sesenggukan, ia tidak bisa menjawab apapun.
“Jika
diantara kalian tidak ada yang bisa menjawabnya, berarti salah satu diantara
kalian harus ada yang mengundurkan diri!” ucap Raka akhirnya
Raihan
semakin menitikkan air mata, ia sudah tidak sanggup lagi mendengar semua
kata-kata yang keluar dari bibir sang ketua. Raihan ingin sekali rasanya keluar
dari ruangan ini, namun ia tidak mampu, ia yang telah mengambil keputusan untuk
menjalani hubungan ini dengan Angga dan sekarang ia harus berani menanggung
semua akibatnya.
“Aku akan
mengeluarkan diri dari keanggotaanku di OSIS! Dan aku minta maaf jika
perbuatanku selama ini membuat kalian kecawa, sekali lagi aku minta maaf!” ucap
Raihan akhirnya
Raihan
berlari keluar meninggalkan ruangan secretariat. Angga ingin mengejarnya, namun
dihalangi oleh Ita dan Bagas.
“Biarkan
saja dia sendiri dulu, mungkin hal ini belum bisa dia terima!” ucap Bagas
Angga
mengurungkan niatnya dan kembali duduk ditempatnya semula, namun jujur dari
hatinya yang terdalam ia merasa bersalah. Ini semua sepenuhnya bukan salah
Raihan, namun dirinya, karena dirinya lah yang lebih dulu menceritakan ini
semua kepada Bima sahabatnya, dan mungkin saja ada yang mendengarnya.
Sedangkan
Raihan masih terpuruk dengan ini semua, ia masih belum bisa menerima kenyataan
yang sebenarnya. Meskipun ia telah rela melepaskan jabatannya di OSIS, ia juga
harus rela melepaskan Angga, orang yang dicintainya. Namun Raihan tetap
berusaha menerima ini semua dengan sabar.
“Mungkin ini
semua sudah takdirku dan mungkin juga Angga bukanlah yang terbaik untukku. Aku
tidak boleh terus terpuruk seperti ini, aku harus bangkit! Aku akan membuktikan
kalau aku bisa tanpa Angga!” tekad Raihan.
Memang ini
bukanlah hal yang mudah bagi Raihan, namun ia tetap harus menerimanya. Biarlah
ia merelakan cintanya kandas oleh organisasi ini, asalkan semuanya kembali
seperti sediakala dan tidak ada lagi kesalah pahaman diantara teman-temannya.
“Cinta tidak
selamanya harus saling memiliki, namun cinta yang sejati adalah cinta yang
diberikan tanpa berharap ia kan membalasnya.”
SEKIAN
PRAKARTA
Alhamdulillah
akhirnya cerpen yang nggak terlalu panjang ini jadi juga, setelah kurang lebih
1 minggu peras otak untuk menempatkan kata-kata yang tepat dan merangkainya
menjadi cerpen ini (lebay banget, banget aja nggak lebay… hahahay).
Aku nulis
cerpen ini karena terinspirasi dari kisah teman-teman kita di OSIS, ini kisah
nyata loh ! Meski hanya 80% nya sih, tapi nggak apa-apa yang penting jadikan.
Thanks ya buat kalian yang udah memberikan aku inspirasi yang berharga ini. And
sorry banget ya kalau aku nggak ngomong dulu sama kalian kalau aku udah ambil
kisah kalian jadi cerpen aku.
Terus thanks
juga buat si ketua OSIS, M. Zakaria karena udah baik banget kasih tau tentang
masalah yang menyangkut OSIS meski hanya sedikit, tapi itu berguna banget buat
cerpen aku ini. Terus buat temen aku yang aku samarin namanya jadi Angga, Anya
dan Raihan, sory banget ya kalau kisah yang aku tulis ini agak melenceng dari
kisah kalian yang sebenarnya, karena aku takut kalau aku tulis cerita yang
aslinya, ntar identitas kalian ketahuan donk !
And yang
terakhir,, aku sayang sama kalian semua!!!
Label:
Puisi dan Cerpen

