Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Puisi dan Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi dan Cerpen. Tampilkan semua postingan

Refleksi Perjuangan Anak Negeri

Written By MAN 1 PRAYA on Rabu, 14 Oktober 2015 | 23.38


Angin di ujung waktu

mencakar angan

dalam jubah waktu

Tak pasti

Langit menangis

mendesah meratap nasib anak negeri

kehilangan ozon

tempat berpijak

kehilangan perawan kepercayaan

tempat berpegang

Gumi paer sapu jagat pun bertanya:

"Kemana arah parahu didayungkan

tuk membawa keselamatan diri?"

Anak negeri menjawab tanpa beban:

"Biarlah parahu kami kayuh

ke sebuah negeri tak bertuan

sebab kami bosan diperbudak sebagai objekan

oleh sebuah sistem mati yang dibudayakan

dalam jubah korupsi, kolusi, dan nepotisme

kami pun tak bisa bilang Tak!

kami selalu dihujani intruksi dengan alasan basi

kami selalu dicekoki logika-logika kebohongan

kami selalu dicekoki rumus-rumus palsu

hamparan nilai-nilai palsu

yang melahirkan ijazah dan jabatan palsu yang dibisniskan dan

tanpa pernah tahu akan maknanya

meski di rumah sendiri."

Mentari menjawab:

"Keringkan keringat kotor dalam pikiran kotormu dengan Cahyaku

Anak-anak negeri tatap sembilu wajahku

dalam setiap jengkal laju perahumu

di balik rimbun cahyaku akan terjawab

negeri yang kalian cari

ada dalam pikiran dan denyut jantung kalian

dalam tasbih kebenaran

dalam jubah ayat-ayat perlindungan

dalam reformasi birokrasi yang dimandulkan

dalam lembaran surat-surat sakti perjuangan yang berdarah

bagimu anak-anak negeri."

(Halil Subagiono: HGN 2014)

Biodata:

Nama : Halil Subagiono

Pekerjaan : Pengasuh Anak Negeri antikorupsi

Alamat : BTN Puyung Indah Blok A/8 Puyung

Praya Lombok Tengah Hp 081805280912

Tuhan Bolehkah Aku Jujur

Written By MAN 1 PRAYA on Jumat, 26 Desember 2014 | 16.14

 Oleh Desi Wahyuningsih (XII IPS 1)

Assalammualykum Wr.wb

Puisi ini aku persembahkan untuk

Teman2ku yang pernah Merasakan

Bagaimana Suasana Hati sang Anak kost tetutama teman2ku DI MAN 1 PRAYA yang ngekost, Baca yang Pelan Ok.

judul : TUHAN BOLEHKAH AKU JUJUR ??

By : Desy Wahyuningsih


Tuhan, Bolehkah Aku Berkata Jujur ?

Tuhan, Semua Orang Pasti Tidak Selalu Berdusta, Dan Pernah Menyentuh dan disentuh oleh Kejujuran.

Tuhan, Firmanmu akan Kejujuran pasti tak akan Berani Aku Ragukan.

Tuhan, terlalu Bawah Derajatku untuk Menentang Nilai-Nilai Kejujuran.

Tuhan, Benarkah jujur itu adalah kata

yang mudah diucap, namun sulit untuk didapat?.

Tuhan, Percayalah Saat ini aku sudah

Mendapatkan kejujuran.

Tuhan, Aku Bukan hanya

Mendapatkannya, Namun, Aku Telah

merasakan genggaman-Genggaman
kejujuran yang membuatku TerDiam. Dan Mereka Juga Mustahil Tak Pernah

Menggenggamnya.

Tuhan, Genggaman itu Semakin Erat,

Genggaman itu Semakin Membuatku

berani Angkat Bicara !

tuhan, Detik-Detik Rayuan Suara

Lembutpun tidak mau Diam, Mereka

saling Beriringan dan Membisikku.

Tuhan, kini aku Semakin Berani Angkat Bicara Dengan Dorongan Bisikan-Bisikan itu !

Tuhan, Bukan hanya Aku, Tapi juga

Mereka.

Tuhan, Bolehkah aku hanya Menyentuh kejujuran tanpa Di iringi dengan genggaman?.

Tuhan, Bolehkah aku Terus Memberanikan diri untuk angkat Bicara ?

Tuhan, Dengarkan

Tuhan, Dengarkan

Tuhan, Dengarkan

Tuhan, JUJURKU BERKATA SAAT INI AKU SEDANG LAPAR

Hahahahahahahahahaha

Semoga Bermanfaat Kawan ;-)

Assalammualykum wr.wb

Pilih Salah Satu

Oleh Desi Wahyuiningsih ( XII IPS 1)


Cerita ini Terinspirasi dari salah Satu Guru Di MAN 1 PRAYA, pengalaman saya sendiri dan Maraknya RAZIA MOTOR yang terjadi Di kalangan Antar pelajar,

Cerita ini hanya piktif Belaka, Jangan Di tiru !

Hanya Sebagai Hiburan !!!!


Vivin: Kak Desy Razia Tie kak

Desi : Mbe ? Mbe ? Aduhhh Kelolosan

wah.

Pak Polisi : Stooooppppp!!!.

Desi : Assalammualykum wr.wb Bapak ( Salaman ).

Pak polisi : Mau kemana ini ?

Desi : Sehatm pelinggihm pak ?

Sampunm Medaran Bapak ?

Pak Polisi : Pulang sekolah Gak pakai

Sepatu, Temenmu yang di belakang gak pakai Jilbab lagi.

Desi : Mau ke Peken Renteng niki pak, Kan ada temen saya di belakang yang pakai Sepatu, Tetus masalah temen saya yang gak pakai jilbab itu, kan saya yang mewakili pak

Pak Polisi : Kamu ini ! KTP'mu mana ?

Desi : Vin Buka tas ambilin Kartu pelajar Di Dompet

Vivin : Ya alloh kak kelegerkh ni kak

arann.

Desi : Niki pak, Niki Kartu pelajar Ndek Bedoe KTP, Baru kmarin saya ulang tahun pak, Jadi saya Baru kemarin Berumur 17 tahun, Hehehe Muda pak, Masih Muda :-D.

pak polisi : ya Sudah, STNK'mu Mana ?.

Desi : Vin pembaitkh Kartu Smester Tie arik.

Vivin : Kan jelo Sabtu terakhirth smester kak ( Berbisik ).

Desi : ya udah, pasti pak polisinya ngira kita slesai smester Hari Senin kayak anak SMK.

Vivin : Takutkh haram.

Desi : Niki pak, Surat Kartu Smester tiang.

Pak polisi : mana STNK ?.

Desi : Gak ada pak gak saya bawa,

makanya saya kasih itu pak kan tadi

ceritanya telat terus buru2 pak jadinya lupa Bawa pak, Maafin ya pak (Nyengir).

Pak polisi : Ooh ya, Mana SIM ?

Desi : Gak punya SIM PAk, saya cuma

punya SIMMM.

Pak polisi : Mana bapak lihat ?.

Desi : Vin ambilin SIMMM tie lek

dompetkh.

Vivin : Aruan kakak takutko.

Desi : Niki pak SIMMM (Surat izin Masuk Mini Market).

pak Polisi : Mana SIM'mu ?.

Desi : Gak punya SIM pak, Saya cuma

punya SIMMM.

Pak Polisi : Anak mana ?.

Desi : Insya alloh anak bain Cucu adam pak.

Vivin : Hahahahahahaa.

Pak polisi : Hahaha Dari mana ?

Desi : Dari Dunia Menuju akhirat

Berharap singgah di surga kemudian

melihat senyum manis Bapak Tercinta.

Vivin : Hahaahaha.

Pak polisi : Hahahaha Ya sudah Boleh

jalan, Besok Suruh bapaknya yang

Menemani Buat SIM ya.

Desi : Siap siap siap Siap.

Pak polisi : Ya sudah Hidupkn Mesin dan Hati- hati di jalan.

Motor pun hidup . . . . . .

Pak polisi : Sebelum pergi bapak mau tanya kamu dulu.

Desi : Eeeee masih ada lagi ? tanya apa lagi pak?.

pak polisi : Besok kan kamu mau bikin SIM, Biar tidak keliru nantinya Bapak Mau kasih tau kamu Apa sih arti dan kepanjangan Dari SIM tersebut.

Desi : Ooohhh tak udah khawatir akan hal itu pak, tau saya pak.

pak polisi : Ooo, Apa kepanjangan dari SIM itu?.

Desi : SIM itu ( Surat Izin

Membunuhmu )

kaaaaaabbbboorrrrrrr . . . . Taker teeeee SIM, polisi ndekm tau pendak Razia endahn.

Nanti Bilangnya Razia ujung-ujungnya uang Rp. 50.0000.00 yang main, Pasrahkh tiang, Razia-Razia Bae aneh Basen Pak Munawar Kholil lek kelas XII ips 1

Hidup adalah Pilihan

Oleh Selamat Anwar Sadat
Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam IAIN Mataram & Alumni MAN 1 Praya Tahun 2011

Hidup adalah pilihan

Maka tentukanlah pilihanmu

Sebelum pilihan menentukan hidupmu

Jangan pernah katakana apa yang kamu ketahui

Tapi ketahuilah apa yang kamu katakan

Cinta datang bukan karena kemauan tetapi karena kecocokan

Uang bukan segalanya

Tetapi segalanya butuh uang

Hidup ini tidak mudah

Tapi tak ada yang tak mungkin dan tak ada yang sulit

Masalah adalah tanda

Bahwa kita seamakin dekat dengan kesuksesan

Jadi orang penting memang baik

Tapi menjadi orang baik jauh lebih penting

Cinta Lewat Bahasa


Oleh Nurmila Jumiati (XII Keagamaan)


Pagi nan cerah menyinari pelupuk mata,,,tergores rasa bahagia menyelimuti hati gadis elok nan ayu.Di bawah kesejukan mentari pagi, ia tersembari duduk penuh hayalan, terdengar kicauan burung nan riang di atas semerbak kebahagiaan.Diantara cintanya dengan seorang pria yang hidup serba kekurangan,namun bagi gadis elok nan ayu itu, kekurangan seorang pria adalah suatu hal yang biasa yang harus ia terima.Pria itu bernama "ZAIDAN"

Di desanya gadis itu terkenal berwibawa," siapa yang tidak tau sosok wanita seperti dia" di desanya dia adalah seorang wanita yang lemah lembut seperti namanya yaitu "LATIFA"

Kehidupan gadis ini tidak jauh seperti kehidupan laki laki yang ia dambakan dalam hidupnya "penuh kesederhanaan"

Perjalanan cinta tanpa pertemuan yang selama ini dia jalani bersama pujaan hati.Namun ia tak pernah mengeluh dengan semua itu,karna di antara mereka memiliki misi cinta yang suci yaitu "Seindah indah cinta adalah tanpa pertemuan" dan kenikmatan cinta adalah cinta yang lahir atas restu dari sang maha pencipta"

Bagi mereka cinta dan mencintai itu tidak salah.Karna itu merupakan sebuah ekspresi yang lahir dan fitrah cinta di dalam diri mereka.Namun yang terpenting adalah bagaimana dirinya me- manage cinta sehingga tepat pada fungsinya.Oleh karena itu bagi mereka cinta itu butuh sebuah menejemen bukan pertemuan.

****

Kicauan burung terdengar merdu bersahutan,,,,ia melewati hari yang panjang penuh penantian,,membalut kerinduan yang teramat dalam pada sang kekasih tercinta. Latifa gadis elok itu termenung di balik serambi pinggir kamarnya,ia merenungi kerinduannya dan berpikir, "apakah yang harus aku lakukan tuk mengobati rasa rindu ini padamu wahai kekasihku" sambil meneteskan air mata, ia lalui kerinduaan itu dengan kesetiaan dan kesabaran.

Waktu terus berlalu,kerindukan semakin mendalam di rasakan latifa,tiba tiba getaran hp terdengar di bawah selimut yang tertata rapi di tempat tidurnya,dan ketika itupun tanpa berpikir panjang, latifa langsung beranjak dari tempat duduknya,diiringi perasaan hati yang bergemetar penuh rasa bahagia,karna keyakinanya sang kekasih menelponnya.

Ia langsung mengangkatnya dan sambil tersenyum, seraya mengucapkan

" assalamualaikum ya Zaidan"

Mendengar ucapan salam yang terucap dari bibir manis latifa, Zaidan pun tersenyum dan seraya menjawabnya.

"wa'alaikumussalam ya Latifa" dengan perasaan malu ia bertanya "

"gimanakah kabarmu wahai pujaan hatiku" Dengan bahagia yang tergores dalam Qolbunya iapun menjawab

" bi hoir walhamdulillah sang dambaan hatiku"?

" Iapun kembali bertanya pada Zaidan!"

" kalo" kamu gimana kabarmu ya Zaidan?"

" Zaidanpun menjawab "Alhamdulillah bi hoir ya latifa"

Waktu terus berlalu,, asyiknya ngobrol semakin lama semakin terasa,mengobati rasa rindu yang sekian lama tertata rapi di dalam hati latifa.Tak di sadari ngobrol berlangsung selama 1 jam di antara mereka,di iringi rasa bahagia,senyuman yang terkesan manais dalam hati.

Saat detik detik akhir telponnya,Zaidan dengan keyakinannya ia mengucapkan pada latifa "faa aku sangat mencintai mu,,tiada lain cintaku ini tertata rapi dalam hati semata karna Allah,meski di antara kita jarang bertemu,namun yakinlah faa,hati ini selalu merindukanmu,dalam doaku selalu hadir namamu,jagalah hati ini ya faa,yakinlah bahwa Allah akan mempertemukan kita besok ketika waktu telah tiba,,,jaga dirimu baik baik ya,,, aku mencintaimu,mendengar kata Zaidan yang penuh kasih sayang,,berlinang air mata jatuh di pipi mungil latifa,,sebelum ia membalas ucapan terakhir darinya,,,terus terbayang apa yang di bilang Zaidan itu,ia terus menangis,dimana tangisan itu adalah tangis bahagia.Dalam hatinya ia semakin merasa kagum terhadap sosok solehnya pria yang ia dambakan,

Air mata terus berlinang di mata nan sipit indahnya,,dalam keadaan menangis,,ia berkata yaa Zaidan,,kekasih yang aku dambakan,,mungkin dengan lisanku ini tak kan cukup untuk ku curahkan isi hati ku yang sebenarnya kepadamu,,namun satu hal yang harus kau tau,,aku mencintaimu juga,dimana rasa cinta ini aku curahkan kepadamu tiada lain karna Allah semata,dalam doaku juga selalu hadir namamu,,,aku selalu meminta,,agar cinta kita mendapat restu dari sang maha cinta,yang akan mempertemukan kita saat tiba waktunya.

Mendengar kata sang kekasih, Zaidan pun ikut meneteskan air mata,,padahal dalam hidupnya ia adalah sosok pria yang paling sulit meneteskan air mata,,namun ketika mendengarkan kata kekasih tercintanya,namun karna rasa syukur dan kekagumannya ia memiliki seorang kekasih seperti Latifa,tanpa di sadari iapun meneteskan air mata .

Waktu terus bergulir,, teriring suasana tangis di antara sepasang kekasih itu,,tiba tiba terdengar panggilan ibu di luar rumah,,dan ketika itupun Latifa meminta izin pada Zaidan untuk menutup telponnya,dengan suaranya yang lemah lembut, ia berkata!

"ya Zaidan,sampai disini dulu ya pembicaraan kita,,tiag di panggil sama ibu"

"nanti kita lanjutkan lagi gich??

"Gich Latifa"

"nanti saya telpon lagi"

"jaga dirimu baik baik,dan percayalah aku mencintaimu karna Allah faa"

"Assalamualaikum wr wb"

Dengan perasaan yang berbunga bunga iapun menutup telponnya,seraya menjawab!

"gich dannn, saya mencintaimu juga karna Allah"

"Wa'alaikumussalam wr wb"

Ketika salam telah terucap dari bibir merahnya,ketidak tenangan hatinya yang tiba tiba di rasakan Latifa.Ia berlari menemui ibunya dengan gugahan hati yang tidak tenang,seolah olah dalam hatinya ia merasa ada hal buruk yang mungkin terjadi pada dirinya.

Dengan sekejap waktu terlewati,dengan muka penuh takut ia pun datang menemui ibunya dan seraya berkata?

"ia ibu,,, ada apa!! koq manggilnya teriak teriak gitu?

Melihat ekspresi wajah ibu yang seolah olah tampak marah dan kecewa pada dirinya,,iapun semakin takut,jika ibunya benar benar marah kepadanya.

"maaf ya faa,,tadi ibu dak sengaja lewat di depan pintu kamarmu,mendengar pembicaraanmu dengan seorang yang mungkin ibu belum kenal"? apa bener faaa? kata sang ibu.

Owh iyaa buu,,,tadi memang ada seseorang yang telpon saya ,,yang memang ibu belum kenal?

Siapa itu nak?

Anukkkk buukk….?.

Siapa nakk? (seru ibu kembali ).

Jawablah ibu dengan jujur nak,apakah sekarang kamu punya temen deket?

Hemmmm….. Iyaa bukkk?

Siapa itu nak? Dan darimanakah dia?

Latifa dengan perasaan takut, mengatakan yang sebenarnya pada ibunya,karna selama ini ia tidak di perbolehkan pacaran sebelum wisuda,dengan tujuan agar ia lebih terfokus sekolah dulu.

Latifaa hanya bisa menunduk ke bawah,dan kembali melihat wajah ibu yang kelihatan khawatir kepadanya.

Kenapa diam nakk? Ayo jawab ibu,,,

Emmmmm,,,iya buuu,,tapi sebelumnya tiang minta maaf pada ibu,,karna selama ini tiang gak pernah cerita sama ibu,,yang telpon saya tadi itu namanya Zaidan buu? (jawab Latifa dengan perasaan takut)

Owhhhh jadinya begitu…?

Nakk selama ini kan kamu tau betapa besar sayang,cintanya ibu sama kamu ,dan berapa kali ibu berpesan sama kamu,janganlah terlalu dekat sama laki laki,apalagi sampai kamu berpacaran,ibu bilang begini karna ibu kawatir sama kamu nak,,kamu adalah tulang punggung bagi adekmu kelak ,kamu adalah anak perempuan satu satunya ibu,dan aku ingin kamu tumbuh jadi anak yang bisa membanggakan kedua orang tuamu.

Ibu tau, sekarang kamu udah besar,sudah bisa menentukan arah kehidupan mu.

"(kata sang ibu sambil mengeluskepala anak kesayangannya)"

Mendengar kata ibunya,Latifa semakin meneteskan air mata,dan iapun langsung memeluknya dengan penuh kasih sayang,seraya memohon maaf atas kesalahan yang pernah ia lakukan sebelumnya.

Ibuuu maafkan Latifa,aku memang salah selama ini buu,,tapi semua ku lakukan ini bukanlah untuk membuatmu kecewa buu,izinkan aku untuk membuktikan pada ibu kalo aku pasti bisa jadi anak yang kau banggakan.

Berlinang air mata diantara ibu dan anak.Mendengar perkataan anaknya yang di iringi isak tangis,ibupun seraya memeluk Latifa dan berkata "yaa nak tidak apa apa" ibu yakin kamu adalah anak yang bisa membanggakan ibu dan bapak,teruslah berjuang demi masa depanmu ya nak,,ibu mencintaimu.

****

Ke esokan harinya, seperti biasa ba'da solat asar Zaidan kembali menelpon latifa,,untuk sekedar menanyakan kabar sang pujaan hati.

"Assalamualaikum ya Latifa "

( kata Zaedan membuka percakapan)

"Wa'alaikumussalam ya Zaedan "

"Gimana kabarmu ya latifa?" (Tanyak Zaedan)

"Alhamdulillah baik ya Zaidan" kamu gimana?" (Tanya Latifa sambil tersenyum)

"Sekarang kamu lagi apa faa"?

"Tadi aku lagi belajar" (jawab Latifa)

"Ohh yea faaa,,,keadaan keluarga di rumah gimana"?

"Alhamdulillah keadaan keluarga baik baik saja"

"Kalo keluarga disana, kabarnya gimana dannnn?" (Tanya Latifa penuh kelembutan)

"Alhamdulillah baik baik juga faaa?"

Dann? ada yang perlu saya sampaikan sama kamu mengenai hubungan kita?

(Kata Latifa dengan suara yang lemah lembut)

Dengan perasaan yang agak penasaran,Zaedan menjawab,yaa ada apa faa,kelihatannya serius banget,,

Gini dann…..kemarin pas kita nelpon itu,,ternyata pembicaraan kita di dengar sama ibu.

Denga nada terkejut Zaidan berkata "Ohh yeaa,terus ibu bilang apa faa?"

Ibu bilang,untuk saat ini saya di suruh agar lebih focus untuk sekolah dulu dannn,

Saya tidak di izinkan untuk memikirkan hal yang lain selain sekolah,apalagi memikirkan laki laki,saya harap kamu mengerti itu dannnn?

Dengan suara yang terbata bata dan seolah olah memaksakan ucapannya,Zaedan menjawab!!

Apa kah maksudmu kita akan mengakhiri hubungan yang selama ini kita jalani faa.

Bukan maksud saya seperti itu dannn,tapi saya mau kita membagi waktu untuk nelpon dan belajar,supaya di samping ada waktu kita belajar dan ada waktu kita untuk nelpon. (jawab Latifa)

Latifa kemudian melanjutkan perkataannya,saya harap kamu tidak kecewa dengan keputusanku ini dann?

Ini saya lakukan,supaya nantinya kita tidak menyesal dikemudian hari,karena melanggar nasehat dari ibuu.Aku hanya ingin jadi anak yang berbakti untuk mereka,aku tak ingin membuat ibu dan bapak kecewa. (jelas Latifa dengan hati yang gelisah)

Kalo memang itu keputusanmu,,,baiklah faa aku akan berusaha seperti apa yang kamu inginkan,walau saya merasa berat untuk lakukan itu.

Tapii insyaallah aku akan berusaha menerimanya!!! (jawab Zaedan)

Hampir 2 tahun hubungan Zaedan dan Latifa di laluinya,hanya lewat telpon dan kata kata ,tanpa pernah bertemu,namun hubungan mereka bisa tetap bertahan,walau kerinduan yang selalu di rasakan mereka berdua begitu mendalam.Meskipun begitu banyak konflik yang mereka berdua lewati,namun mereka tetap bisa melaluinya,karna cinta mereka di dasari dengan kejujuran dan kepercayaan. Bagi mereka hanya kejujuran dan kepercayaan yang bisa membuat suatu hubungan bisa bertahan lama.

Meskipun sekarang mereka jarang berkomunikasi,namun hal itu tidak membuat rasa cinta mereka berkurang,tapi dengan hal itu cinta mereka semakin kuat, karna mereka yakin bahwa Allah punya rencana terbaik demi bertahannya hubungan mereka.

Seperti perkataan imam al Gazali:

" Bahwa ukhuwah itu bukan pada indahnya pertemuan,tetapi pada ingatan seseorang terhadap" saudaranya di dalam doanya.

Perkataan dari imam al Gazali tersebut,menjadi pegangan dan pedoman mereka dalam menjalani hubungan.Untuk melahirkan sebuah cinta yang sejati yang insyaallah di restui sang maha cinta yaitu "ALLAH SWT"

Cinta mereka,bisa bertahan karena mereka berdua saling mencintai dari hati,bukan karena suatu pandangan,maupun kelebihan, yang ada pada diri mereka,akan tetapi cukuplah agama sebagai pengikat kasih antara mereka.

Janji Allah selalu mereka pegang dalam membangun misi cinta yang abadi yaitu :

" wanita yang baik untuk lelaki yang baik,dan sebaliknya"

Cinta antara Latifa dan Zaedan,bertahan dengan hanya melalui kata kata yang di ucapkan,

karna :

"Keasyikan cinta tidak datang hanya dengan memandang,akan tetapi cinta di capai dengan kata" kata yang mengasyikan



***TAMAT***

Gumi Paer Rambitan

Written By MAN 1 PRAYA on Rabu, 08 Oktober 2014 | 02.06

Oleh Halil Subagiono
Guru Bahasa Indonesia MAN 1 Praya


Sepi mencekam, kala kelam semakin angkuhnya menelan kepekatan malam. Sepintas lalu terdengar suara rumpun bambu riuh memuji alam. Angin berenang-renang di atas hamparan gora yang menguning. Gonggong pun ikut menyumbangkan suaranya yang merdu. Namun cekikan bocah bermain petak umpat tak pernah terdengar. Musnah tertelan gelombang kepekatan sunyi.
Aku duduk di sudut sepi. Di bawah langit, di kaki bukit, di sebuah desa kecil terpencil. Malam tidur lelap mendengkur diselimuti rasa damai bahkan suasana mati. Orang-orang telah kehilangan separuh napasnya dalam kehangatan karena kerja dalam keseharian tak pernah selesai. Malam kian mendengkur. Sepi kian ganas mencekam pekat dalam kesendirian. Tinggal kerdipan lampu-lampu minyak rumah penduduk di atas bukit nun jauh di sana terlihat bagai kerdipan bintang-bintang yang bertaburan di langit.
Aku masih duduk bertahan pada separuh malam di sudut sunyi. Di bawah langit, di kaki bukit, di sebuah desa kecil terpenpencil. Di desa inilah aku sandarkan segenap harap, letih, penat, dan gundah-gulana dari suasana hiruk pikuk kehidupan kota. Aku sengaja datang ke desa ini untuk menghabiskan masa liburan di rumah tua, milik perempuan tua yang aku panggil ninik. Suasana kehidupan di sini udaranya segar, jauh dari debu, polusi, dan erosi moral anak-anak negeri. Ditambah lagi dengan keindahan hamparan sawah ladang dengan padi gora yang menguning keemasan. Sungguh menakjubkan! Menambah rasa syukur dan kecintaanku kepada tanah air dan sang pencipta.
”Lale, sudah larut malam. Tidurlah! Tidak baik untuk kesehatanmu”.
Terdengar suara ninik lembut memecah suasana sunyi dan membangunkan lamunanku.
”Sebentar nik!”, sahutku pendek.
”Di luar dingin. Masuklah nanti kamu masuk angin!,” suara ninik terasa menekan dan terasa menyentuh hati. Aku pandang kelap-kelip bintang di kejauhan sana. Di antara gumpalan awan kelabu terlihat bulan sabit yang pucat pasi seolah enggan melangkah menyinari bukit-bukit bebatuan dan alam kehidupan desa. Terbetik seutas rindu pada mamiq dan inaq tercinta di alam sana. Aku makin meranggas dalam sunyi. Tubuhku kaku dan beku dibelenggu rasa. Enggan rasanya kakiku melangkah memasuki bilik kamar yang remang diterpa sinar lampu teplok. Enggan rasanya mataku terpejam melewati malam pertama. Namun, puji syukur tiba-tiba aku dengar sayup-sayup tembang asmaradhana yang menggoda jiwa dan rasa dari balik-bilik kamar yang terbuat dari anyaman bambu. Jiwaku kalah dan terkapar dengan larik-larik tembang asmaradhana yang begitu magis dan romantis berbau mitos. Akhirnya jiwaku terbang mengarungi samudera mimpi yang indah.
Pagi yang cerah. Tersembul di balik bukit sang cahaya raksasa dengan senyum manja dan memamerkan keangkuhannya. Air ke luar dari sela-sela bebatuan cadas terasa sejuk dan segar membasahi kulit. Percikan-percikan air memental di antara bebatuan cadas bagai irama musik gendang beleq. Nyanyian burung koak-kaok dan kecial kuning pun turut serta menambah indahnya suasana pagi.
Cahaya raksasa semakin angkuh dan bernafsu menapaki langkahnya menyibak kelabunya awan tanpa kejenuhan. Aku lemparkan pandangan ke atas bukit tidak jauh dari rumah ninik. Terlihat orang-orang berbondong-bondong mendaki bukit dengan membawa bekal sesajian yang dijunjung di atas kepala. Aku merasa heran, ada apa gerangan di atas bukit itu?, batinku.
”Ninik, terlihat olehku orang banyak berbondong-bondong mendaki bukit itu. Arak napi dengan bukit nike Nik?”, tanyaku tidak sabaran.
”Mereka itu akan berziarah ke makam di atas bukit sana? Hari ini hari Rabu tentu makam itu tidak akan pernah sepi dikunjungi kecuali selain Rabu, Lale?
”Araq napi dengan selain Rabu Nik?”
”Pamalik. Tidak boleh. Dilarang oleh mangku, Lale. Pernah suatu hari ada orang mencoba melanggar larangan itu seketika tiba-tiba tubuhnya terguling ke kaki bukit sampai ia meninggal. Kalau Lale penasaran, pergilah ikut berziarah dengan mereka. Hitung-hitung olahraga pagi,” ucap ninik disela-sela kesibukannya menyiapkan sarapan. Aku pun makin tidak sabaran, kuriositasku kian tak terbendung.
Bukit itu dapat aku daki, namun napasku terengah-engah turun naik elepator. Sesaat kemudian aku segera menyeruduk menerobos kerumunan para peziarah yang nampak sedang khusuk berdoa memohon ridho Allah atau sekedar untuk menebus nazarnya di hadapan makam itu. Adapula di antara mereka sedang mengikat suatu benda di antara untaian akar-akar pohon beringin sebagai simbol bahwa mereka pernah datang berziarah dan membuat nazar di makam itu. Apabila kelak telah terkabulkan nazarnya, maka wajib baginya datang untuk membuka simbol tersebut dengan membawa sesajian. Apabila tidak, konon akan mengalami kegagalan dalam menapaki kehidupan. Demikian cerita di antara mereka dengan penuh keyakinan.
Menurut cerita mereka juga, bahwa makam itu sangat keramat dan sakral. Konon ceritanya makam itu merupakan makam seorang wali dari tanah Jawa pembawa ajaran Agama Islam pertama di gumi paer Sasak. Wali tersebut bernama Wali Nyato, sehingga makam itu dikenal dengan sebutan Makam Nyato.
Tertebus sudah rasa penasaranku. Tidak lama kemudian aku meninggalkan makam itu. Namun entah mengapa tiba-tiba pandanganku tersandung pada sesosok tubuh pemuda tampan bersahaja sedang duduk termenung memandangi luasnya langit yang tiada ujung. Aku mencoba mendekatinya.
”Ampure, tiang menggangu. Ada apa gerangan dengan Sanak? Mengapa termenung seorang diri? Mengapa tidak bergabung dengan mereka? Lihatlah sejenak, mereka sedang bersuka ria menikmati sesajiannya.” Aku setengah merayu untuk mengusik kebisuannya. Aku heran dibuatnya. Dia tidak bergeming sedikit pun. Apakah dia bisu, tuli atau dia seorang pujangga yang sedang mencari inspirasi? Atau tabu baginya berbicara dengan seorang perempuan yang bukan muhrimnya? Akankah hal itu?
’’Ampure sekali lagi Sanak. Sudikah kiranya temani aku berbicara? Dan sudikah kiranya Sanak menemani aku turun sambil menikmati indahnya warna pagi ini? Ataukah aku terlalu lancang mengusik ketenangan Sanak?,” seruku tak mau kalah. Tidak lama kemudian dia menoleh dengan tatapan mata kosong dengan sedikit senyum. Dia mengulurkan tangannya. Aku pun mengerti nampaknya dia pun ingin berkenalan denganku.
*
Roda-roda waktu kian jauh menggelinding dan meluncur dengan dahsyatnya. Hari-hari berlalu dengan membawa sejuta cerita. Seiring dengan itu, aku dan dia kian akrab, tiada bersekat di hati, di seluruh tubuh, dan di setiap sel-sel dan denyut nadi.
Bahkan karekter dan gaya berbicaranya aku hafal dengan logat Sasak meriaq-meriqu yang kental.
Kini di desa ini, di gumi paer ini aku merasa terlindungi, merdeka dari sunyi. Sebab aku telah menemukan pijakan dalam sebuah pendakian. Sebuah pijakan yang sangat berharga dan tak dapat dinilai secara material. Pijakan itu adalah dia. Dia adalah sebuah bongkahan emas yang tak satu pun orang yang mampu melihatnya apalagi menatahnya menjadi sebuah benda berharga. Dia sesosok pemuda yang lugu, polos, dan amanah. Dia menghargai setiap orang berbicara dan menghargai pendapat sekali pun pendapat itu berbeda bahkan menyakitkan.
Di luar terdengar benturan-benturan kayu dengan irama teratur. Suara itu tidak asing lagi terdengar di desa ini. Suara itu adalah bagian dari kreativitas tradisi leluhur secara turun temurun yaitu keterampilan menyengsek. Di balik suara-suara itu, samar-samar aku dengar ninik memanggil. Aku intip lewat gorden jendela dan aku melihat dia. Dia sahabat baruku. Dia nampak sedang duduk bercakap-cakap dengan ninik di berugaq.
Tidak ragu aku bergegas ke luar dan sedikit senyum seraya melepas salam.
”Assalamu ’alaikum.”
”Waalaikum salam,” jawabnya singkat.
”Apa khabar Kak, kok tumben laloq? Araq napi?”
”Wah, merasa tersanjung aku dipanggil kak? Terima kasih ya? Begini, maksud kedatanganku untuk menyampaikan salam inaq
bahwa side tepesilaq datang ke rumah sekarang juga.”
”Araq napi Kak?,” jawabku dengan nada agak bergemuruh.
”Nenten araq napi-napi. Yah, sekedar silaturrahmi biasa. Tidak keberatan ’kan?”
”Keberatan sih tidak. Tapi mintakan aku izin dahulu pada ninik. Sebab ninikku agak galak meskipun dia demokratis dalam keluarga,” gertakku seraya melirik ninik.
”Pergilah! Tapi ingat jangan lama-lama,” jawab ninik penuh pengertian.
”Baiklah kalau begitu. Maaf ya Kak, tunggu aku sebentar. Aku mau padamkan api tungku, habis baru saja aku selesai belajar memasak dan tentu juga aku mau ganti pakaian. Sekali lagi tunggu nggeh?,” celotehku sambil berlalu.
Kami menelusuri jalan setapak bebatuan di antara bekas tapakan kaki kerbau yang becek. Di sisi kiri kanan sesak dengan semak belukar dan pohon saeng simbur berduri. Kami terus berjalan mengitari pinggang bukit, mendaki, turun lagi begitu seterusnya. Kadang-kadang timbul kecurigaanku. ”Jangan-jangan...? Astagfirullah! Bahwa berburuk sangka itu sesungguhnya dilaknat Allah,” batinku sambil berusaha menetralkan perasaan bahwa dia adalah laki-laki yang baik.
”Berapa jauhkah lagi rumahnya Kak?,” tanyaku sambil menyeka keringat yang
membanjiri pipiku.
”Di balik bukit itu. Kira-kira lagi 2 km,” sambil menunjuk ke arah bukit.
”Aku sudah tidak tahan lagi berjalan Kak. Capek!”
”Bersabarlah sedikit! Inaq pasti sudah tidak sabaran menunggu kita,” dia berusaha menghiburku.
Setengah jam kemudian tibalah kami di pekarangan rumahnya. Aku melihat seorang perempuan tua hampir sebaya dengan ninikku sedang duduk di depan pintu. Ada rasa ngeri dibenakku. Bola matanya nyalang membakar rasa. Mulutnya komat-kamit sambil mengunyah sirih dengan gigi hitamnya. Di tangan kirinya menggenggam secuil tembakau hitam. Rambutnya berantakan berwarna putih. Kainnya kumal. Lambung yang melekat pada tubuh keriputnya sudah pudar warnanya. Kurang lebih karekternya seperti lakon antagonis Dayu Sanur dalam drama Lautan Bernyanyi karya Putu Wijaya yang pernah aku tonton.
Aku amati sekeliling rumah itu. Lantainya dari tanah yang dilulurkan dengan kotoran kerbau dicampur dengan tumbukan halus daun ubi jalar. Sungguh menjijikkan menurut ukuran orang kota. Dinding rumah terbuat dari anyaman bambu tanpa ventilasi dan beratapkan ilalang. Ukuran tinggi rumah kurang dari dua meter dengan luas 4x8 m. Bagian samping rumah terdapat kandang kerbau dengan kubangan lumpur yang berbau kurang bersahabat. ”Subhanallah. Sesungguhnya Allah masih menjamin kesehatan mereka dan memberkahi umur panjang,” batinku penuh kekaguman.
Tanpa aku sadari segelas kopi dan sepiring gadung rebus sudah ada di hadapanku. Aku sebenarnya tidak ada selera menikmatinya. Bukan karena pemandangan dan bau kubangan yang menyengat. Namun selama ini tenggorokanku belum pernah disentuh oleh kopi dan gadung. Apa lagi kopi pahit dengan ampas yang mengapung tebal bagai genangan lumpur Lapindo. Demi menghargai dan menghormati tuan rumah, aku mencoba menikmatinya meski pun ada rasa terpaksa.
”Ooo, inikah dedare inges yang kamu maksudkan itu Karde?,” tanya perempuan tua itu dengan logat bahasa Indonesia yang agak kacau kedengarannya. Karde hanya tersenyum bangga. Perempuan tua itu mencoba menyelidikiku dari ujung kaki sampai ujung kepala yang dibalut jilbab. Aku berusaha menguasai keadaan dan rasa dengan mengembangkan sedikit senyum.
”Kelihatan kamu ini, bukan orang kami. Dari mana gerangan dedare inges?,” tanya penuh selidik.
”Mataram Inaq!,” sahutku spontan.
”Ooo, Mentaram? Berarti kamu dengan kote?”
”Nggeh Inaq!”
”Karde eni terune paling solah lek dese eni, bakti eleq dengan toaq, dait taat beribadah,” kata inaq Karde sedikit menyanjung.
Aku mulai timbul rasa heran dalam pikiranku. Apa maksud di balik perkataan perempuan tua itu? Karde bakti, taat? Di manakah letak taatnya itu? Kapan? Sejak aku mengenali dia tidak pernah aku lihat sholat? Lantas pengikut kepercayaan macam apa yang sangat dibanggakan oleh perempuan tua itu, sehingga anaknya dikatakan taat beribadah? Ataukah perempuan tua itu membohongiku? Kalau tidak, bisa jadi perempua tua itu, Karde, dan sebagian penduduk desa ini penganut ajaran Islam Wetu Telu? Sebab aku pernah membaca sebuah artikel tentang ajaran Islam Wetu Telu. Kurang lebih begini isi artikel tersebut:
Agama Islam Wetu Telu merupakan agama warisan leluhur. Inti ajarannya adalah pengenalan terhadap tiga di antara lima rukun Islam. Ajaran ini tetap berpedoman pada kitab suci Al-Quran dan Hadits serta ditambah dengan ajaran yang tertulis di dalam lontar yang berisi Ushul, Fiqh, dan Tasawuf. Namun banyak di antara tulisan dalam lontar itu sulit dipahami oleh masyarakat awam, maka pemahaman mereka pun tersesat atau salah tafsir sehingga bermuara pada penyimpangan dari hakikat ajaran Islam yang sebenarnya.
Rukun Islam yang diakui dan dijalaninya hanya syahadat, sholat, dan puasa. Sementara yang mengerjakan sholat dan puasa hanyalah kyai. Bagi mereka yang bukan berstatus sebagai kyai tidak wajib mengerjakan sholat dan belajar membaca al-Quran. Sebab segala urusan ibadah kepada Nenek atau Allah diserahkan sepenuhnya kepada kyai. Kyailah yang menanggung segala dosa pengikutnya dan yang menjamin mereka masuk Surga.
Berdasarkan uraian dari artikel itulah aku memperoleh gambaran tentang ajaran yang dianut perempuan tua itu. Sehingga aku berani memberikan kesimpulan dan menanyakan langsung perihal itu.
”Ampure inaq, napi maksud taat beribadah nike.”
”Yah, taat menjalankan syariat agama Islam,” jawab perempuan tua itu dengan raut wajah berubah seketika penuh amarah dan tersinggung. ”Ampure Inaq! Maksud tiang.... Maksud tiang.... .” Sebenarnya aku ingin meluruskan pembicaraan itu, tetapi perempuan tua itu secepat kilat memotongnya.
”Ooo, maksud kamu mau menghina ajaran warisan leluhur kami? Kalau itu tujuan kamu datang ke gumi paer Rambitan dan itu juga tujuan kamu mendekati Karde maka petaka akan menjemput kamu,” ancam perempuan tua itu dengan bahasa Indonesia yang lancar tanpa aku sangka-sangka.
”Nenten maraq nike Inaq. Bagiku, apa pun agama mereka, apa pun bentuk dan keyakinan mereka pada dasarnya sama. Akan tetapi, yang paling mendasar bagaimana setiap pengikutnya mampu mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari ajaran yang diikutinya itu untuk kemaslahatan umat manusia di jagat raya ini. Bukan untuk mencari dan membesar-besarkan perbedaan di antara kita.”
Nampaknya emosional perempuan tua itu sudah menurun. Rupanya dia menerima apa yang telah aku utarakan dan memahami jalan pikiranku. Namun di balik itu, dia berharap aku mau menerima keinginannya sebagai menantu. Tentu aku harus menikah dengan Karde putranya itu. Aku terkejut seketika. Akankah ada sebuah pernikahan pada usiaku yang masih dini? Apalagi aku baru saja duduk di bangku kelas XI Madrasah Aliyah? Tidak! Aku sudah tak mampu lagi membangun kata yang tepat dan logis untuk menjawab kecuali kata pulang.
Dalam perjalanan pulang ke rumah ninik, aku tak mau berbicara sepatah kata pun. Meskipun Karde berkali-kali meminta maaf atas kejadian itu. Memang secara jujur dan mengikuti naluri kewanitaan, aku simpati kepada pemuda desa itu. Aku pun tak dapat membohongi hatiku selama ini karena dialah tempat aku berpijak. Namun, mendengar pengakuan perempuan tua itu rasa simpati itu sirna bersama keringat dingin yang mengguyur sekujur tubuhku.
*
Senja bergayut di balik bukit. Merah lembayung hampir memudar di telan kelam. Segerombolan burung kenculit berterbangan ke luar dari gua bukit pergi mencari makan. Remang-remang pucuk pepohonan terlihat pucat. Dari kejauhan sayup-sayup terdengar suara adzan. Aku segera bergegas mengambil air wudlu. Aku sholat Maghrib dengan khusuk. Aku berdoa semoga Allah memberikan ketenangan. Setelah itu, aku mengaji. Tanpa sadar aku meneteskan air mata membasahi lembaran surat An-Nisa’ yang sedang aku baca. Tiba-tiba aku tersentak oleh suara daun pintu diketuk berkali-kali. Aku pun mendengar suara ninik memanggil bahwa di luar ada Karde. Aku tidak menghiraukan panggilan itu. Aku terus mengaji sembari menunggu waktu sholat Isya tiba. Akan tetapi, tiba-tiba muncul ideku. Aku segera ke luar mengenakan mukenah yang tak sempat aku buka.
”Kak, sebentar lagi waktu sholat Isya tiba. Apakah Kakak mau menemani aku mengaji dan setelah itu kita sholat Isya berjamaah?,” tanyaku penuh selidik.
”Aaa.... Anu..... nanti di rumah saja,” jawab Karde terbata-bata dengan raut wajah memerah.
”Kak, bagaimana aku akan menikah denganmu? Sholat tidak, mengaji tidak bisa. Apakah ini bentuk agama warisan leluhur yang Kakak banggakan, Islam Wetu telu itu?,” dakwaku untuk berusaha membongkar misteri di balik kata ’taat’ seperti yang telah dikatakan oleh perempuan tua itu. Tapi sayang, tiba-tiba Karde menangis.
”Bagaimana mulai besok ajarkan Kakak mengaji dan sholat.”
”Apa dan untuk apa?,” aku pura-pura tidak mengerti.
”Kakak ingin menyempurnakan agama Islam yang sesungguhnya,” katanya tulus. Aku terharu mendengarnya. Aku jabat erat tangannya, seraya mengucapkan alhamdulillah.
”Tapi, bagaimana dengan inaq?”
”Tidak usah dipikirkan. Kakak sekarang benar-benar sudah menemukan jati diri dan menemukan kedamaian hati yang selama ini terasa gersang dan gelisah. Semua itu karena kamu, seorang gadis tegar dan pemberani.”
”Alhamdulillah. Semua itu semata-mata atas kehendak Allah.”
Esok harinya sesuai dengan niat Karde, aku mengajarinya mengaji dan sholat di rumah ninik. Semua berjalan lancar sesuai rencana. Karde memiliki tingkat kecerdasan luar biasa sehingga dalam waktu tiga hari semua materi yang aku berikan mampu dipraktikkannya.
”Bagaimana kalau kita ke bukit itu untuk bersaksi di depan makam Nyato bahwa Kakak telah menjalankan syariat Islam dengan sempurna,” ajak Karde penuh kesungguhan.
”Ampure Kak! Sekarang kan hari Minggu, pamalik.”
”Mulai sekarang jangan kita percaya. Sepanjang niat kita untuk mengabdikan diri kepada Allah bukan kepada syaitan atau makhluk lain.” Aku pun menyetujuinya dan kami pun bergegas menuju kaki bukit.
”Alam dunia, gumi paer. Lihatlah aku, Karde kini telah menyempurnakan keimanan kepada nenek sak kuase. Aku ingin bersaksi. Terimalah tobatku dan terimalah aku di gumi paer ini dan di alam keabadian-Mu. Ya Allah de panjak de kaji! Selamatkan dan berkahi sisa-sisa hidup de kaji!,” kata Karde lantang menantang keridoan Ilahi.
Setelah menumpahkan segala rasa di hadapan makam Nyato, kami menuruni bukit dengan hati berbunga dan penuh nur Ilahi. Beberapa langkah Karde menapaki badan bukit tiba-tiba pijakannya terpeleset dan terguling-guling jatuh ke kaki bukit. Aku berlari mengejar tubuh yang terguling-guling penuh darah dan luka itu. Namun usahaku sia-sia.
”Kak, bangun! Bangun Kak! Ayo bangun! Jangan tinggalkan aku sendiri,” jeritku histeris penuh rasa bersalah.
”Maafkan aku, nggeh! Maafkan Karde! Aku sekarang sudah siap pergi. Aku... ak... uu....ber... berterima ka.... sih ke... pa... da...mu. Allahu akbar! Lailahaillallah!,” Karde dengan fasih mengucapkan asma Allah dan seketika itu pun dia terbang menuju alam keabadian.
”Innalillahi wainna ilaihi rojiun. Sesungguhnya kita milik Allah dan sesungguhnya pula kita akan kembali kepada-Nya. Inilah suratan takdirmu Kak. Semoga arwahmu mendapat tempat terbaik disisi-Nya,” rintihku pilu.
Setengah jam setelah peristiwa itu, entah siapa yang menghembuskan kejadian itu, masyarakat penuh sesak bagai burung gagak menggerogoti bangkai mengerumuni tubuh Karde yang sedang terkapar kaku. Perempuan tua itu nampak berdiri persis di sisi kiri tubuh Karde dengan sumpah serapah menghujani ulu hatiku.
”Kamu pembunuh! Pembunuh! Nine nyentet ndek taon diriq. Dedare sial. Awas akan aku balas kamu! Akan kamu terima ganjarannya.”
Perempuan tua itu meludahiku. Jilbabku dicampakkan dan diinjak-injak. Mencabik-cabik rambut, wajah, dan sekujur tubuhku. Aku tak mampu melawan. Walaupun aku melawan tak ada maknanya sebuah perlawanan dalam situasi seperti itu.
”Dedare sial dait ngontiq eni sengaja datang di gumi paer Rambitan untuk menghina kepercayaan leluhur kita. Sungguh terkutuk kamu dedare sial. Teganya membunuh anakku. Kita bunuh nine sial ini. Kita bunuh! Ayo! Mengapa kalian diam? Mari kita geret ke atas bukit. Kita penggal lehernya untuk menebus dosa-dosanya dan kita jadikan tumbal persembahan kepada arwah leluhur kita,” serunya lantang penuh amarah.
Aku gemetar ketakutan. Sekujur tubuhku terasa panas. Keringat dingin bercucuran mengalir deras di sela-sela luka tubuhku. Aku merintih tersiksa. Berduyun-duyun masyarakat membawa parang, tombak, keris, kelewang, dan potongan kayu. Aku tidak diberikan kesempatan berkata sekedar untuk membela diri. Aku benar-benar digeret seperti bangkai anjing ke atas bukit itu. Aku pasrah apapun yang akan menderaku. Caci maki, hinaan, dipukul, ditendang, didorong, digeret dengan kasarnya hingga aku jatuh terkapar mencium gundukan makam Nyato.
Di atas bukit, pada sebuah pohon beringin besar tangan, kaki, dan badanku diikat. Sekujur tubuh disiram air garam. Betapa perih menyayat. Setelah itu, mereka meninggalkan aku seorang diri dengan penghormatan terakhir aku diberi minum setengah gelas air makam Nyato agar arwah leluhur mereka mau menerima aku sebagai tumbal persembahannya.
Dalam kesunyian itu, antara sadar atau tidak, aku seolah-olah melihat Karde melambaikan tangannya sambil tersenyum berpesan, ”Jangan putus asa, tegakkan kebenaran. Dalam cinta ada kepercayaan dan dalam kepercayaan ada kekuatan. Allahu akbar.” Aku pun membalas senyuman itu. Seketika butir-butir darah merah di setiap lukaku berubah menjadi warna putih meloncat-loncat dan menari-nari penuh napsu dan gairah. ***
Praya, Bulan Kemerdekaan 2009
Halil Subagiono, S.Pd.
Guru MAN 1 Praya
Glosarium bahasa Sasak :
Ampure : maaf
Arak napi : ada apa
Berugaq : balai-balai
Dedare inges : gadis cantik
Dedare sial dait ngontiq eni : gadis sial dan jalang ini
Dengan kote : orang kota
Gendang beleq : jenis musik daerah Lombok/Sasak (Genderang besar)
Gumi paer : tanah kelahiran leluhur
Gonggong : sejenis jengkerik
Inaq : ibu
Karde eni terune paling solah lek dese eni, bakti eleq dengan toaq dait taat beribadah:
Karde ini terune paling baik di desa ini, bakti di orang tua, dan taat beribadah.
Kecial kuning : burung kecial warna kuning
Kenculit : kelelawar kecil
Koak-kaok : burung satwa hanya ada di Lombok
Kok tumben laloq : Kok sekarang kelihatan
Lale : gelar bangsawan perempuan suku Sasak Lombok
Lambung : sejenis baju adat suku Sasak
Mangku : pemimpin upacara adat suku Sasak
Mamiq : ayah
Meriaq meriqu : salah satu diantara 5 dialek dalam bahasa Sasak
Menyengsek : menenun
Nenek sak kuase : Allah Yang Maha Kuasa
Nenten maraq nike : Tidak seperti itu
Nenten arak napi-napi : tidak ada apa-apa
Nggeh : ya
Ninik : nenek
Nine nyentet ndek taon diriq : perempuan nakal tidak tau diri
Nyato : nyata
Sanak : panggilan akrab
Saeng simbur : desmodium Sp. atau sejenis pohon berduri dapat dijadikan bonsai
Side : kamu
Tiang : saya
Tepesilaq : diundang
Wetu telu : waktu tiga
Ya Allah de panjak de kaji : Ya Allah pesuruh hamba



GUMI PAER RAMBITAN

SINOPSIS


Aku merupakan gadis kota yang sengaja datang berlibur ke rumah neneknya di desa Rambitan. Dalam mengisi perjalanan hari-hari liburnya, Aku menemukan berbagai persoalan baru dan asing yang tak pernah dijumpai di kota. Memang realitanya warna kehidupan di kota dan di desa sangat jauh berbeda. Di satu sisi desa memiliki keindahan alam yang alami dan kental. Akan tetapi dari sisi lain tidak mau terlepas dari sebuah peradaban warisan leluhur dalam ikatan emosional baik dari aspek keyakinan, mitos, maupun persoalan kekuatan magis. Persoalan ini yang mengemuka lewat tokoh perempuan tua (red Inaq Karde) dan masyarakat peziarah makam Nyato.
Penomena tersebut menjadi sebuah tanda tanya besar dari tokoh Aku yang bermuara menjadi sebuah konflik. Aku bertemu dengan Karde seorang pemuda yang lugu, polos, dan bersahaja. Lewat kepolosan Karde lah sebuah jawaban terkuak tentang keyakinan religius sebagian masyarakat Gumi Paer Rambitan, yakni Islam Wetu Telu (Islam Waktu Tiga).
Islam waktu tiga menurut tokoh Aku dianggap sebuah penyimpangan dari syariat Islam yang sesungguhnya. Pendapat tokoh Aku ditentang keras oleh Inaq Karde karena hal ini sama halnya dengan penghinaan terhadap warisan leluhur. Namun Karde pun ikut berontak terhadap persoalan itu karena Karde sudah terlanjur menjalin rasa cinta kepada Aku. Karde sudah menemukan jati dirinya yang selama ini gersang. Terlahir menjadi manusia sempurna lewat kerja keras dan perjuangan Aku.
Wujud syukur Karde atas keimanan yang sudah mampu ditatah dengan sempurna berakhir pada sebuah kematian. Kematianya bukan karena pelanggaran sebuah mitos tetapi karena semata-mata ridho Ilahi. Namun Inaq Karde tetap bersikukuh bahwa semua petaka yang melanda Gumi Paer Rambitan termasuk kematian putranya karena kehadiran tokoh Aku. Akhirnya tokoh Aku harus menjalani hukuman dan dijadikan tumbal arwah leluhur mereka. Namun dengan kekuatan cinta dan keimanan tokoh Aku dapat bertahan hidup dan memiliki kekuatan baru. ”Dalam cinta ada kepercayaan dan dalam kepercayaan ada kekuatan.”

Halil Subagiono, S.Pd.

Rinduku Pada Ibu

Written By MAN 1 PRAYA on Senin, 06 Oktober 2014 | 17.41

Oleh Dedi Hujjatul Islam

Sumber Gambar : http://rohissmansasy.wordpress.com
Ibu, aku sangat merindukanmu

yang selalu ada disaat aku suka maupun duka

yang selalu ada disaat aku bertengkar dengan teman sebayaku waktu kecil

dan di dalam kemarahanmu itu terdapan nasihat untukku

engkau tidak pernah mengecewakanku ibu

tapi kini engkau tak bersamaku lagi

mengapa kita harus berpisah

mengapa tidak selamanya kita bersama

mengapa tidak maut yang memisahkan kita

aku ingin merasakan kebahagiaan

kebahagiaan hidup bersama kedua orang tua kandungku setiap harinya

perlu engkau ketahui ibu

aku merindukanmu

aku rindu saat negkau mamanjakanku

aku rindu saat engkau memarahiku ketika aku salah

aku rindu nasihat baikmu ibu

aku rindu, aku rindu padamu ibu

tapi kini aku sadari

ini semua memang sudah menjadi jalan hidupku

bahwa ini memang suratan dari yang kuasa

ALLAH maha tau yang terbaik untuk hambanya

aku akan bersabar, bersabar, dan bersabar

do'aku akan selalu ada untukmu ibu

Cinta Terhalang Organisasi

Written By MAN 1 PRAYA on Jumat, 14 Februari 2014 | 01.08



Karya : Lu’ Luul Jannatunnaim
 Siswi  kelas XII program bahasa  MAN 1 Praya

Mentari pagi mulai keluar dari peraduannya, menyapa para insan yang siap menjalani aktivitas seperti biasanya, begitu juga dengan Raihan. Cewek imut, baik hati tidak sombong, cantik, murah senyum dan pintar ini. Raihan adalah salah satu dari sekian banyak siswa yang beruntung bersekolah di sekolah yang terbilang cukup populer di Praya ini.
Seperti biasanya, sebelum berangkat sekolah Raihan selalu membantu ibunya bersih-bersih dan memanaskan mesin motor tua yang selalu menemaninya kemana saja dia pergi. Tidak seperti kebanyakan cewek zaman sekarang yang gengsinya minta ampun jika harus membawa motor tua kemana saja.
Raihan tetap bersyukur karena dia masih diberikan kesempatan untuk mengeyam bangku sekolah meski dengan fasilitas yang sederhana. Raihan juga adalah salah satu anggota OSIS. OSIS yang memang selalu identik dengan yang namanya aktivitas yang super banyaknya, sehingga jarang dari mereka harus menginap disekolah untuk menyelesaikan tugas-tugas mereka.
Namun Raihan tidak pernah mengeluh, meski jadwal kegiatannya selalu full setiap hari. Seperti hari ini, Raihan harus pagi-pagi sekali berangkat sekolah karena ada kegiatan OSIS nanti siang yang segala sesuatunya harus dipersiapkan dengan matang.
Raihan memijakkan kakinya di halaman depan sekolah yang belum terlalu banyak siswa yang datang, baru hanya beberapa saja yang datang. Raihan mengedarkan pandangannya kesekeliling penjuru sekolah, mungkin saja sosok yang dia harapkan menjadi pendampingnya sejak beberapa minggu terakhir ini muncul secara tiba-tiba di depan matanya.
Namun, sudah beberapa menit ia mengedarkan pandangannya, sosok itu belum juga ia temukan. Raihan melirik jam tangan yang menempel manis di tangan kirinya. “Pantes baru jam 6.15, mana mungkin dia datang sepagi ini” desah Raihan dalam hati.
Dengan langkah yang pasti, Raihan mengayunkan langkah kakinya menuju kelas XI-IPA di mana dia berkelas. Sesaat mata Raihan terfokus pada sepasang kupu-kupu yang terbang kian kemari dan hinggap pada salah satu bunga sepatu yang mulai mekar.
“Andai saja aku bisa selalu pergi bersama Angga kemanapun aku ingin seperti kupu-kupu ini, mungkin aku akan menjadi cewek yang paling bahagia di  dunia ini” batin Raihan tanpa mengalihkan pandangannya.
“Hayo lagi apa?” terdengar suara cewek mengagetkan Raihan
Raihan tersentak kaget “Ah kamu Rin,,, bikin aku kaget aja!”
“Lagian kamu sih, masih pagi udah bengong sambil jongkok… Ntar kalau kamu kesambet setan gimana?” ucap Ririn panjang lebar
“Siapa yang bengong,, aku lagi ngamatin sepasang kupu-kupu itu!” ucap Raihan membela dirinya
“Ohhhh…. Ya udah kelas yuk!”
“Ya….”
Raihan dan Ririn berjalan beriringan menuju kelas mereka yang tepat bersebelahan dengan kantin, jadi tidak akan repot untuk mereka jika mereka lapar. Ketika mereka baru ingin membuka pintu kelas, seorang cowok bertubuh tinggi tegap berlari kearah mereka.
“Raihan….” Teriak cowok itu yang jaraknya tinggal beberapa langkah lagi dari mereka.
Raihan sontak menoleh kearah suara. “Angga” ucap Raihan lirih. Entah kenapa hatinya langsung merasakan sesuatu yang aneh, suatu yang tidak seperti biasanya. Degup jantungnya pun berdegup lebih cepat dari biasanya…
Untuk sejenak ia terpaku melihat sosok Angga yang berjalan menuju arahnya. Diam-diam Ririn memperhatikan sikap sahabatnya yang tidak seperti biasanya itu, Ririn akhirnya mengerti mengapa akhir-akhir ini Raihan selalu tersenyum sendiri jika melihat sosok Angga.
“Rai!” ucap Ririn menyenggol tubuh Raihan untuk menyadarkannya
“Eh ya!” ucap Raihan kaku
“Kamu ngelamun ya?” bisiknya
Raihan hanya diam dan menggelengkan kepalanya pelan.
“Eh Rai,, nanti sebelum bel masuk tolong kumpul diruang OSIS ya!” ucap Angga setelah jaraknya hanya beberapa senti saja dengan Raihan
“Kok pagi banget sih kumpulnya? Bukannya nanti setelah bel istirahat ya?”
“Dimajuin! Soalnya masih banyak persiapan yang belum rampung!”
“Oh!!”
“Kayak kamu nggak suka aja ngumpul-ngumpul bareng dia!” celetuk Ririn yang sedari tadi hanya diam
“Maksud kamu?” ucap Angga mengerutkan alisnya
“Ah nggak apa-apa kok lupain aja!”
“Kamu apa-apain sih Rin!” ucap Raihan sinis
Ririn hanya tersenyum jahil, ia tidak berani berkata apa-apa lagi kalau Raihan sudah marah seperti itu.
“Ya udah Rai, aku masuk kelas dulu  ya!” ucap Angga pamit
“Ya, sampai ketemu di sana“
Angga tidak menjawab, ia hanya mengangguk dan tersenyum manis. Senyuman yang mampu membuat Raihan tersihir, yang juga mampu membuat degup jantungnya berdegup tak menentu akhir-akhir ini.
“Aku tau kok kalau kamu itu suka kan sama si Angga!”
“Hust… Ngaco kamu! Angga kan udah punya pacar!”
“Meski Angga udah punya pacar, tapi status pacaran itu nggak berarti kalau Angga itu nggak bisa cari cewek lain! Bapak-bapak yang udah punya anak 3 juga masih suka goda cewek lain!”
“Walaupun begitu, aku nggak suka jadi perusak hubungan orang!” ucap Raihan meninggalkan Ririn
“Kamu ngomong begitu karena kamu takut kan!”
Ucapan Ririn sontak menghentikan langkah kaki Raihan, ia memalingkan mukanya kearah Raihan. Raut wajahnya menggambarkan tak mengerti akan apa yang diucapkan Ririn barusan.
“Maksud kamu?” mengerutkan sebelah alisnya
Ririn tersenyum simpul “Masa lalu sayang” ucapnya menepuk pundak Raihan.
Raihan menundukkan kepalanya, entah apa yang dipikirkannya saat itu. Keheningan mendekap mereka, Ririn merasa bersalah telah berkata seperti itu.
“Are you ok?” tanya Ririn khawatir
Raihan tak menjawab, ia masih menunduk dan terdengar dengan jelas suara desahan nafasnya. Ririn hanya terdiam, ia tidak tahu harus melakukan apa. Hingga akhirnya Raihan mengangkat wajahnya dan tersenyum simpul memandang Ririn.
“Aku baik-baik saja kok! Dan sekarang aku harus kumpul nih! Ntar kalau kumpulin pr kimia tolong kumpulin aku juga ya, buku aku ada di tas!” ucap Raihan sambil berlalu
“Kamu baik-baik saja kan?” teriak Ririn
Raihan berbalik dan hanya tersenyum manis tanpa mengeluarkan sedikitpun kata-kata. Ririn merasa sangat bersalah dan menyalahkan dirinya, tapi ia yakin kalau Raihan pasti akan kembali ceria seperti biasanya.
***
Semua murid dan guru berkumpul menjadi satu di lapangan fuutsall, sebentar lagi tim fuutsall kebanggaan sekolah akan bertanding melawan tim fuutsall SMK 1. Seperti biasanya jika ada acara yang menyangkut sekolah, OSIS selalu sigap dan siap dalam segala hal.
Raihan terlihat sibuk mondar-mandir dari lapangan keruang OSIS, entah apa yang dia lakukan. Sedangkan Ririn hanya memperhatikannya dari kejauhan, kadangkala ia merasa kasihan melihat Raihan yang selalu sibuk dan seakan tidak ada waktu untuknya istiharat. Tapi bukan namanya Raihan jika cepat lelah dan menyerah.
Sebentar lagi pertandingan akan dimulai, semua murid yang jadi tim supporter siap dengan yel-yel masing-masing. Pertandingan berjalan dengan lancar, hingga tim lawan berhasil menjebolkan gawang tim kebanggaan sekolah. Dan sontak saja semua supporter berteriak kecewa.
Pertandingan terus berjalan dengan alot, hingga tim kebanggaan sekolah menderita kekalahan 4-6. Semua murid dan juga guru kecewa dengan kekalahan itu.
“Ahh apa nggak seru! Kalah di kandang sendiri apalagi besok di kandang lawan!” celetuk salah satu murid yang kecewa dengan kekalahan tim sekolah
Raihan hanya diam mendengar semua pendapat masing-masing temannya yang berbeda-beda itu.
***
Seperti biasanya jika tidak ada guru, Raihan selalu menyempatkan dirinya untuk membaca novel yang dipinjamnya dari Ririn. Raihan memilih untuk menyendiri di pojok kelas biar nggak ada yang mengganggunya membaca novel. Ririn yang baru kembali dari kantin bingung sendiri mencari-cari Raihan, diedarkannya pandangannya, tapi tetap saja ia tidak menemukan sosok Raihan.
“Eh Nan, liat Raihan nggak?” tanyanya ke Nanda yang lagi khusuk ngotak-atik laptopnya
Mengangkat wajahnya yang sedari tadi menunduk “Nggak tau, mungkin dibelakang atau perpus!” jawabnya singkat
Ririn menarik nafas berat mendengar jawaban Nanda yang sedikit acuh. Hingga ia akhirnya memutuskan untuk mencari Raihan disetiap pojok kelas yang sebenarnya tidak terlalu luas itu.
“Tuh dia ni anak!” melihat Raihan duduk dipojok belakang kelas
Ririn menghampiri Raihan yang sedang khusuk membaca novel.
“Disini ternyata kamu!” ucap Ririn setelah disamping Raihan
“Emang kenapa?” tanya Raihan tanpa menoleh
“Nggak ada sih, aku cari kamu aja!”
“Oh”
Ririn membuka snack yang tadi dibawanya “Mau nggak?” menawarkan Raihan
“Nggak makasih Rin”
Mereka kembali pada kesibukan mereka masing-masing, hingga Ririn kembali membuka pembicaraan.
“Eh ya kamu udah tau belum tentang Angga” setengah berbisik
“Angga?” menatap Ririn dan mengerutkan keningnya
“Ya Angga” jawab Ririn mantap
“Ada apa dengan dia?” menutup novel yang dibacanya dan membenarkan cara duduknya
“Dia udah putus sama Anya!”
“Kok bisa?”
“Nggak tau juga, tapi kata temen-temen itu sih mereka udah nggak ada kecocokan lagi. Terus kalau katanya Lala sih…..”
“Lala? Lala yang mana?” memotong ucapan Ririn
“Nggak usah motong pembicaraan orang dulu napa! Lala temennya Anya itu loh..”
“Oh terus?”
“Katanya sih Angga mau sendiri dulu, tapi kalau feelingnya Lala sendiri Angga itu lagi suka sama cewek lain”
“Oh gitu! Terus hubungannya ama aku apa?”
“Ya ini kesempatan kamu deketin Angga lah!”
“Nggak ah, aku nggak mau dicap sebagai cewek perusak hubungan orang. Lagian aku juga udah seneng bisa deket kayak gini sama Angga!”
“Deket? Deket gimana maksud kamu?” tanya Ririn tak mengerti
“Emang aku nggak pernah cerita ya?” ucap Raihan balik nanyak
Ririn menggelengkan kepalanya.
“Ya udah aku certain sekarang!”
Raihan menarik nafas panjang dan mulai menceritakan semua yang dialaminya beberapa minggu terakhir ini tentang kedekatannya dengan Angga, yang mulai membuatnya merasakan sesuatu yang berbeda dengan Angga.
“Jadi kamu udah deket sama dia?”
Raihan mengangguk pelan dengan senyuman manis menghiasi bibir mungilnya. Rasa yang berbeda itu kembali memeluknya dengan hangat, entah kenapa setiap kali ia mendengar nama Angga, cerita tentang Angga, ngomong bareng Angga, ia selalu merasa bahagia.
***
Hari-hari berlalu seperti biasa, namun sesuatu yang baru mulai menghampiri diri Raihan. Kedekatannya dengan Angga akhir-akhir ini membuat dirinya semakin memiliki rasa sayang untuk Angga. Hingga hari ini ia benar-benar tidak menyangka akan apa yang barusan dikatakan Angga. Angga menyatakan cintanya setelah cukup lama kedekatan ini ia jalani.
“Aku sebenarnya suka sama kamu Rai, mau nggak kamu jadi pacar aku?”
Begitulah kata yang diucapkan Angga tadi sore, ditaman depan sekolah dengan suasana yang cukup romantis. Hujan gerimis yang turun sedang dengan rona awan yang merah keorange yang membuat suasana sore itu menjadi romantis menurut Raihan.
“Aku… Aku nggak tau Ngga, kasih aku waktu untuk berpikir dulu!”
“Tenang aja Rai, aku juga nggak mau kamu nerima aku karena terpaksa, aku siap kok nunggu kamu sampai kamu mau nerima aku!”
Semua yang mereka bicarakan tadi sore masih saja terngiang di telinga Raihan. Kini Raihan bingung harus menjawab apa. Jika ia menerima Angga, berarti ia telah melanggar sumpah OSIS dan sudah menghancurkan hati Anya, tapi perasaannya tidak bisa disembunyikan lagi.
Tapi, kalau dia tidak menerima Angga, ia takut untuk mengecewakan Angga dan juga tentunya hatinya sendiri. Di tengah kebingungan hati dan pikirannya untuk menentukan keputusan apa yang akan diambilnya, hpny berdering yang menandakan ada telpon masuk.
Diraihnya hp yang ada diatas meja belajarnya, dilihatnnya nama yang tertera dilayar  monitor hpnya. “Ririn, kebetulan dia nelpon” batin Raihan.
“Halo… Ada apa Rin?” ucap Raihan menyapa duluan
“Halo juga, nggak ada apa-apa. Cuma mau nanyak kamu lagi dimana?”
“Dirumah, ada apa?”
“Aku kesana ya, ada yang mau aku omongin!”
“Ya udah aku tunggu!”
Raihan menutup telponnya, belum saja Raihan menaruh kembali hpnya, Ririn sudah saja nongol didepannya.
“Loh kok kamu udah di sini? Bukannya tadi baru mau jalan ya?”
“Hehehehe…. Aku udah ada didepan rumah kamu dari tadi tau, terus mau jalan kekamar kamu!”
“Oh, tapi lain kali jangan kayak gini lagi, bikin kaget aja! Eh ya, katanya mau ngomong, mau ngomongin apa?”
“Mau nanyak, kata temen-temen itu tadi sore kamu ditembak Angga ya?”
“Ditembak? Ya matilah aku kalau ditembak!” jawabnya sedikit bercanda
“Nggak usah becanda deh! Serius nih!”
“Ya ya, udah!”
“Terus?”
“Terus apa?”
“Kamu terima dia apa nggak?”
“Belum aku jawab!”
“Kenapa?”
“Ya begitulah!”
Pembicaraan mereka terus berlarut tentang Angga hingga larut malam. Mereka bertukar pendapat tentang pandangan mereka terhadap Angga, Anya dan teman-teman yang lainnya jika mereka tahu kalau Raihan dan Angga pacaran.
“Jangan dengerin kata orang ok! Yang jalanin itu semua kamu, bukan mereka! Jangan dijawab aku mau pulang, sampai ketemu besok pagi!” ucap Ririn akhirnya setelah perdebatan panjang mereka tentang Angga.
“Ya udah hati-hati!”
Ririn akhirnya pulang dan Raihan kembali larut dalam kebingungan hati dan pikirannya. Pilih Angga atau Organisasi. Raihan masih bingung ! Ia mencoba untuk tidak memikirkan hal itu, hingga ia terlelap dalam tidur indahnya.
***
Hari yang sudah dijanjikan Raihan untuk menjawab pertanyaan Angga tempo hari sudah tiba, sebenarnya ia masih bingung untuk manjawab apa, tapi Ririn selalu mencoba untuk meyakinkannya untuk menerima Angga.
“Aku tunggu kamu nanti pulang sekolah ya!” ucap Angga saat mereka berpapasan
Raihan tidak konsen mengikuti pelajaran dari jam ketiga sampai terakhir, ia terlalu gelisah dengan apa yang akan terjadi nanti.
“Udahlah tenang aja, semua akan baik-baik aja kok!” ujar Ririn menenangkannya.
Raihan mencoba untuk mengikuti saran Ririn agar tidak terlalu khawatir dan grogi, tapi tidak bisa. Hingga akhirnya bel pulang berdering, Raihan semakin tidak bisa tenang, jantungnya berdegup tak menentu, tangannya dingin sedingin es. Ririn hanya tersenyum simpul melihat kelakuan sahabatnya itu.
“Kamu itu kayak orang yang mau pergi olimpiade aja!”
“Udah ah diem aja!”
“Ya ya”
Raihan melangkahkan kakinya menuju taman belakang dimana Angga telah menunggunya didampingi Ririn, namun Ririn hanya sampai gerbang saja.
“Udah sana jalan! Ganbatte!”
Raihan mengangguk, ia berjalan mendekati Angga dan menyentuh pundak Angga dengan pelan hingga mampu membuat Angga sedikit terkejut.
“Eh Rai.. Ayo duduk!”
Raihan mengikuti kata Angga. Mereka berdua terdiam cukup lama hingga Raihan memberanikan dirinya untuk bicara duluan.
“Masalah yang tempo hari…..”
“Ya….” Penasaran menunggu ucapan Raihan selanjutnya
“Aku mau…”
“Yes!”
Raihan tersenyum melihat ekspresi Angga yang seperti anak kecil yang menang pertandingan bola.
“Tapi, kamu harus janji buat nggak kasih tahu siapa-siapa!”
“Janji!”
Hari ini menjadi hari yang paling membahagiakan bagi Raihan dan Angga, namun diam-diam Raihan masih menyimpan rasa takut, takut karena telah melanggar sumpah OSIS, takut dicap sebagai cewek penghancur hubungan orang dan takut jika suatu saat nanti ia harus dikeluarkan dari OSIS.
***
Hari terus berganti tanpa jeda, hubungan Raihan dengan Angga semakin harmonis, namun kedekatan mereka membuat teman-teman sekolah maupun Raka siketua OSIS menyimpan seribu pertanyaan dan kecurigaan.
Kecurigaan teman-temannya dirasakan oleh Raihan, namun apa yang harus dilakukannya, nasi sudah menjadi bubur. Kini Raihan tinggal menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya pada dirinya.
Benar saja, hari ini semua anggota OSIS diharuskan kumpul diruang secretariat OSIS tanpa terkecuali. Raihan merasa akan ada sesuatu yang buruk terjadi padanya, ia mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri dan selalu berpikir positif, namun tidak bisa. Raihan terus gelisah, hingga waktu yang telah ditentukan untuk berkumpul diruang sekretariat tiba.
“Sebelumnya saya ucapkan terima kasih kepada kalian semua karena sudah menyempatkan diri hadir dalam rapat hari!.... Langsung saja, hari ini kita akan membahas tentang masalah pelanggaran sumpah OSIS!” ujar Raka siketua OSIS membuka rapat.
Deg… Jantung Raihan berhenti berdetak satu detik dan berdetak tak menentu, fillingnya tentang hal ini akan terjadi benar-benar terjadi. Raut wajah Raihan yang tadinya seperti biasa langsung berubah pucat pasi, telapak tangannya dingin sedingin es dan jantungnya berdetak tak karuan.
“Kamu nggak apa-apa kan Rai?” tanya Ita yang duduk di sebelahnya
“Nggak apa-apa kok, cuma pusing sedikit aja!” bohongnya
Rapat terus berlanjut sampai tiba pada titik permasalahannya yang membuat Raihan semakin tidak tenang, sedangkan Angga yang sesekali dilirik Raihan terlihat tetap tenang seperti tidak akan terjadi apa-apa.
“Mungkin teman-teman sesama anggota OSIS juga merasakan apa yang seperti saya rasakan!” ucap Raka
“Kalau boleh saya tau itu apa ya pak ketua?” tanya Bagas pura-pura tidak tahu.
“Anda jangan pura-pura tidak tau seperti itu! Kita semua disini itu sudah tau yang sebenarnya!” ucap Raka melihat Angga dan Raihan bergantian.
Raihan menatap Angga yang sedari tadi diam dengan sekilas dan buru-buru menundukkan kepalanya.
“To the poin aja Raka!” ucap Sisil
Raka mengangguk mantap “Ok, to the poin aja yah! Kita semua disini sudah tau apa yang sebenarnya terjadi diantara kalian…” menggantungkan ucapannya dan milihat Angga dan Raihan bergantian.
“Saya rasa kalian berdua tau apa yang saya maksudkan, dan sekarang kalian akan memilih, apakah kalian akan tetap jadi anggota OSIS dan kalian hanya berteman atau diantara kalian ada yang ingin mengundurkan diri?” tanya Raka tegas
Raihan kaget mendengar perkataan Raka, kini ia harus memilih salah satunya, sedangkan ia masih ingin menjadi anggota OSIS dan tidak mungkin juga harus putus dengan Angga. Sedangkan Angga tetap saja diam, seakan ia tidak mau tahu dengan apa yang terjadi sekarang.
Tanpa terasa air mata mengalir membasahi pipi Raihan, ia tidak tahu harus melakukan apa. Semua anggota OSIS yang hadir hanya diam, diantara mereka belum ada yang berani angkat bicara, mereka masih menunggu keputusan Angga dan Raihan. Cukup lama kebisuan mencekam mereka, hingga akhirnya Raihan angkat bicara.
“Jujur, aku bingung harus memilih yang mana, ini adalah pilihan yang berat. Menjadi anggota OSIS, aku masih mau. Sedangkan harus menjadi teman biasa…” menarik nafas panjang “aku belum bisa!”
Raka melihat Angga “Terus bagaimana dengan anda?”
“Aku tidak tau, aku juga bingung!” jawab Angga singkat
“Anda itu laki-laki, jadi anda harus bisa memilihnya !” jawab Raka tegas
Baik Angga maupun Raihan tidak ada yang berbicara, mereka hanya diam. Raihan masih menangis sesenggukan, ia tidak bisa menjawab apapun.
“Jika diantara kalian tidak ada yang bisa menjawabnya, berarti salah satu diantara kalian harus ada yang mengundurkan diri!” ucap Raka akhirnya
Raihan semakin menitikkan air mata, ia sudah tidak sanggup lagi mendengar semua kata-kata yang keluar dari bibir sang ketua. Raihan ingin sekali rasanya keluar dari ruangan ini, namun ia tidak mampu, ia yang telah mengambil keputusan untuk menjalani hubungan ini dengan Angga dan sekarang ia harus berani menanggung semua akibatnya.
“Aku akan mengeluarkan diri dari keanggotaanku di OSIS! Dan aku minta maaf jika perbuatanku selama ini membuat kalian kecawa, sekali lagi aku minta maaf!” ucap Raihan akhirnya
Raihan berlari keluar meninggalkan ruangan secretariat. Angga ingin mengejarnya, namun dihalangi oleh Ita dan Bagas.
“Biarkan saja dia sendiri dulu, mungkin hal ini belum bisa dia terima!” ucap Bagas
Angga mengurungkan niatnya dan kembali duduk ditempatnya semula, namun jujur dari hatinya yang terdalam ia merasa bersalah. Ini semua sepenuhnya bukan salah Raihan, namun dirinya, karena dirinya lah yang lebih dulu menceritakan ini semua kepada Bima sahabatnya, dan mungkin saja ada yang mendengarnya.
Sedangkan Raihan masih terpuruk dengan ini semua, ia masih belum bisa menerima kenyataan yang sebenarnya. Meskipun ia telah rela melepaskan jabatannya di OSIS, ia juga harus rela melepaskan Angga, orang yang dicintainya. Namun Raihan tetap berusaha menerima ini semua dengan sabar.
“Mungkin ini semua sudah takdirku dan mungkin juga Angga bukanlah yang terbaik untukku. Aku tidak boleh terus terpuruk seperti ini, aku harus bangkit! Aku akan membuktikan kalau aku bisa tanpa Angga!” tekad Raihan.
Memang ini bukanlah hal yang mudah bagi Raihan, namun ia tetap harus menerimanya. Biarlah ia merelakan cintanya kandas oleh organisasi ini, asalkan semuanya kembali seperti sediakala dan tidak ada lagi kesalah pahaman diantara teman-temannya.
“Cinta tidak selamanya harus saling memiliki, namun cinta yang sejati adalah cinta yang diberikan tanpa berharap ia kan membalasnya.”

SEKIAN

PRAKARTA
Alhamdulillah akhirnya cerpen yang nggak terlalu panjang ini jadi juga, setelah kurang lebih 1 minggu peras otak untuk menempatkan kata-kata yang tepat dan merangkainya menjadi cerpen ini (lebay banget, banget aja nggak lebay… hahahay).
Aku nulis cerpen ini karena terinspirasi dari kisah teman-teman kita di OSIS, ini kisah nyata loh ! Meski hanya 80% nya sih, tapi nggak apa-apa yang penting jadikan. Thanks ya buat kalian yang udah memberikan aku inspirasi yang berharga ini. And sorry banget ya kalau aku nggak ngomong dulu sama kalian kalau aku udah ambil kisah kalian jadi cerpen aku.
Terus thanks juga buat si ketua OSIS, M. Zakaria karena udah baik banget kasih tau tentang masalah yang menyangkut OSIS meski hanya sedikit, tapi itu berguna banget buat cerpen aku ini. Terus buat temen aku yang aku samarin namanya jadi Angga, Anya dan Raihan, sory banget ya kalau kisah yang aku tulis ini agak melenceng dari kisah kalian yang sebenarnya, karena aku takut kalau aku tulis cerita yang aslinya, ntar identitas kalian ketahuan donk !
And yang terakhir,, aku sayang sama kalian semua!!!
 

 
Support : Perangkat Kurikulum 2013 | Materi PKn SMA-MA | Tips Blogger-Herbal-Gadget
Copyright © 2011. www.man1praya.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger